Sudah ada tiket KRL ekonomi seharga seribu rupiah dalam genggaman. Angka yang tak terlampau mahal karena ‘hanya’ seharga segelas minuman rasa cokelat kegemaran yang mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan. Harga itu, bila dibandingkan dengan tiket lain, katakanlah Transjakarta jelas jauh lebih murah. Barangtentu manusiawi, bukan, bila girang karena mendapatkannya?
Stasiun Cawang sungguh sederhana dibandingkan Juanda, Sawah Besar, Mangga Besar dan seterusnya sampai ke ujungnya di Stasiun Kota. Di Cawang, rel yang ada tak melayang di atas tanah. Sebaliknya, justru berada di bawah Jalan MT Haryono.
Rel melekat di atas tanah, penumpang justru berada di tempat yang lebih tinggi agar mudah masuk ke kereta. Di dekat loket penjualan tiket, bahkan penumpang harus melintas di atas rel yang melintang untuk berpindah dari jalur II ke jalur I dan sebaliknya. Kondisi ini sungguh membahayakan apabila pada saat yang sama ketika penumpang menyeberang ada pula kereta yang melintas.
Siang itu tujuan saya adalah ke arah Stasiun Kota, sehingga harus berada di jalur II atau di sisi timur. Di sisi ini, relatif lebih sepi daripada peron sisi barat yang dipenuhi penumpang arah ke Bogor atau Depok. Apabila di sana ada puluhan orang, sebaliknya, di sisi saya ini tak lebih dari 10 orang. Hal lain, apabila di sana hiruk pikuk pedagang dengan aneka ragam barang jualannya, di sini justru tak tampak satu pun.
Namun, rupanya saya tak tepat benar bila di peron sisi ini tak ada pedagang. Faktanya ada kios-kios kecil tersembunyi karena menempel di sisi luar pagar pembatas peron. Sementara apa yang tampak dari dalam hanyalah meja-meja kecil yang menempel di pagar dengan kursi tanpa penyangga punggung. Letak deretan kios itu sejajar dengan pagar dan menempel, sekilas hanya tampak deretan meja kecil itu saja.
Bagaimana hukum jual beli, yakni pertukaran uang dengan barang terjadi di sana?
Semua dilakukan melalui lubang kecil. Rongga itu terbentuk karena pada persilangan jeruji pagar yang membujur dipotong sebagian persis di persilangan dua jeruji yang melintang. Sambil berjalan sepanjang peron memerhatikan kios itu, saya bertanya-tanya. Pernahkah terjadi seorang pembeli lari setelah mendapatkan apa yang dibelinya? Karena toh si pedagang tak bisa mengejar akibat terhalang pagar.


