Kartini dan Kepengarangan

Share in top social networks, email, translate, and more!

‘Kepengarangan adalah tugas sosial’.

Manifes kepengarangan Kartini di atas membutuhkan bahasa Belanda yang bisa menjadi jalan tercepat untuk mencapai tujuan, karena dengan itu tulisannya dapat sampai pada alamat yang tepat, melalui jarak yang singkat. Tujuan di sini adalah pembentukan kekuatan, persatuan dan perikatan.

Manifes kepengarangannya ini dilanjutkan dengan kata-kata:

Sebelum kami sampai pada garapan itu, kami mencoba mendapatkan jaminan kerjasama, sekalipun hanya dari seorang saja di antara para pria yang terpelajar dan paling baik. Kami hendak menghubungkan pria kami yang terpelajar, mencoba mendapatkan persahabatan mereka di samping kerjasamanya. Bukan terhadap kaum pria kami melancarkan peperangan, tetapi terhadap anggapan kuno, adat yang tidak lagi mendatangkan kebajikan bagi Jawa kami di kemudian hari, dan juga dengan beberapa orang lain kami akan bersama-sama jadi pelopornya. (Surat, awal 1900, kepada Nyonya Ovink-Soer).

Manifes kepengarangan itu tak lain daripada manifes kesadaran batinnya tentang kewajiban-kewajibannya terhadap rakyatnya, bangsa dan negerinya.

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 205

Kartini menggunakan gaya makna kembar dalam tulisan-tulisannya. Contoh gaya tersebut dapat terlihat pada tulisan berikut ini:

Terlampau banyak keindahan yang dapat diperbuat di Hindia, baik bagi orang Eropa maupun wanitanya. Dengan kemauan baik sedikit saja mereka dengan mudah bisa dikasihi pribumi. Orang jawa tak mengenal terima kasih, kata orang. Duh! Kalau saja orang pernah dengar bagaimana “kaum mursal” ini menyatakan terima kasih dan cintanya yang mengharukan itu kepada orang-orang Eropa, yang memberikan cinta, tentu orang takkan bicara semacam itu.

Hanya dengan pengetahuan salah sebuah bahasa Eropa dan pertama-tama tentu saja bahasa Belanda, untuk sementara lapisan atas masyarakat Pribumi dapat dibawa ke arah kecerdasan, ke arah kebebasan jiwa.

Hendaknya di Nederland orang belajar bertanya dan merenungkan: “Bagaimana nasib Nederland tanpa Hindia?” dan sebaliknya Nederland mengajarkan pada Hindia: “Bagaimana nasib Hindia tanpa Nederland?” (R.A. Kartini: Nota)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 230

2 thoughts on “Kartini dan Kepengarangan”

  1. Sampai sekarang saya masih sulit membayangkan bagaimana mungkin seorang perempuan Jawa pada masa itu bisa berpandangan dan menulis seperti Kartini. Kalau hanya karena pendidikan, dan privilese kebangsawanan, kok kayaknya faktor itu belum kuat.

    [Jawab?]

    unclegoop menjawab:

    @Antyo,
    apa mungkin ada orang lain yang lebih pintar di belakangnya, Paman? :D

    *penganut teori mungkan-mungkin

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>