Saat ia berjalan menanjak
Ia sadar betapa dalamnya tapak
Ia sabar bila harus tinggalkan jejak
Bahkan sekali waktu bila mesti merangkak
Di mana kecepatan diturunkan
Terkadang ancang-ancang diperlukan
Menggeram sesekali agar dapat kekuatan
Terus berjuang sampai penghabisan
Ia menjadi akrab dengan udara
Yang teratur keluar masuk paru-parunya
Ia hirup sepuas-puasnya
Sampai penuh rasa di dada
Sekali waktu
ia pun lelah
ia pun lelah
Tak jarang ingin menyerah
Tapi kehendak tak mau kalah
Ia paksa sebelum mulai pasrah
Saat nafas kian terasa berat
Ketika kaki tak tahan lagi bawa penat
Manakala begitu butuh waktu rehat
Rupanya puncak tanjakan sudah dekat
Ia pun kemudian tak sabar
Lupa dada yang mulai berdenyar
Alpa kaki yang mulai bergetar
Hanya hatinya yang terasa berdebar
Di puncak itu ia kembangkan tangannya
Disapanya udara dan matahari di atasnya
Disentuh pucuk daun di sekelilingnya
Diucap syukur sepenuh-penuhnya
Kemudian ia hembuskan nafasnya yang paling penghabisan


