melintas batas
Archive for May, 2010
Senandika Penjaga Baju
May 18th
Larasati
May 16th
Pramoedya Ananta Toer dalam roman revolusi ini tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan dan dibumbui kisah percintaan.
Pramoedya ingin mengukuhkan suatu komitmen bahwa revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani; tidak hanya berani melawan semua bentuk kelaliman, tapi juga bisa melawan keangkuhan dirinya sendiri.
Rasa takut bisa hilang melalui kemenangan yang didapat. Tapi menyoal kemenangan yang sekilas itu, Pram bilang, “Perjuangan selamanya mengalami menang dan kalah silih berganti. Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah dan kalau kau kalah, terimalah kekalahan itu dengan hati besar dan rebutlah kemenangan.
==0==
Larasati, ia adalah seorang penyanyi dan bintang film. Sebagai aktris panggung, ia harus menghibur pembesar-pembesar negeri dan pengusaha-pengusaha sukses. Termasuk juga di dalamnya adalah pembesar-pembesar Belanda dan tak lupa pribumi yang menjadi pembesar Belanda. Akibat penampilannya di panggung dan pergaulannya yang intens tersebut, ia akrab dengan mereka. Ara menjadi begitu dikenal dan kehadirannya dinanti-nanti siapa saja.
Apa yang disebutkan di atas, sayangnya terjadi pada masa damai. Ketika pembesar-pembesar negeri dan Belanda akrab tak saling serang. Padahal seperti juga kau tahu, jalannya revolusi seperti ombak di lautan. Sekali waktu memang tenang, namun di lain saat begitu bergelora. Ombak itu menghempas pantai dan meninggalkan butir-butir pasir dan buih.
Dan Ara adalah pasir, mungkin buih itu. Ia tertinggal di pantai, terhempas kian kemari, ditinggalkan arus besar yang terus bergolak.
Ara tak punya tempat berlindung lagi, karena bila ia pasir, maka ia tergulir bersama angin. Bila ia buih, tak jarang ia harus meniti buih untuk kemudian sekali tempo terhempas lagi.
Jalan keluar yang tersisa baginya adalah: ia bergaul dengan sesama pasir, sesama buih. Mereka itu, prajurit-prajurit berpangkat rendah. Prajurit yang gelisah, namun bersemangat kendati resah. Bersama dengan kawanan barunya ini, ia pun mulai menapakkan langkah kakinya di medan revolusi. Ke mana perginya para pembesar yang dahulu dikenalnya itu?
Perjalanan Ara dimulai di sebuah kereta dalam perjalanannya dari Yogyakarta ke Jakarta. Alasan kepergiannya ini ialah, karena Yogya telah menjadi tempat yang demikian berbahaya. Sementara itu, ia teringat pula pada ibunya yang telah lama ditinggalkan di Jakarta. Di kereta itu, ia harus berpisah dengan Kapten Oding yang jelas-jelas menaruh hati pada Ara.
Perjalanan Ara kemudian adalah paparan bagaimana manusia republik memandang revolusi. Tentang anak-anak muda yang bersemangat hendak melahirkan sejarah. Sejarah yang banyak meminta tumbal nyawa dan Ara menjadi saksi kematian satu orang di antara pemuda itu. Sosok pemuda yang di mata Ara begitu dihormati dan pada saat yang sama ditangisi kepergiannya.
Ara memupuk optimisme terhadap peristiwa di sekitarnya bersama dengan nenek-nenek tetangganya. Nenek itu kendati sudah lanjut, namun tak kurang-kurang memberikan dukungan pada para remaja pejuang. Dan paling penting, bersama dengan ibu yang dulu ia khianati dan sekaligus begitu dicinta ia merenda semangat dan menyulam rasa takut justru menjadi kekuatan.
Di sisi lain, Ara juga mesti menjadi saksi para pengkhianat negeri. Kaum oportunis yang hanya tau petik untung injak liyan. Nama-nama seperti Kolonel Surjo Sentono, Mardjohan dan masih banyak yang lain telah begitu membuatnya jijik. Seakan-akan penderitaan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, ia pun mesti bertemu dengan keluarga Alaydrus. Sebuah keluarga keturunan arab yang menjadi majikan ibunya. Pada gilirannya, Ara bahkan harus menjadi kawan hidup Jusman—seorang dari Alaydrus itu—lengkap dengan semua deritanya.
Pada akhirnya, Ara kemudian…. Ah, sebaiknya dibaca sendiri bagaimana menariknya salah sebuah karya Pram ini, selamat membaca.
Menumpang Mandi
May 13th
Di tengah asyik masyuk mencuci nan bersemangat, kecipak air berpadu dengan kucuran yang deras. Tak jarang, percik-percik air itu mampir di celana dan kaos yang justru tidak sedang dicuci tapi dipakai. Kembali ke awal paragraf, di tengah asyik masyuk mencuci pagi itu, tiba-tiba air yang mengucur dari keran mulai mengecil dan berhenti pada akhirnya. Gangguan ini, tentu saja tak menyebabkan timbulnya kecipak air, percik-percik air dan nuansa puitis lainnya, kan?
Kerepotan selanjutnya ialah, kebingungan kecil yang menyeruak tiba-tiba. Bagaimana tidak? Bila saat itu di tengah-tengah proses membilas, masih ada dua potong baju dan sepotong celana dalam mungil yang masih tersisa, sementara air mati. Dogh!
Rupa-rupanya, tiga potong pakaian yang tersisa itu hanyalah awal mula kerepotan selanjutnya. Pada gilirannya, ia akan muncul berturut-turut: bagaimana nanti bila ingin buang air besar, bagaimana bila mendadak ingin pipis dan yang paling penting bagaimana aku mandi nanti?
Di tengah isu mengenai PAM yang terkendala dan krisis air melanda ibu kota beberapa waktu yang lalu, maka ketakutan akan tiadanya air pun terasa. Itu pun masih ditambah keanehan lain, di mana pompa di belakang sana terdengar nyaring, namun tiada satu tetes pun air yang tersedot.
Menumpang mandi kemudian menjadi solusinya. Syukurlah tetangga terdekat ada yang bersedia mengikhlaskan kamar mandinya sebentar dipinjam-pakai.
Bila tidak pernah menumpang mandi, percayalah bahwa hal ini bukanlah kegiatan yang mengasyikkan, sungguh. Pertama-tama, karena harus berjalan melalui rute baru yang barangkali jarang kau gunakan. Jalan masuk ke kamar mandi tetangga, jarang sekali dilewati, bukan?
Bila biasanya bisa dengan bebas dengan sekadar melilitkan handuk di pinggang kemudian melenggang. Menumpang mandi tak bisa segampang itu, karena mesti ada tetangga pemilik kamar mandi yang ditenggang. Ada mata-mata lain sepanjang jalan yang jelalatan mungkin penasaran. Dan bukankah mereka itu tahu betul bahwa kau hendak mandi? Peralatan perangmu itu sungguh nyata terlihat, gayung berisi sabun, odol, sikat gigi, shampoo dan handuk. Bayangkan saja, bagaimana mereka yang melihatmu itu begitu penasaran di mana lokasi kau mau memakai sabun. Hahahaha.
‘Bisa karena biasa’ itu kadang mengemuka begitu saja tanpa diundang diminta datang. Maksudnya, bisa dengan mudah lepas hajat di kamar mandi sendiri. Lepas begitu saja tanpa khawatir, semacam keikhlasan tak hendak ditengok-tengok lagi. Tapi bagaimana bila mesti menumpang di tetangga?
Ritual yang biasanya satu paket dengan mandi itu pun menjadi kegiatan yang menyiksa. Simaklah; manakala sudah jongkok begitu lama, mungkin sudah membuka buku halaman ke sekian, barangkali sudah membuat update status FB dan twitter sampai kehabisan kata-kata, atau sudah ingin rokok batang selanjutnya tapi apa yang dinanti-nanti tak juga kunjung tiba. Itu saja, belum bila masih harus ditambah si empunya rumah mengantri ingin juga memakai kamar mandi. Grrrrr, masihkah kuat jongkok lebih lama lagi padahal kedatangan yang demikian ditunggu-tunggu itu belum juga nampak sekadar tandanya saja?
Jangan heran kemudian bila sebentar saja lantas harus berdiri dengan perasaan wagu dan sebentuk kehampaan yang aneh manakala menatap lubang di closet masih saja kosong. Sekadar untuk melepaskan lega, diguyur itu lubang. Dan apakah lega? Tidak juga sedikit pun tidak.
Nah, bagaimana kerepotan manakala mesti menguras kamar mandi? Cobalah dibaca di sini

