Di tengah asyik masyuk mencuci nan bersemangat, kecipak air berpadu dengan kucuran yang deras. Tak jarang, percik-percik air itu mampir di celana dan kaos yang justru tidak sedang dicuci tapi dipakai. Kembali ke awal paragraf, di tengah asyik masyuk mencuci pagi itu, tiba-tiba air yang mengucur dari keran mulai mengecil dan berhenti pada akhirnya. Gangguan ini, tentu saja tak menyebabkan timbulnya kecipak air, percik-percik air dan nuansa puitis lainnya, kan?
Kerepotan selanjutnya ialah, kebingungan kecil yang menyeruak tiba-tiba. Bagaimana tidak? Bila saat itu di tengah-tengah proses membilas, masih ada dua potong baju dan sepotong celana dalam mungil yang masih tersisa, sementara air mati. Dogh!
Rupa-rupanya, tiga potong pakaian yang tersisa itu hanyalah awal mula kerepotan selanjutnya. Pada gilirannya, ia akan muncul berturut-turut: bagaimana nanti bila ingin buang air besar, bagaimana bila mendadak ingin pipis dan yang paling penting bagaimana aku mandi nanti?
Di tengah isu mengenai PAM yang terkendala dan krisis air melanda ibu kota beberapa waktu yang lalu, maka ketakutan akan tiadanya air pun terasa. Itu pun masih ditambah keanehan lain, di mana pompa di belakang sana terdengar nyaring, namun tiada satu tetes pun air yang tersedot.
Menumpang mandi kemudian menjadi solusinya. Syukurlah tetangga terdekat ada yang bersedia mengikhlaskan kamar mandinya sebentar dipinjam-pakai.
Bila tidak pernah menumpang mandi, percayalah bahwa hal ini bukanlah kegiatan yang mengasyikkan, sungguh. Pertama-tama, karena harus berjalan melalui rute baru yang barangkali jarang kau gunakan. Jalan masuk ke kamar mandi tetangga, jarang sekali dilewati, bukan?
Bila biasanya bisa dengan bebas dengan sekadar melilitkan handuk di pinggang kemudian melenggang. Menumpang mandi tak bisa segampang itu, karena mesti ada tetangga pemilik kamar mandi yang ditenggang. Ada mata-mata lain sepanjang jalan yang jelalatan mungkin penasaran. Dan bukankah mereka itu tahu betul bahwa kau hendak mandi? Peralatan perangmu itu sungguh nyata terlihat, gayung berisi sabun, odol, sikat gigi, shampoo dan handuk. Bayangkan saja, bagaimana mereka yang melihatmu itu begitu penasaran di mana lokasi kau mau memakai sabun. Hahahaha.
‘Bisa karena biasa’ itu kadang mengemuka begitu saja tanpa diundang diminta datang. Maksudnya, bisa dengan mudah lepas hajat di kamar mandi sendiri. Lepas begitu saja tanpa khawatir, semacam keikhlasan tak hendak ditengok-tengok lagi. Tapi bagaimana bila mesti menumpang di tetangga?
Ritual yang biasanya satu paket dengan mandi itu pun menjadi kegiatan yang menyiksa. Simaklah; manakala sudah jongkok begitu lama, mungkin sudah membuka buku halaman ke sekian, barangkali sudah membuat update status FB dan twitter sampai kehabisan kata-kata, atau sudah ingin rokok batang selanjutnya tapi apa yang dinanti-nanti tak juga kunjung tiba. Itu saja, belum bila masih harus ditambah si empunya rumah mengantri ingin juga memakai kamar mandi. Grrrrr, masihkah kuat jongkok lebih lama lagi padahal kedatangan yang demikian ditunggu-tunggu itu belum juga nampak sekadar tandanya saja?
Jangan heran kemudian bila sebentar saja lantas harus berdiri dengan perasaan wagu dan sebentuk kehampaan yang aneh manakala menatap lubang di closet masih saja kosong. Sekadar untuk melepaskan lega, diguyur itu lubang. Dan apakah lega? Tidak juga sedikit pun tidak.
Nah, bagaimana kerepotan manakala mesti menguras kamar mandi? Cobalah dibaca di sini




Untung di rumah aLe pakai sumur.
[Jawab?]
wogh kamar mandi tebengannya sekeren di gambar itu…mantap!
[Jawab?]
Numpangnya milih yang keren nih
[Jawab?]
@aLe
pake sumur tapi ngga ada kamar mandinya?
@hedi
hayah, ya ndak lah, mas
@senimanpeta
hahaha, itu cuma ilustrasi sahaja kok, mas dab
[Jawab?]
nice poting..kreatif..
[Jawab?]