Saat Mereka Hadir di Rumah Kami

Minggu kemarin, Mama, Kakung dan Tata datang ke rumah kami. Semua dari keluarga Chinta, istri saya. Mamanya, Kakungnya dan Tata, adik Chinta.

Tentu saja kehadiran mereka memberikan warna yang berbeda di keheningan rumah kontrakan kami yang mungil itu. Keriuhan Tata tentu tak terbantahkan. Kakung yang lebih sering merenung, Mama yang membereskan semua pekerjaan rumah tangga.

Kehadiran mereka benar-benar membuat Chinta sumringah. Ia terlihat tak lelah menuruti kemauan Tata kemana pun ia mengajak pergi. Saat Chinta pulang kerja, celoteh Tata yang sudah menunggu di pintu menguarkan bahagia di diri Chinta.

Kehadiran Mama tentu sangat meringankan kami dalam menyelesaikan semua urusan rumah tangga. Karena beliau, rumah bersih, wangi, cucian pun tersetlika rapi.

Bagaimana dengan Kakung? Memang beliau tak banyak bicara, tapi kehadirannya telah menyulap ruang tamu kami. Ruang itu menjadi tempatnya merenung-renung. Kadang ia berdiri di teras, lama sekali mengamati pesawat terbang yang akan mendarat dan tinggal landas dari Bandara Soeta di kejauhan. Beliau pun lebih suka duduk-duduk diam dan sesekali menyesap tehnya.

Dan saat mereka pergi, maka semua tak sama lagi.

Singggg…. Keheningan pun begitu nyata melanda kami berdua. Memang Chinta yang pertama-tama merasakannya. Kehadiran adik, kakek dan mamanya sungguh berarti untuknya. Dan saat mereka semua pergi, ia pun menangis. Ada lubang kosong yang ditinggalkan seiring laju kereta yang membawa mereka pulang ke kampung sana.

Saya mula-mula merasa biasa saja, tapi lama kelamaan sunyi itu pun menerpa. Saat melihat kursi yang biasa diduduki Kakung kini kosong, ketika di kasur tak ada lagi Tata yang melonjak-lonjak sambil berteriak. Ugh… mendadak atmosfer memberat. Ada sesak di dada.

Memang mereka pulang ke kampung dan harus begitu untuk menemani Papa yang ditinggal di sana. Satu saat pun kami akan pulang dan berjumpa lagi.

Namun, jejak-jejak mereka di rumah kami rupanya membekas begitu dalam. Meninggalkan rongga-rongga kosong yang minta diisi. Sementara di lain sisi, kami harus tetap di sini kembali menjalani hari-hari.

Hal yang sama sebenarnya pernah juga saya rasakan, yaitu ketika dua adik saya datang ke rumah kami dalam rangka liburan. Tak lama mereka di sini, bahkan tak sempat saya mengajaknya jalan-jalan memutari seantero kota.

Pasca saya mengantar mereka pulang, juga naik kereta, maka ketika saya tiba kembali di rumah kekosongan ruang tamu itu sungguh mengerikan. Di situlah mereka tidur berdesak-desakan. Di sana kami makan bersama dan bercengkerama. Saat itu, saat bertemu dengan ruang tamu dan hanya kosong yang menyambut, maka mendadak keharuan menyeruak.

Ini hal baru bagi kami berdua. Saat rumah dikunjungi keluarga dan mereka harus kembali pulang, maka detik itu juga kami kehilangan. Kami membutuhkan waktu untuk kembali ke kondisi semula, saat hanya berdua bersepi ria. Kiranya perlu membiasakan diri dengan itu semua. Barangkali besok-besok kalau mereka datang dan harus mengantar pulang lagi, maka tak akan terasa seberat ini.

Mendadak saya teringat, bagaimana ya rasanya menjadi orang tua waktu pertama kali ditinggalkan putra-putrinya ini. Dahulu untuk bersekolah, kemudian untuk berkeluarga dan tuntutan kerja. Rumah mereka yang besar itu pasti terasa begitu sepi saat tak ada lagi yang membuat repot. Barangkali mereka lebih menderita lagi ditelan sunyi. Kendati senyum selalu menghiasi wajah saat putra-putrinya ini pamit pergi.

Ah, sudahkah kita siap menghadapi itu semua? :D

[adsenseyu1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>