Kita tak pernah tahu akhir sebuah hari….
Manakala pagi hadir di hari baru, hal yang sering saya perhatikan adalah status teman-teman baik di mukabuku maupun twitter. Dari sekadar ucapan, “Selamat Pagi,” sampai dengan status yang berima semacam, “Kamis, menangis; Rabu, kelabu; Minggu, merindu.” Selain itu, tentu saja masih banyak yang lain.
Saya perhatikan, selain ucapan salam banyak juga yang menaruh harapan di pagi itu. Hal ini ditandai dengan kata-kata, “semoga” yang berada di awal status.
Hari yang baru, pagi baru, matahari baru, benarkah baru?
Kalau hari ini pun sama dengan kemarin, pagi ini juga diawali dengan bangun tidur dan matahari pun yang kemarin juga dan sekarang kembali bersinar. Lalu apa yang baru?
Harapan, kiranya itu yang diperbaharui setiap hari. Rencana yang disusun, janji yang harus ditepati hari ini. Mungkin juga pekerjaan yang itu-itu, yang sebisa mungkin dihindari, namun ujung-ujungnya ketemu juga. Rupanya itu pula yang menggerakkan saya dan kita semua setiap pagi, setiap hari baru datang.
Dan biarlah apabila hari baru tak menawarkan sesuatu yang baru, namun benarkah begitu?
Terkadang pagi kita cerah menyenangkan dan berbinar kegembiraan. Tapi tak jarang begitu sampai ke tempat kerja semua itu berubah. Mungkin juga tak harus sampai ke tempat kerja, manakala kita baru saja melangkahkah kaki beberapa tindak dari rumah kita pun, bisa saja sebuah hari berubah dengan cepat. Menjadi sendu, murung dan galau.
Lalu apa yang mesti dilakukan?
Menikmati waktu, seperti embun yang ada di ujung daun. Sejenak, sekejap. Sebelum kemudian jatuh, luruh ke bumi.
Bagaimana harimu tadi? Apakah menyenangkan, atau adakah yang merisaukan hatimu?
Dan matahari pun mula-mula tak tampak, hanya semburatnya yang memulas langit dengan warna-warnanya yang lembut dan semakin menguat. Seiring waktu, ia pun muncul di ufuk timur, posisinya semakin tinggi dan terang meremang, membuka cakrawala dan meraja. Pada satu titik, setelah tiba di puncak, ia pun tergelincir ke barat. Kembali cakrawala menyembunyikannya perlahan-lahan, ia pun undur diri, menyisakan lagi sinar lembut seperti senandung lembayung. Pergi.
Hari baru pun akan kembali datang, mengintip malu-malu. Semoga.
ntah kenapa saya lebih suka senja dari pada pagi
[Jawab?]
klo aq lebih suka malam hari dari pada pagi ataupun sore hari,,,
karna segelap apapun malam, iya akan selalu berusaha menciptakan ketenangan dan kedamaian bagi setiap orang,,
dan seperti itulah “aq” saat ini..
[Jawab?]
pagii…hu um rasanya bener2 semangat!! nggak ada yg bs menebak akan apa yg mereka lakukan hari itu..kalo senja…aku nggak sering bisa menikmati
plg kantor selalu habis maghrib huhuhuhuw
[Jawab?]
selamat malam uncle
[Jawab?]
selamat siang uncle…. ^^ selalu suka cara unc menyampaikan sesuatu…
[Jawab?]
emmm,, “Kamis, menangis; Rabu, kelabu; Minggu, merindu.” .. sisanya, senin,selasa,sabtu ?? apa yaa
[Jawab?]
Setidak’a dgn ada harapan yg d ucapkn d pagi hari, dpt mberikn smangat tuk mnjalani hari smpai gelap nuju tidur mlam….
—-
@nagavota
hehe, betulll
asal tak ada aral melintang di tengah-tengah, ya?
[Jawab?]