Tempo hari saya sudah bercerita mengenai kendala yang dihadapi pada masa-masa persiapan pernikahan sampai dengan menjelang hari H. Pada kesempatan ini, saya akan bercerita mengenai dekorasi dan kostum.
Saya dan Auntie ternyata pada akhirnya tidak hanya menikah berdua. Pasalnya pada saat yang sama, orang tua Auntie menginginkan ia menikah bersamaan dengan kakaknya. Jadilah dua pasangan pengantin yang akadnya berbeda, namun waktu resepsinya bersamaan.
Apa kendala dari hal ini adalah harus menyatukan pikiran empat orang. Terbayang bukan, bagaimana susahnya? Sementara untuk menyatukan pikiran dua orang saja sudah susah, apalagi ini empat orang. Silakan jikalau teman-teman ingin membayangkan, saya beri tempo dua detik.
Sudah membayangkannya? Baik, mari kita lanjutkan lagi.
Ungu. Itulah tema yang dipilih oleh Auntie dan kakaknya. Sementara itu, para pengantin pria hanya menerima pilihan itu dengan masygul. Reaksi pertama adalah, “Hah! Ungu?” Barangkali teman-teman pun berekasi yang sama, bukan?
Terlebih dahulu, mungkin perlu diceritakan dalam pernikahan adat jawa, empunya gawe adalah pihak istri. Di sisi lain, pihak suami hanya melakukan upacara ngunduh mantu. Ini berarti resepsi besar dengan undangan banyak dari kedua pihak yang berasal dari berbagai kalangan berada di pihak cewek. Sementara itu, cowok hanya akan mengundang tetangga dan saudara saja.
Konsekuensi lanjutannya ialah pihak suami akan manut pada acara di pihak istri. Singkat kata, dipilihlah ungu sebagai warna tema dalam resepsi pernikahan kami itu.
Masalah muncul lagi, karena dua orang yang menikah, maka ungunya pun mesti berbeda. Kakak memilih warna ungu yang lebih tua, sementara warna ungu muda untuk Auntie. Selanjutnya, warna-warna ini pun merembet ke keluarga dua pasang pengantin.
Dengan latar belakang tersebut di atas, maka terlebih dahulu harus dicari bahan pakaian dengan warna-warna itu. Tentu saja, bahan untuk pengantin berbeda dengan bahan untuk keluarga. Beruntunglah kami, karena Solo memiliki segudang pilihan untuk pemilihan bahan ini. Jadilah Auntie ke Solo bersama dengan kakaknya dan memilih warna dan bahan.
Selanjutnya untuk pengantin pria. Tentu saja warna baju pun harus menyesuaikan. Baju atasan yang dinamakan beskap itu harus dicari terlebih dahulu. Terkadang perias pengantin yang dilengkapi dengan kostum sudah memilikinya. Namun, untuk warna-warna tertentu yang tidak lazim, harus dicari sendiri. Sebuah kerepotan lagi, bukan? Muncul pertanyaan, “Di mana mencarinya?” Untuk hal ini, Jogja adalah jawabannya. Di bagian dalam dari Pasar Beringharjo dapat ditemui aneka rupa peralatan pengantin. Di sanalah kami temukan baju pengantin itu. Kali ini, saya ikut mencari untuk mengukur dengan badan saya agar pas.
Akhirnya didapatlah baju dengan ukuran yang pas, namun warnanya tidak sesuai untuk saya. Warna yang ada justru cocok untuk kakak pengantin pria. Jadilah saya mesti bersabar untuk mendapatkan warna yang pas. Dengan cara memesan, maka satu bulan kemudian saya dapatkan baju untuk saya.
Oiya lupa, bahan yang tadi diperoleh Auntie lalu dibawa ke penjahit khusus dan harus dijahit terlebih dahulu agar menjadi gaun pengantin. Hal yang sama juga berlaku untuk bahan keluarga masing-masing mempelai. Semua harus sabar sampai dengan memeroleh hasil jadinya.
Apakah baju saya dan Auntie bagus jadinya? Oiya dan saya malah belum bercerita soal dekorasi. Insya Allah akan dilanjut kapan-kapan manakala sempat. Soalnya, saat ini saya sedang sibuk bermain game strategi. Jadi bersambung saja, ya?
Sampai ketemu lagi.




lah, bukannya honeymoon malah sibuk main game strategi?
[Jawab?]
Untuk kaum lajang: tabahlah. Pernikahan itu bukan hanya urusan dua orang. Kadang pengantin malah sekalian jadi mediator
Selamat ya, Bung! Selamat menjelajahi peta baru kehidupan.
*jangan lupa kartografi*
[Jawab?]
hahaha….inspiring unc…. one of my fav colour tuh… ^^v
[Jawab?]
omahmu adoh dol, ngos2an akuw, hahaha
[Jawab?]