Tolonggggg

Kick Andy edisi 16 September 2011 kemarin menampilkan sosok-sosok murah hati di balik acara Tolonggg! dan Minta Tolonggg. Bagi saya, ini menjadi tema yang sangat menarik. :D

Dulu saat reality show ini masih diputar, secara tak sengaja saya suka menontonnya. Iya, tak sengaja karena biasanya saya asal memindah-pindah saluran televisi dan bertemu dengan acara ini.

Tak perlu diceritakan, bukan, bagaimana acara ini berlangsung? Barangkali semua sudah pernah menontonnya. Hanya, saya kurang tahu, apakah teman-teman juga mengalami apa yang saya alami? Yaitu air mata mengambang di kedua mata, manakala acara mendekati akhir.

“Ah, kamu cengeng, Goop!”

Hahaha, biarlah saya cengeng, tapi memang begitu. Entah kenapa, air mata, kendati tak berderai-derai mudah sekali keluar ketika saya terharu oleh entah apa.

Detil di tiap cerita tentu saya tak ingat, tapi beruntunglah di episode Kick Andy kemarin ada beberapa yang diulang. Dan haru, kembali menyeruak saat menyaksikan ibu penambal ban bersedia dengan suka rela mengantar seorang nenek dari Semarang sampai ke Salatiga.

Ibu itu, yang tiap hari berpenghasilan sekitar 40 ribu dari usahanya menambal ban di pinggir jalan, harus merelakan uangnya untuk menolong nenek tua. Nenek yang di situ diceritakan sedang tersesat dan tak tahu jalan pulang. Untuk upaya itu, ia harus menutup tokonya barangkali sampai seharian. Sebuah hal yang tak luput ditanyakan oleh Andy, “Apakah Ibu tidak merasa rugi?”

Dan apa jawabnya? “Saya tak tega kalau melihat perempuan yang sudah tua menangis. Saya lupa untung dan rugi. Kalau sudah niat menolong, berapa pun uang yang diperlukan akan saya berikan”

Kurang lebih demikian secuplik dialog antara Andy dan Ibu Penambal Ban—maaf, saya lupa namanya.

Bagaimana ibu itu begitu percaya kepada nenek tua dan tanpa pikir panjang bersedia menolongnya? Terbuat dari apa hati si ibu?

Demikian pula tokoh-tokoh yang lain dihadirkan silih berganti. Mereka dengan ikhlas menolong. Ada yang memberikan beras dan membelikan minuman teh hangat. Ada yang menuangkan minyak tanah dagangannya kepada sosok lain yang membutuhkan.

Tolongggg! tanpa basa-basi mengajarkan kembali kepada kita bagaimana tolong-menolong dilakukan. Tanpa mengharap pamrih, hanya berdasarkan niat tulus ikhlas untuk menolong.

“Mereka yang kaya adalah yang berani memberikan apa yang dimilikinya untuk orang lain yang membutuhkan.” Demikian kata produser acara Tolonggg! Tercermin benar bagaimana kekayaan hati para tokoh. Tak seberapa yang mereka berikan, tapi mungkin itu seluruhnya dari yang mereka miliki, bahkan barangkali tak ada lagi yang tersisa untuk kebutuhan mereka sendiri.

Jakarta pun menawarkan banyak obyek yang bisa kita tolong. Misalnya pengemis di perempatan lampu merah. Namun, hei, tunggu dulu. Berdasarkan perhitungan yang cukup rumit, setiap kali lampu menyala merah dan mereka beraksi, sekitar dua ribu yang mereka dapatkan. Apabila dikalikan dalam sehari, maka total yang mereka peroleh adalah sekitar enam puluh ribu. Ini menjadi profesi mereka, sebab dengan penghasilan itu, di kampung mereka kaya raya. Tak jarang, ada pula yang menipu belas kasihan penderma dengan memakai perban yang dibubuhi noda darah bohong-bohongan, sehingga tampak memprihatinkan.

4 thoughts on “Tolonggggg”

  1. ngasih receh ke pengemis di Jakarta ini bikin dillema, Kang. Kadang saya kasihan, apalagi kalo yang minta anak-anak lucu. Tapi demi melihat orang tua mereka yang cuma duduk-duduk sambil kipas-kipas di pinggir jalan di sekitar lampu merah itu, saya jadi urung iba.

    Meh!

    [Jawab?]

  2. @ Chic
    Walah…
    anak-anak itu pernah diceritakan dengan begitu membuat prihatin oleh Leila S Chudori
    berkisah mengenai mata anak-anak itu :cry:

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>