Di Tengah Laju Kereta Ekonomi Progo

Syukur yang hadir tak terduga-duga….

Banyak moda yang bisa saya pilih untuk perjalanan bolak-balik saya dari Jakarta ke kampung halaman. Sebut saja kereta api, bus dan pesawat terbang.

Kereta akhirnya menjadi pilihan karena berbagai pertimbangan. Pertama-tama menyangkut harga tiketnya. Apabila dibandingkan dengan pesawat terbang, tentu saja fluktuasi harga tiket kereta paling logis bagi saya yang penghasilannya pas-pasan begini. Belum lagi bila mengingat frekuensi pulang kampung saya yang relatif sering, tentu akan sangat tak bijak bila saya memaksakan diri menggunakan pesawat terbang.

Sejatinya, antara kereta api dan bus tak jauh berbeda harga tiketnya. Lebih lagi mengingat dengan bus saya bisa turun dekat dengan rumah. Namun, menggunakan bus berarti juga mengkorupsi waktu sejenak. Pasalnya ialah, keberangkatan bus yang lebih awal dari kereta dan pada saat masih berada di jam kantor tak memungkinkan saya untuk mengejarnya.berjejal ada yang bisa tidur

Sawunggalih, akhirnya menjadi pilihan utama saya. Kelas bisnis menjadi pertimbangan perjalanan yang relatif nyaman. Belum lagi mengingat harga tiketnya yang terjangkau dan mendukung keberlangsungan kondisi keuangan saya, maka kloplah apabila kereta ini yang saya pilih.

Mula-mula tidak ada masalah menggunakan Sawunggalih dua kali sebulan. Namun di sisi lain, kebutuhan untuk pulang tiap minggu sekali karena satu dan lain urusan harus mengubah keputusan itu. Lagi-lagi soal biaya yang menjadi alasannya. Akhirnya, saya pun harus berdamai dengan diri saya sendiri, mengorbankan kenyamanan dan memilik kereta yang lebih murah.

Lantas apa pilihan saya? Tentu saja kereta kelas ekonomi menjadi jawaban kebutuhan saya tersebut. Progo atau Bengawan adalah kereta ekonomi yang bisa saya pilih untuk mengantar saya kembali ke rumah. Fakta lain yang mendorong memilih kedua kereta tersebut ialah, banyak teman saya yang setiap minggu sudah terlebih dahulu menggunakannnya. Akhirnya, jadilah saya memilih Progo bersama dengan teman-teman saya. Kami berombongan memesan tiket dan naik kereta tersebut.

Di Progo, kursi berhadap-hadapan. Di satu sisi gerbong, bangku yang ada saling berhadapan tiga-tiga, sementara di sisi gerbong yang lain dua-dua. Jarak antar bangku begitu sempit, sehingga kami, para penumpang harus beradu lutut. Saya bersyukur pada akhirnya karena bersama-sama dengan teman yang sudah kenal, sehingga bisa diatur bagaimana caranya agar kaki kami bisa leluasa di tengah kesempitan tersebut.

Karena bangku yang komposisinya dua-tiga tersebut, maka lorong di antara deretan bangku dan memanjang dalam gerbong pun menjadi sempit. Biarpun begitu, tetap saja tak menghalangi penumpang yang tidak kebagian kursi untuk berdesakan di lorong itu. Ada yang berdiri, namun ada pula yang duduk bersempit-sempit. Saya bahkan menjadi saksi seseorang yang bisa melipat badannya sedemikian rupa, sehingga bisa masuk di kolong kursi yang sempit. Ajaib itu orang.

mestinya ini toilet, tapi bisa juga terisi, mau bagaimana lagi? :DHal lain yang menjadi catatan ialah perjalanan kereta yang terhenti-henti. Hampir di setiap stasiun kereta berhenti dan menaikkan atau menurunkan penumpang. Belum lagi bila berpapasan dengan kereta lain, maka ekonomilah yang harus mengalah. Kondisi yang sama juga terjadi bila ada kereta dari kelas di atasnya yang hendak menyalip, maka Progo harus patuh memberikan jalan.

Keberangkatan dari Jakarta pukul 21.00 sudah terhitung malam, ditambah pula dengan lambatnya laju kereta, maka sukseslah sampai di tujuan manakala siang meraja. Kendati begitu, rupanya banyak yang menarik perhatian saya sepanjang perjalanan. Terutama manakala kereta sudah mendekati tujuan. Saya yang biasa naik Sawunggalih, tak pernah memerhatikan keadaan sekitar. Kegelapan yang berkuasa menjadikan saya malas memandang ke luar jendela dan memilih tidur.

Kondisi yang berbeda saya temukan manakala saya naik Progo. Menjelang stasiun tujuan sudah terang tanah. Saya bisa leluasa memerhatikan hamparan sawah yang menghijau di luar kereta seperti permadani terhampar. Sungai-sungai yang berkelok dengan air yang penuh hampir tumpah pun tak luput dari pemandangan saya. Begitu juga saya baru tahu apabila dalam perjalanan ada sebuah terowongan yang harus saya lewati. Semua itu, tak saya dapat apabila menggunakan Sawunggalih.

Di tengah hiruk pikuk dan berjejalnya penumpang di dalam gerbong Progo, maka pemandangan di luar tubuh kereta itu seakan-akan menjadi penawar. Menawarkan kelapangan dan obat bagi mata yang sehari-hari penat dengan macet. Progo, menawarkan sesuatu kepada saya, sesuatu yang layak disyukuri.

[adsenseyu1]

One thought on “Di Tengah Laju Kereta Ekonomi Progo”

  1. menejer mestine numpak garuda!

    ah, lupa. sori kang kemaren nggak bisa datang. lagi ada kesibukan parah. selamat, kang! hakdush-hakdushnya gimana? :p

    hahaha, ada dehhh, oke gapapa kok, jangan lupa doanya, yak!

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>