Nasihat Bapak

Keinginan yang tak terkontrol itu membuahkan bencana….

Awal mulanya adalah sebungkus mi instan. Ia tergeletak di dekat kompor dan pasrah menanti disikat. Tak jauh dari situ, sepanci sayur lodeh dari Chinta pun menatap menggoda.

Lalu kenapa pula saya harus memilih mi instan alih-alih sayur lodeh Chinta?

Nah, di sinilah bencana itu bermula. Seperti biasa, saat Chinta pulang mburuh ia akan bertanya, “Tadi makan apa, Daddy?”

Dengan lugu dan tanpa dosa saya pun menjawab ringan, “Mi instan.”

Wuah, sebuah jawaban yang seratus persen salah! Karena dengan jawaban saya itu, maka ia pun ngambek.

Selanjutnya, semenjak Bapak bisa sms-an, maka si penerima tak hanya saya. Terkadang, beliau pun mengirimkan sms kepada Chinta, ya istri saya itu. Singkat cerita, akibat keinginan saya menyikat mi instan itu, maka Chinta pun mengadu kepada Bapak, hahaha. Matek aku.

Wah, sudah berdebar hati ini kena marah Bapak, haha. Kendati beliau tak pernah marah, malah itu yang membuat saya khawatir. Bukankah orang yang tak pernah marah, kalau marah itu mengerikan?

Lalu kenapa Bapak mesti marah? Entah, ya, saya pun kurang tahu. Tapi menurut perasaan saya, beliau itu sayang banget sama si Chinta. Lah, saya sudah mengecewakan putri kesayangannya itu, wajar bukan bila beliau marah?

Lantas, apakah kemudian Bapak marah?

Syukurlah ternyata tidak.

Beliau dengan gayanya yang khas saat mengirim sms mengingatkan kewajiban seorang suami kepada istri. Hmmm… apakah kewajiban-kewajiban itu? Silakan disimak:

  1. Ngayani, artinya bisa mencukupi kebutuhan istri
  2. Ngayomi, artinya melindungi keselamatan dan harga diri istri
  3. Ngayemi, artinya selalu dapat membuat senang

Wehhh… ternyata begitu. Jadi biarpun saya sudah menikah selama hampir setahun, terkadang masih harus diingatkan lagi. Di akhir sms-nya beliau pun menulis “Apabila hal itu bisa dilakukan, insyaalloh keluarga akan damai. Sementara itu, kewajiban istri adalah mugen, tegen dan rigen. Artinya biar Chinta sendiri nanti yang tanya.”

Maaf, untuk kewajiban istri, saya tanyakan dulu ke Chinta, ya. Harap bersabar menunggu. :D

Gambar dipinjam dari sini

Hujan November

Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri?

Ini November dan hujan di mana-mana. Angin membawa air yang siap diturunkan kapan pun ia ingin. Menyentuhi genting, jatuh di kerikil, sebagian menyapu beranda kita. Daun bergoyang tak karuan karena hembusan angin, ia tak tegak justru luruh karena menahan beban air.

Aku melihat pundakmu pun tak teguh, seperti menahan beban. Ada yang kamu tahan-tahan tak hendak dilepaskan. Aku baru tahu manakala aku melihat matamu, di sana ada getir. Cermin hatimu itu menggambarkan puspas yang menderu-deru di kedalaman.  Ada air yang menggenang di sana, seperti ragu akan sesuatu yang dulu bergejolak di kedalaman hatimu. Dulu… dulu sekali.

Kita berdua tahu, tak ada yang abadi. Kita sama tahu, bahwa hati pun satu waktu bisa berubah. Dan tahukah kamu? Aku pun merasakan hal yang sama.

Aku ragu padamu.

Air yang jatuh di kerikil pecah menjadi serpihan, kali ini memercik ke pot bunga. Bersama dengan itu, air di matamu pun mengalir turun, melintasi pauh pipimu. Membentuk lintasan, meninggalkan bekas, semacam jejak.

Tahukah kamu, saat itu ada badai di hatiku. Saat aku melihat air matamu, maka detik itu pula aku merapuh. Kala cinta menjadi bara, sekadar tangan pun tak kuasa menahannya. Derita kita, mulai tak tertanggungkan.

Dalam diam masih kamu perhatikan jalannya air yang tadi memercik di kerikil. Ia bersatu dengan yang lain, mulai mengalir masuk ke dalam selokan. Helaan nafasmu pun terdengar, seperti ada yang hilang bersama dengan lajunya air.

Sudah lama kita menjalaninya, rasa yang dahulu pernah bergelora ini. Sedari itu, kita bersama melangkah, sudah cukup lama memang. Sampai… sampai kemudian kita sadar, langkah kita, jejak yang kita buat, lintasan yang kita bikin adalah sebuah cara. Semacam  perangkat untuk menyembuhkan luka di hati kita masing-masing. Ia menjadi semacam obat.

Tapi bagaimana bila obat itu sudah tak mujarab lagi?

Barangkali kemudian kita akan melangkah. Kita berdua tahu, bahwa cinta akan selalu datang dan pergi. Meski, kita tak pernah tahu siapa yang akan pergi hari ini. Melangkah menjauh….

Hei, ada lagi sebutir air yang hinggap di genting. Lalu sebutir lagi, kemudian lagi dan lagi. Kapan hujan ini akan berakhir? Barangkali ia akan terus turun sampai tak bersisa lagi di atas sana, hingga puas langit menangis. Biarlah, asal semua ada di jalurnya. Berjalan di jalur genting dan tak menyapa masuk ke dalam rumah.

Seperti halnya kita. Manakala kita membiarkan waktu menuntun kita di jalan yang sudah ditentukan, mungkin aku akan semakin paham. Mengerti bahwa kamu milikku dan tentu saja aku milikmu. Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri? Atau tetaplah menjadi milikku. Namun jangan ragu, jangan pernah ragu atau aku yang akan melangkah pergi meninggalkanmu.

Hujan mulai reda, meninggalkan daun yang masih bergoyang ditiup angin. Perlahan namun pasti, air di daun itu pun mulai hilang. Dan lihatlah, daun itu kini mulai tegak. Harap jangan pula dilupakan, bagaimana tanah basah yang ditinggalkan mulai mengeluarkan aroma memabukkan. Ini aroma purba yang kembali menyeruak, menembusi syaraf-syaraf di hidung kita. Menggerakkan syaraf di otak dan memerintahkan hati untuk kembali.

Aku tahu bukanlah hal yang mudah untuk tetap membuka hatimu. Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri? Atau mau bersama teman-temanmu? Namun, apakah kamu yakin dengan mereka.

Mereka yang justru seperti harimau lapar dan akan memakanmu. Menertawakan semua sedihmu, merusakmu, merusakmu.

Sekali ini saja, cobalah kembali bersekutu dengan waktu dan biarkan ia menyembuhkan sakit di hatimu. Barangkali saja ia bisa menjadi jamu penawar luka, menimbulkan tawa.

Hei, kau lihatkah pelangi? Itu, di sana. Agak jauh di ufuk. Cobalah bergeser sedikit dan nikmatilah permainan warnanya. Sudahkah kau lihat?

Maka ketika kamu merasa takut dan bayangan melingkupimu. Percayalah, bahwa itu pertanda kalau ada cahaya di dekatmu. Lupakan saja semua gelap itu, carilah seberkas sinar yang akan menuntunmu. Menunjukkan padamu sebuah jalan keluar, karena tak ada yang abadi apalagi sekadar hujan di bulan November.

Sebuah terjemahan bebas dari ‘November Rain’ punya Gun ‘n Roses. Silakan dinikmati sembari mendengarkan lagunya :P

Gambar dari sini

Saat Bapak Mengirim SMS

sms-an

Sudah cukup lama kami–putra-putra Bapak–meminta beliau untuk membawa hape sendiri. Sekali waktu, bahkan saya berikan hape CDMA yang sudah jarang saya pakai untuk beliau.

Sengaja saya haturkan hape itu karena pengoperasiannya mudah dan tidak membutuhkan keterampilan yang aneh-aneh seperti hape-hape canggih lainnya. Sayangnya, bahkan untuk yang mudah pun beliau enggan untuk belajar.

Kebetulan, si ragil—adik terakhir—saat itu masih ada di rumah. Jadilah ia yang selalu menjadi perantara antara saya yang berada di perantauan dengan Bapak. Dengan demikian masalah komunikasi pun selesai.

Seiring waktu, adik pun harus pergi meninggalkan rumah untuk kuliah di kota lain. Nah, di sini mulai muncul masalah. Memang ada adik kedua yang masih berada di rumah, namun ia sibuk sendiri dan Bapak pun sepertinya enggan meminta tolong padanya, haha.

Lantaran terpaksa, akhirnya Bapak pun mulai menggunakan hape. Saya kurang tahu bagaimana si ragil memberikan pelajaran menggunakannya. Saya hanya bisa membayangkan betapa sulitnya dua orang itu saling bertukar pikiran. Satu sisi menganggap itu hal yang sangat mudah, di sisi lain malas belajar sudah menjangkit seperti radang.

Singkat cerita, Bapak pun mulai bisa menggunakan hape. Lucu sekali kala pertama saya menerima sms dari beliau. Banyak sekali singkatan yang tak lazim dan membuat saya tak mengerti apa yang ingin dikatakannya.

Agar mudah dan sekalian belajar, saya pun menyarankan kepada beliau agar tak usah menggunakan banyak singkatan. Alhasil, beliau sudah bisa mengirimkan sms dengan benar, sangat benar malah. Hal ini terjadi karena semua kata oleh beliau ditulis lengkap. Lebih jauh, beliau juga menggunakan gaya bahasa yang ada di buku-buku pelajaran.

Kedua hal itu tak urung membuat bibir saya menyunggingkan senyuman. Kendati saya tak berani untuk tertawa terlampau lebar. Bagaimana pun, bukankah saya harus menghargai usaha beliau? :D

Sekarang, beliau lebih rajin mengirimkan sms daripada saya. Setidaknya satu hari sekali beliau akan mengecek kondisi putra-putrinya ini. Satu hal yang selalu membuat saya tersenyum-senyum sendiri adalah: beliau selalu membubuhkan ‘Bpk’ di akhir sms-nya.

Gambar meminjam dari sini

Memahami Masa Muda

Keriuhan Masa Muda

Sangat menarik apa yang disajikan oleh National Geographic Indonesia bulan Oktober kemarin. Di sana, dalam sebuah artikel dijabarkan bagaimana perkembangan otak memengaruhi (secara besar-besaran) perilaku seorang remaja.

Dari kajian pencitraan yang dilakukan terhadap otak, diperoleh sebuah grafik perkembangan yang lambat dan tidak merata. Hal ini menawarkan penjelasan yang menarik tentang mengapa remaja melakukan hal bodoh: mereka berbuat seperti itu karena otak mereka belum selesai tumbuh.

Apabila dibandingkan dengan orang dewasa, remaja cenderung tidak terlalu menggunakan area otak yang memantau kinerja, mengenali kesalahan, menyusun rencana dan menjaga fokus.

Semakin kita memahami hal-hal yang membuat masa ini unik, masa remaja semakin terlihat sebagai masa yang sangat fungsional, bahkan adaptif. Memang inilah yang diperlukan agar manusia mampu menghadapi transisi hidup pada masa remaja.

Beberapa hal yang lazim terjadi pada masa remaja adalah:

-          Pencarian ketegangan yang bisa memicu adrenalin

-          Mengambil risiko sebagai akibat penilaian lebih tinggi terhadap imbalan

-          Lebih suka bergaul dengan teman sebaya,

Penjelasannya, semua remaja menyukai hal baru, terlebih yang bisa memicu adrenalin. Risiko suka diambil sebagai bentuk meraih sebuah imbalan. Sebagai contoh mudah, remaja akan berhati-hati saat mengendarai motor sendiri, namun ia akan mulai serampangan apabila berkendara bersama dengan teman-temannya. Nah, pencarian atau pergaulan dengan teman sebaya di sini digunakan oleh remaja sebagai bentuk menerima tawaran kebaruan yang diperoleh dari sesama remaja dibanding keluarga sendiri yang sudah dikenal baik. Hal lain, sisi positif dari semua kegemaran remaja tersebut adalah sebagai bentuk investasi di masa yang akan datang.

Keunikan masa remaja ini berasal dari gen dan proses perkembangan yang lolos seleksi alam. Proses ini telah terjadi selama lebih dari ribuan generasi. Di sini dimainkan peran penting selama masa peralihan yang krusial ini: menghasilkan makhluk yang siap secara optimal untuk meninggalkan rumah yang aman dan memasuki wilayah tak dikenal.

Penelitian menunjukkan bahwa saat orang tua berkomunikasi dan membimbing anak remajanya secara tegas tetapi tidak terlalu ikut campur, tetap akrab tetapi membiarkan mereka mandiri, anak-anak mereka pada umumnya lebih sukses dalam hidup.

Masa ini adalah masa panjang saat area otak depan yang berkembang belakangan ini masih luwes, saat mereka menjadi matang perlahan-lahan.

Dirangkum dari National Geographic Indonesia, Oktober 2011, ‘Otak Nan Rancak’ Hal 24-47

Artikel daring dapat dibaca di tautan berikut

[adsenseyu1]