Seberapa jauh kita mengenal diri kita sendiri? Tak perlu untuk hal yang mengagumkan semacam menandai kapan datang kesedihan dan kegembiraan. Sebenarnyalah, kendati dua hal tersebut nyata bedanya, namun terkadang kita suka abai menandainya.
Manakala kesedihan itu datang kita terlampau larut, seakan tak ada lagi hari esok. Pun bila kegembiraan hadir di tengah kita, membuat lupa pada persoalan lain. Janganlah heran bila suatu saat nanti kita lupa saat ditanya kapan kamu begitu sedih dan kapan demikian gembira? Sejatinya memang dua hal itu berganti-ganti dan terjadi begitu saja, bukan?
Karena hal itu pula, maka saya tak bosan-bosan mengutip apa kata Aulia Muhammad. “Tawa bisa terbit dari fajar airmata.” Artinya dua hal, kesedihan dan kegembiraan rupanya bisa saling mengisi, berganti-ganti. Cuma kapan itu terjadi, yaaa terjadi begitu saja, lama kemudian baru kita ingat atau ingin mengingatnya.
Tempo hari, saat saya mendengarkan radio, ada saya dengar istilah ‘menggeser ingatan.’ Barangkali ini semacam upaya untuk membuka dan menutup ingatan kita. Mengenang kembali hal yang telah lampau bisa sesederhana menggeser rak, menempatkan ingatan-ingatan itu pada posisinya yang betul, sehingga terpampang apa yang ingin kita ingat, kita kenang.
Namun, mudahkah melakukan itu? Karena bukankah kita punya apa yang dinamakan ‘lupa’. Dan karena lupa itu pula, maka tanyalah pada mereka yang sudah sepuh betapa besar upaya mereka untuk sekadar mengingat-ingat.
Bicara soal ini, saya pun teringat pesan dosen saya zaman dulu. “Jadilah seperti sungai, membawa yang ringan dan meletakkan yang berat.” Konteksnya saat itu adalah untuk mendorong kami belajar mata kuliah beliau. Bukan hal yang mudah apa yang beliau ajarkan, namun dengan perkataannya itu, sedikit meringankan beban belajar kami.
Karena persoalan ringan itu pula, maka saya mengenal diri saya dalam persoalan yang remeh temeh belaka. Lagipula kenapa pula kita bicara yang berat-berat? Hahaha.
Begini, saya hanya ingin berbagi bahwasanya saat memakan mi instan, saya cenderung memilih mi rebus ketimbang mi goreng. Entah kenapa, pasca makan mi goreng pasti diare menyapa saya.
Selain itu, saya juga tak suka sate padang. Entah kenapa diare pun datang dan saat bersendawa sungguh tak enak rasanya. Entah bumbu apa yang dibubuhkan penjualnya, sehingga sendawa itu bisa begitu.
Mungkin perut saya pemilih, maka saat makan pun suka pilih-pilih. Dengan memilih-pilih itu, saya sebetulnya juga sedang memeriksa hidup saya sendiri. Karena seperti kata orang bijak, “Hidup yang tak diperiksa tak layak dijalani.”
Aih!
gambar mi ayam ceker, bisa dicari di magelang, enak lho



Tentang mie instan tapi gambarnya mie ayam. Dan cerita memakan mie instan, preambule-nya panjang benar
Selamat makan Paman
[Jawab?]
@sandalian
hahaha, ini semacam postingan ngga nyambung, mas bro
begitulah
[Jawab?]
udah pernah nyoba mi mbah mo belum? wah, dijamin bakalan jadi persoalan yg g remeh temeh. karena emang rasanya top tenan.
[Jawab?]
yaaaaa ga nyambung…
eh sate padang enak tauuuuuu!!!
aduuh mi cekernya meruntuhkan iman, lapeeeerrrr…
[Jawab?]