Sekadar berbagi pengalaman perjalanan saya ke Bangkok.
Persiapan dimulai dari pembuatan paspor yang bisa dilakukan di kantor imigrasi mana pun. Tentu saja diawali dengan penyiapan syarat-syarat untuk paspor yang bisa dibaca di sini. Proses pembuatan paspor yang normal akan memakan waktu dua sampai dengan tiga minggu dengan biaya kurang dari tiga ratus ribu rupiah. Namun, apabila ingin segera selesai, proses bisa pula dipercepat dengan menambah jumlah rupiah dan berhubungan dengan orang yang tepat.
Apabila proses pembuatan paspor sudah selesai, maka dilanjutkan dengan penyiapan mata uang asing. Sungguh perlu kita memiliki mata uang negara tujuan agar nanti tak kerepotan di sana. Benar memang ada fasilitas penukaran uang di bandara-bandara negara tujuan, namun harganya sungguh jauh berbeda dengan di Money Changer.
Selain mata uang negara tujuan, saya pun menyiapkan mata uang yang bisa diterima di mana saja, yaitu mata uang dolar Amerika. Rupanya itu saja belum cukup, karena kita pun masih memerlukan mata uang negara sendiri untuk berbagai keperluan selama perjalanan dari tempat tinggal kita ke bandara. Termasuk keperluan tersebut adalah untuk membayar Airport Tax. Keperluan yang berkaitan dengan uang adalah untuk pembayaran visa dan fiskal. Beruntunglah saya karena negara tujuan berada di kawasan ASEAN, sehingga bebas visa.
Di Bandara
Yang perlu diperhatikan di sini adalah barang-barang bawaan kita. Semua terjadi karena barang-barang tersebut harus melalui proses pemeriksaan yang tentunya cukup ketat di sana. Sekadar saran, janganlah terlampau repot dengan barang bawaan kita. Maksudnya sebisa mungkin barang-barang yang dibawa dijadikan dalam satu atau dua tas yang kompak dan barang tersebut harus mudah dikeluar-masukkan.
Tempo hari saya sendiri membagi barang bawaan saya ke dalam dua tas. Sebuah tas untuk pakaian dan komputer jinjing, sebuah tas lagi untuk dokumen/surat yang penting. Sungguh perlu tas khusus untuk dokumen ini mengingat nantinya akan sering ditanyakan, sehingga terus menerus akan dikeluar-masukkan dari tas agar terjaga pula keamanannya. Sengaja, saya tak memasukkan barang ke bagasi, karena kunjungan saya cuma sebentar, barang bawaan pun tak banyak dan saya tak mau repot nantinya menunggu dan mengambil bagasi tersebut.
Mengenai pemeriksaan di bandara-bandara, ada beberapa perbedaan dari tiga bandara yang saya lalui. Di Bandara Sukarno-Hatta, saya hanya tak boleh membawa air minum. Karena itu, minuman yang saya bawa dan belum sempat saya minum cepat-cepat saya habiskan.
Di Malaysia, bandara KLIA kurang lebih sama dengan di Jakarta. Semua barang bawaan saya bisa lolos dengan mudah.
Apa yang saya sesali di bandara ini ialah karena saya tak membawa minuman atau botol air minum. Sebabnya di Malaysia saya kesulitan menemukan penjual air minum seperti di sini. Apabila ada, maka itu adalah minuman yang memabukkan dan tentu saja tak akan saya beli.
Sebenarnya di Malaysia ada air minum gratis yang keluar dari tempat semacam pancuran (airnya memancar ke atas) yang menyulitkan saya untuk meminumnya. Entah kenapa saya kikuk. Akan lebih mudah sebenarnya bila saya membawa botol air minum lalu mengisinya dengan air minum gratis itu. Sayanya botol yang saya bawa sudah dibuang di Jakarta.
Di Thailand berbeda lagi proses pemeriksaan yang saya alami. Di sana ada ketentuan untuk tidak membawa cairan atau materi lain yang volumenya lebih dari 100 ml. Di Bandara Svarnabhumi itu saya harus merelakan parfum dan satu lotion yang diminta oleh pihak keamanan bandara.
Sekadar saran, apabila memang harus membawa barang-barang saat akan pergi ke luar negeri, maka bawalah secukupnya agar penyitaan barang seperti yang saya alami tidak terjadi pada teman-teman semua. Akhirnya selamat berjalan-jalan ke luar negeri dengan aman dan nyaman.
Salam.



Terimakasih atas berbagi pengalaman.
[Jawab?]