Ibu
Tiba-tiba terdengar suara, “Ibumu mana?” Dari seorang wanita. Adegan berlanjut dengan sosok pria tak sabar yang membuka pintu. Setelah terbuka, terpampanglah pemandangan sebuah kamar.
Di dalam kamar itu, muncullah sosok lain. Si Ibu. Ia sudah sepuh, berjalan pun tertatih dan serba lambat saat mengenakan bajunya.
Pria itu lantas seperti mengurungkan niatnya. Tampak betul perubahan sikapnya: dari semula tergesa menjadi lebih sabar, menyandarkan tubuhnya ke dinding.
“Jadi ikut ga, sih, Ibumu?” Kembali wanita yang merupakan sosok menantu itu mengutarakan ketergesaannya.
“Sabar sedikit kenapa?” Jawab lelaki itu sedikit ketus.
Layar lalu gelap dan muncul tulisan “Puasa, menahan diri, sabarkan hati.”
Bapak
Serangkaian adegan berikut, tak diragukan lagi pastilah rangkaian gambar dan suara yang ditunggu-tunggu mereka yang berpuasa. Gambar bergerak itu memang menjadi latar adzan magrib, saat yang ditunggu karena menjadi penanda waktu berbuka.
Seorang lelaki yang sudah sepuh duduk sendiri di kursi rodanya. Ia menatap cakrawala dengan wajah duka. Hamparan rumput hijau di halaman yang sejuk di mata itu pun tak mampu membawanya dari kepungan kesunyian dan heningnya kesendirian.
Adegan lalu berganti manakala ia menyusuri lorong rumahnya yang gelap, juga seorang diri. Lalu ada sebuah momen ketika ia dikecewakan kakinya sendiri. Kaki yang sejauh itu setia menemani langkahnya tak sanggup lagi untuk sekadar menopang tubuhnya. Ia lantas menampar kaki itu dengan marah, hanya untuk kecewa.
Dilihatnya sebuah foto dalam bingkai. Berisikan kenangan masa lalu, saat pengambilan gambar dilakukan.
Semua masih tercetak dengan jelas tak hendak mengabur. Saat ia bercengkerama dengan putranya, membacakan buku untuk putrinya. Dan ketika istrinya masih berada di sampingnya, setia menemani.
Adegan kenangan itu rupanya bukan hanya menyajikan hal-hal yang menyenangkan. Nyatalah, gambar itu pun menguarkan keharuan yang sangat. Ketika putra kecilnya beranjak dewasa lalu pergi meninggalkannya. Adapun putrinya yang beranjak menjadi remaja, dilengkapi tawa yang lepas dan manis pun harus pergi. Bapak tua itu berdiri di beranda, menyaksikan putrinya hendak pergi bersama dengan suaminya.
Putri yang hampir sampai di mobil itu pun tak sampai hati. Ia kembali berlari ke beranda, mendapati Bapaknya di situ, memeluknya erat seakan tak ingin berpisah. Namun, barangkali perpisahan sudah digariskan dan tertulis. Keduanya harus berpisah dan kembali kesendirian meringkus lelaki tua itu begitu rapat.
Seperti lazimnya orang-orang tua. Waktu yang berjalan dan detik yang berlalu diisinya dengan ibadah, menyiapkan dirinya untuk kehidupan yang akan datang di lain dunia. Kesendirian yang dihadapinya pun sedikit tertanggungkan dengan ibadah yang banyak.
Pada suatu masa yang istimewa, manakala ia membaca kitab suci, dari arah pintu datanglah cucu dan putra-putrinya. Mereka bergegas, sementara di mata lelaki tua itu air bening menggenang. Kendati begitu, air mukanya berubah. Rona bahagia terpancar di sana, serta tak lupa senyum sabar tersungging di bibirnya.
Balung, tulang yang terpisah-pisah itu pun berkumpul lagi.



Ohhh. Menyentuh banget. Sekarang punya anak ABG lalu dia keluar kota terlalu lama, padahal kita tahu dia mana, sudah membuat kita geiisah. Kita? Kami maksud saya
[Jawab?]
dan yang ABG itu kemudian juga akan beranjak dewasa, nggih Paman?
ingkang sabar, Paman
[Jawab?]