Membaca-Mencatat

Satu kesempatan yang jarang terjadi saat saya dan Bapak bisa bercakap-cakap berdua. Lebaran kemarin, sudah lama memang, haha, barulah kesempatan itu tiba.

Maka, bila saya dan Bapak berbincang, ada saja peluang bagi beliau untuk menyusupkan petuah bijak bagi putranya ini. :D

Cara beliau menyampaikan nasihat, terkadang suka membuat saya tak sadar kalau ia sedang menasihati. Pesan itu, kadang seperti membuka dirinya sendiri tanpa diminta.

Kurang lebihnya begini pembicaraan kami berdua berlangsung.

“Mas, ingat ngga apa firman Tuhan yang pertama diterima oleh Nabi?”

“Soal membaca, kan, Pak?”

“Ya, benar sekali. Setiap saat, bukankah kita selalu membaca? Pada apa saja, di mana saja.”

“Nggih, Pak,” sambil saya manggut-manggut.

“Setiap saat kita pun membaca orang-orang, teman kerja, sesama penumpang bus, pengendara sepeda motor atau mobil di jalan, dan lain-lain, bukan?”

Saya diam saja, Cuma menganggukkan kepala, membenarkan.

“Setelah membaca, lantas kita mencatat. Menjadikan bahan bacaan itu menjadi modal kita dalam bergaul.”

Saya masih diam, lagi-lagi hanya mengangguk saja. Tapi dalam hati, saya membatin, “Masa iya, sih, begitu?”

“Masalah baru muncul, Mas, kalau kita mengungkapkan catatan kita itu pada pribadi yang kita baca. Bila yang kita ungkapkan catatan yang baik, maka tentu akan senang orang itu. Di sisi lain, bila yang diungkapkan itu adalah keburukan, bisa jadi orang itu akan marah. Tak semua orang suka diungkapkan keburukannya oleh orang lain.”

Saya bingung, yang saya ingat hanyalah terbukanya mulut saya perlahan-lahan seperti hendak berbicara, namun kemudian, tak lama, mulut saya itu pun tertutup kembali.

2 thoughts on “Membaca-Mencatat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>