Hujan Sore Kemarin

foto ini diambil saat saya berteduh menunggu hujan reda :D

Karena hujan, maka jalanan seperti saluran yang tersumbat. Kendaraan tak lancar jalannya, disebabkan oleh beberapa hal ini:

Air hujan masih turun rintik-rintik. Kendati tak sederas sebelumnya, namun cukup membuat basah. Apalagi bila harus berlama-lama di bawah hujan. Memang kenapa harus lama?

Macet adalah jawabannya. Entah kenapa saat hujan atau setelahnya, macet kerap kali terjadi.

Jarak antara roda depan dengan ban belakang motor lain hanya dalam hitungan milimeter atau cenderung menempel. Tak jarang, bahkan benturan terjadi.

Mobil lajunya tertahan-tahan kerumunan sepeda motor yang merubung seperti lalat. Pengemudi harus berhati-hati menempatkan mobilnya di antara sepeda motor agar tak tergores.

Genangan air di pinggir jalan karena selokan yang meluap menahan laju semua kendaraan. Semua memilih jalan yang tak tergenang, menghindari dari kemungkinan mesin mati.

Alat pengatur lalu lintas masih bekerja normal, tapi tak ada yang mematuhinya. Semua bersirebut hendak maju, tak ada yang mau mengalah.

Hasilnya, perempatan menjadi medan pertempuran perebutan ruang yang seru. Di mana Pak Polisi?

Bergantung

jembatan gantung di Cianjur

Itu kawan saya yang tampak sedang mengendarai motor

Awalnya saya membonceng, namun saat pertama kali melintas di jembatan gantung pakai bambu begini saya pun takut jatuh.

Singkat cerita, saya kemudian memilih untuk turun dari sepeda motor dan berjalan kaki.

Memang tak semengerikan adik-adik pelajar di Banten yang harus seperti Indiana Jones karena jembatan yang saya lalui masih tergantung sempurna dan bisa dilalui dengan mudah. Tapi, namanya takut pada ketinggian, tetap saja saya merasa waswas. :|

Pernahkah Anda melintas di jembatan semacam ini? Kalau belum, bawalah motor trail Anda dan nikmati pemandangan serta sensasi melintasi jembatan gantung semacam ini di Kec. Cibeber, Kab. Cianjur, Prov. Jawa Barat.

Selamat berjalan-jalan

 

Simbah dan Bapak

Dua orang itu sudah sama sepuh. Sejak 1960-an mereka sudah mengarungi lautan Jakarta. “Waktu itu belum seramai sekarang. Rumah saja masih beberapa, kebanyakan, mah, kebon.” Ujar Sang Bapak bernostalgia.

Bapak itu sehari-hari kalau pagi menjadi tukang ojek. Kalau siang entah apa lagi kesibukannya, saya pun kurang paham dan enggan bertanya.

Sekali waktu, pernah juga saya meminta bantuannya untuk menutup lubang angin di atas jendela. Lubang itu memang harus ditutup agar AC dapat bekerja dengan baik dan air hujan tak masuk ke dalam rumah.

Simbah, ya, istri Sang Bapak rasanya yang lebih berperan. Bila pagi ia menjual lontong sayur dan gorengan dibantu oleh putri bungsunya. Tak hanya itu, Simbah pun menyediakan galon air minum dan gas tiga kilogram.

Di tempat Simbah itulah, saya biasa membeli galon dan gas. Juga manakala Chinta tak masak, saya akan mencari lauk, nasi uduk atau lontong sayur ke sana.

Memang agak janggal kenapa Sang Suami dipanggil ‘Bapak’ sementara Si Istri dipanggil ‘Simbah’. Awal mulanya bagaimana saya pun tak tahu. Namun begitu, kalau menilik fisiknya, memang Simbah terlihat lebih tua.

Gigi sudah tanggal dari gusi, hanya menyisakan rongga mulut yang kosong, ompong. Hal lain yang terjadi, ia pun lebih suka menyebut dirinya sendiri dengan ‘Simbah’.

Pernah satu waktu, barangkali karena sudah malam, saat saya membeli galon ia keliru memberikan uang kembalian. Saya pun memberi tahu beliau, dan saat yang sama saya juga mengungkapkan kekhawatiran, mana tahu bila pagi dan banyak orang membeli sayur—sebuah hal yang sering terjadi—beliau juga salah memberikan kembalian kepada para pembeli itu.

Kawan, tahukah apa jawaban Simbah atas pertanyaan saya itu? Ia berkata, “Simbah memang sudah tua, sering salah, hehe. Tapi tak apa, kalau pagi itu, mereka yang beli baik, kok, selalu memberi tahu kalau Simbah salah kasih kembalian.”

Terkadang dalam doa ketika menghadiri perkawinan atau menulis ucapan di kado kita akan berkata, “Semoga bisa langgeng sampai kakek-kakek dan nenek-nenek.” Rupa-rupanya tak harus selalu begitu, kadang bisa juga seperti ‘Simbah dan Bapak’ yang selalu rukun dan bahu-membahu menjalani dan mengisi hari-hari tua mereka.

asal gambar