Bagi seorang santri kuno seperti Eyang Mus, suluk yang diantar oleh irama gambang tak lain adalah tangis rindu seorang kawula akan Gustinya; tangis seorang pengembara yang ingin menyatu kembali dengan asal-mula dan tujuan akhir segala yang ada, sangkan paraning dumadi. Maka bila sudah tenggelam dalam suluk-nya Eyang Mus lupa akan sekeliling, mabuk, keringat membasahi tubuh dan air matanya berjatuhan. Suaranya ngelanguk menusuk malam, menusuk langit. Apalagi bila yang ditembangkan adalah bait-bait pilihan.
Adalah manusia istimewa yang telah sampai kepada kebenaran sejati; pandangan hatinya menjadi bening begitu ia berhadapan dengan Tuhan. Luluh lebur segala tabir dunia. Pandangannya larut dalam kebesaran Tuhan-nya. Tak putus menyebut nama-Nya. Baginya yang ada hanyalah Allah.
Semua geraknya menjadi sembah, salat jiwanya tegak sepanjang waktu bahkan ketika raganya dalam keadaan tak suci. Mata hatinya tak putus memandang Allah. Kenyataan yang ada baginya adalah kesatuan wujud baik ketika dalam salat maupun di luarnya. Hasrat manusiawi telah terselaraskan dengan kehendak Ilahi.
–0–
“Memang, wong lanang punya wenang. Tapi sekali-kali tak boleh sewenang-wenang. Istri yang setia hanya untuk suami yang setia. Begitu aturannya.” Eyang Mus
–0–
Terimalah kenyataan ini sebagai sesuatu yang memang harus kamu terima. Kamu tak bisa menghindar. Kamu harus ngunduh wohing pakarti, harus memetik buah perbuatan sendiri; suatu hal yang niscaya bagi siapa pun.
–0–
“Menurutku, kesempurnaan Tuhan meliputi segalanya. Manusia tak punya tingkah atau maksud. Manusia tuli, bisu dan hampa. Segala tingkah berasal dari Allah.” Sunan Bonang
“Orang sebenarnya diberi kekuatan oleh Gusti Allah untuk menepis semua hasrat atau dorongan yang sudah diketahui akibat buruknya. Orang juga sudah diberi ati wening, kebeningan hati yang selalu mengajak eling. Ketika kamu melanggar suara kebeningan hatimu sendiri, kamu dibilang orang ora eling, lupa akan kesejatian yang selalu menganjurkan kebaikan bagi dirimu sendiri. Karena lupa akan kebaikan, kamu mendapatkan kebalikannya, keburukan.”
–0—
Lasi belum pernah menerima uang kecuali dari suami atau dari penjualan gula. Bagi Lasi, berat menerima uang dari orang lain karena dia tahu uang tak pernah punya arti lain kecuali alat tukar menukar. Siapa menerima uang harus mau kehilangna sesuatu sebagai penukarnya.
Kini Lasi tahu betul apa yang menyebabkan kenikmatan itu: gamblangnya asal-usul yang diterima yakni cucuran keringat suami dan dirinya sendiri. Perolehan uang semacam itu tidak menimbulkan beban dalam hati. Sangat berbeda ketika Lasi menerima uang dari Bu Lanting yang sering dikatakan sebagai titipan dari Pak Han; Lasi selalu merasa ada sesuatu yang terbeli atau tergadai. Dan Lasi merasakan sakit bila mengingat dirinya sudah kehilangan kemampuan untuk mengelak dari pemberian-pemberian seperti itu.
–0–
“Las, hidup ini seperti anggapan kita. Bila kita anggap sulit, sulitlah hidup ini. Bila kita anggap menyenangkan, senanglah hidup ini. Las, aku sih selalu menganggap hidup itu enak dan kepenak. Maka aku selalu menikmati setiap kesempatan yang ada.” Bu Lanting
–0–
Percakapan antara Eyang Mus dan Lasi setelah Lasi mendengar kabar bahwa surau Eyang Mus perlu dipugar.
“Apa betul surau itu perlu dipugar, Yang?”
“Tidak.”
“Tidak? Kenapa, Yang?”
“Aku bisa mengira-ira, seseorang memintamu membiayai pemugaran surau kita itu. Iya, kan?”
“Ya.”
“Kamu mau?”
“Ya, mau.”
“Kamu ada cukup uang?”
“Cukup, Yang.”
“Ah, tetapi tak perlu. Kukira surau kita masih baik. Artinya, masih bisa mendatangkan ketenteraman jiwa bagi siapa saja yang bersujud kepada Tuhan di sana. Surau kita masih membawa suasana yang akrab bagi orang-orang Karangsoga, masih lebih cocok dengan alam lingkungan dan kebiasaan mereka.”
“Eyang Mus tak ingin surau kita berlantai tegel dan berdinding tembok? Surau berdinding bambu sudah ketinggalan zaman.”
“Tidak, Las. Aku malah khawatir surau yang terlalu bagus akan membuat suasana terasa asing bagi orang-orang yang biasa tinggal di rumah berdinding bambu dan tidur di atas pelupuh. Surau yang bagus mungkin bisa membuar orang-orang di sini merasa berada dalam ruangan yang tak akrab.”
Kalau begitu, bagaimana bila saya membeli pengeras suara untuk surau kita? Eyang Mus, di mana-mana orang memasang pengeras suara untuk mesjid dan surau mereka.”
“Las, itu pun tidak. Terima kasih. Mesjid balai desa sudah dipasangi corong. Setiap waktu salat suaranya terdengan sampai kemari. Bila surau kita juga dipasangi pengeras suara, nanti jadi berlebihan. Tidak, Las. Terima kasih.”