Remah-remah Piala Dunia 2010

Share in top social networks, email, translate, and more!

Spanyol

“Seni terbaik memainkan bola adalah merebut bola, mempertahankannya dan sedapat mungkin tak membiarkan bola direbut kembali oleh lawan.”

Filosofi sepak bola tersebut dikemukakan oleh pelatih Spanyol, Vicente Del Bosque. Hasilnya, kita mengenalnya sebagai tiki-taka.

Cara bermain Spanyol yang mengalirkan bola tak henti-henti dari kaki ke kaki. Mengandalkan penguasaan bola, umpan-umpan yang mengalir, pergerakan pemain yang bergelombang dari berbagai sisi dan lini, hasilnya ialah sebuah permainan yang begitu enak dinikmati. Mr. Bosque pun melengkapi pernyataannya, “Sepak bola adalah sebuah evolusi yang permanen. Tujuan kami, yakni menjadi makin baik setiap hari. Dan, di akhir perjalanan panjang ini, kami berharap, permainan yang kami peragakan akan menemukan kesempurnaannya. Di sanalah kami sendiri akan menyadari, akhirnya bukan hal lain, melainkan permainan kami sendirilah yang membuat kami dominan.”

Sedikit dan sangat tersirat, barangkali ada kesombongan dan arogansi dari Senior Bosque. Kenyataan di lapangan pun selaras dengan ucapan Sang Pelatih. Itu adalah bukti sahih yang tak terbantahkan. Bagaimana di laga Spanyol kontra Jerman, pemain Spanyol begitu leluasa saling mengumpan. Dan Jerman yang begitu digdaya dengan menggulung tim besar, namun mengalami masalah macam Inggris dan Argentina pun harus terlongong-longong menyaksikan bala tentara Spanyol menari.

Adalah Belanda yang mesti mengalami mimpi buruk manakala harus berhadapan dengan Spanyol. Strategi bermain kasar untuk menahan laju bola tak berhasil baik. Hasilnya malah seorang pemain dikeluarkan dan dari sebelas pemain, hanya dua orang yang tak menerima kartu dari sang pengadil.

Dewa sepak bola Belanda, Johan Cruyff pun berang. Ia kecam permainan negerinya dan memuji setinggi langit apa yang dilakukan anak-anak Spanyol. Total footbal yang ia rintis seperti dikhianati oleh pemain-pemain negerinya sendiri. Ia justru begitu terpesona dengan permainan cantik Spanyol, karena itu berarti apa yang dilakukannya diuri-uri, dilestarikan.

Sekelumit hal di atas, masih jauh dari cukup untuk menggambarkan kehebatan Spanyol. Belum dibicarakan bagaimana formasi 4-2-3-1 yang ciamik. Bagaimana kerjasama pemain-pemain dari sebuah klub yang diusung ke tim nasional bisa demikian padu. Pun mengenai keberhasilan sebuah akademi sepak bola menelurkan pemain-pemain jempolan.

Yang kalah

Menarik memerhatikan bagaimana tim-tim yang kalah menyikapi kekalahannya. Bukanlah sebuah hal yang mudah untuk menerima hal begitu menyakitkan ini.

Namun, mari coba kita bandingkan bagaimana kekalahan diterima dengan legowo oleh tim yang biasa-biasa saja dari belahan Asia. Bagaimana pelatih Korea Utara dan Jepang begitu percaya diri dan bangga.

“Anak-anak telah bermain dengan baik, namun kemenangan belum menjadi hak kami. Kalau ada yang patut disalahkan, itu adalah saya.” Kurang lebih begitu pelatih Jepang dan Korea Utara ‘menerima’ kekalahan.

Bandingkan dengan tingkah Monsieur Domenech yang justru menjadi pemicu keretakan di tubuh Perancis. Jangan lupakan pula bagaimana ia menolak berjabat tangan dengan Carlos Alberto Pareira manakala timnya kalah dari Afrika Selatan.

Atau, coba kita dengar apa yang dibilang oleh Capello, “Wasit bertindak tidak cermat. Gol yang dianulir itu mengubah segalanya. Mungkin saja kami bisa memeroleh hasil yang berbeda bila gol itu tidak dibatalkan.” Mungkin ada ketidakcermatan wasit di sana, bahkan FIFA pun telah meminta maaf, namun rasanya Capello kurang ksatria bila dibandingkan koleganya dari Jepang dan Korut di atas. Jangan pula kita alpa, bagaimana tim yang diraciknya tampil gamang dan tak maksimal.

Dari sisi pemain, mari kita lihat apa yang dilakukan oleh Robben. Pasca kekalahan, ia begitu gencar mengutuki kualitas wasit. Ia tak sadar apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan timnya. Sebuah tendangan tak perlu pasca ditiup peluit sebenarnya layak diberi ganjaran kartu merah. Pun sebuah tendangan kungfu yang diperagakan dan bisa saja mematahkan tulang iga.

Dari sisi penonton, pasca kekalahan Negeri Kincir Angin, Mas Dosen yang berada di Belanda sana menuliskannya begini:

“Dan Holland pun menangis”

Suasana ceria penuh harap yang didukung oleh alam semesta hari Jum’at lalu seperti sirna. Jum’at itu hampir semua berbicara tentang rencana pesta selama seminggu penuh di Amsterdam bahkan cara-cara mengantisipasi kerusuhan atau tidak berfungsinya angkutan umum seperti kejadian 1988 ketika Belanda menjadi EK (European Kampioen: Juara Eropa). Suhu di kantor yang tidak ber-AC ini pun menembus 33 derajat. Memaksa Bos mengeluarkan perintah singkat, “Enjoy the day, guys!”. And we did it. Better party before the battle, since we never know what happened after the battle or in the battle itself.

Hari ini, mendung dan hujan mewarnai Amsterdam. Kantor sepi dan terlihat gloomy. Para pembesar saling bertukar email menyatakan tidak datang hari ini. “Kerusuhan” yang diharapkan tidak terjadi. Dan atmosfer Amsterdam kembali seperti semula. Berawan dan hujan.

Yang muda yang bergaya

Piala Duni 2010 di Afrika Selatan pun mencatat bersinarnya bintang-bintang muda. Jerman terutama yang memperagakannya. Bagaimana 23 pemain yang berusia rata-rata di bawah 25 tahun sanggup mengacak-acak pertahanan tim-tim besar. Aksi kolektifnya, melalui serangan balik dan kerja sama di antara pemain layak menjadi catatan: bahwa sepak bola masa kini adalah kerjasama tim. Talenta-talenta individu yang egois bukannya dilupakan, namun kiprah mereka meredup.

Layak kita tunggu apa yang bisa dilakukan pasukan muda ini pada 4 tahun yang akan datang.

2 thoughts on “Remah-remah Piala Dunia 2010”

  1. Spanyol mungkin bakal lebih kaya gol kalo lebih sering memainkan Fabregas dan mencadangkan Torres.
    Domenech, sejak WC 2006 pun keanehannya sudah terlihat, hanya masih tertolong Zidane. Ntah apa sebabnya dia masih bertahan pasca gagal di Euro 08.
    Capello tak pernah sadar kalo pola 442nya gagal, bahkan sejak 3 partai grup.
    Robben sebaiknya mengutuki kakinya sendiri yang tak mampu menaklukkan Casillas, atau van Persie yang tak bisa membantu menjebol gawang Spanyol.
    Dan Jerman? Kelihatannya masa depan mereka cerah. ;)

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>