Ungu

Saya dan Aunty bukanlah pasangan yang serasi betul. Tapi sebentar, apa itu ukuran serasi? Ada yang bilang kedua pasangan pintar memadupadankan busana yang dikenakan. Nah, bila ini ukurannya, maka benarlah kalimat pertama di atas, “Saya dan Aunty bukanlah pasangan yang serasi betul.”

Tetapi, di dalam ketidakserasian itu, terkadang ingin pula tampil serasi.

Jadilah pada Jum’at pekan lalu kami kompak mengenakan kaos warna ungu. Apakah jadinya serasi? Aha, entahlah yang pasti ungu bukan warna kegemaran saya. Boleh dibilang saya tak percaya diri. Bagaimana dengan beliau? Kurang tahu, tapi nampaknya beliau suka.

==

Seperti sudah direncanakan sebelumnnya, dengan berseragam semacam itu kami akan pergi ke Pasar Beringharjo untuk belanja kerudung yang nantinya akan mengisi dinding toko kecil Aunty. Bukanlah hal yang nyaman berjalan-jalan di tempat seramai itu dengan busana yang kita tidak percaya diri ketika mengenakannya. Namun, sebenarnya itu hanya pada mulanya saja.

Karena begini: selepas memarkir sepeda motor, kami bergandeng tangan menyusuri tangga pasar. Aneh benar rasanya mengenakan kaos ungu. Itu masih ditambah dengan lirikan dari orang-orang yang berada di pasar. Makin salah tingkah saya dibuatnya.

Di sisi lain, saya lihat Aunty begitu menikmati, ehm, sebetulnya yang lebih tepat barangkali beliau abai dengan sekitar. Maka melengganglah ia dengan nyaman diikuti saya yang kikuk berjalan di sampingnya. Ia seperti menikmati guyuran perhatian dari orang-orang, saya semakin salah tingkah saat kuyup menerima perhatian itu.

Tak lama nyatalah kemudian bahwa saya terlampau gede rasa. Saya kira perhatian orang-orang itu untuk saya, padahal benarkah demikian adanya?

Bukankah bisa saja terjadi: penghuni pasar itu terganggu dengan kaos kami yang menusuk mata dan dipakai bersama-sama? Pula tidak menutup kemungkinan, bahwa mereka hanya memerhatikan sekilas sudah itu lupa, bukan?

==

Selanjutnya, bukan kami yang menjadi perhatian orang-orang. Eh, malah berganti kami yang memerhatikan orang-orang itu. Hasilnya: ada banyak orang lain yang mengenakan busana entah itu celana, sandal, kaos, tas atau apa pun yang berwarna ungu.

Di situ muncul kesadaran yang terlambat, bahwa ungu pun beragam. Ada ungu yang lebih terang, sedikit lebih gelap, ada pula yang hampir mendekati warna kaos kami. Sebut saja itu semua ragam warna ungu.

Aha, itu baru membincangkan satu warna.

5 Responses

  1. Aku
    Aku 09/04/2010 at 07:44 |

    Hihi..dasar geer..
    Ko ga ditls..ditanya mba shopkeeper satu rumah kerudung..
    Ada acr ap ko ungu2..
    Trus dijawab,karena sesama jomblo uda bersatu..trus bsk mw pake pink..hehehe

    [Jawab?]

  2. Gombal's
    Gombal's 09/04/2010 at 08:33 |

    Saya kira perhatian orang-orang itu untuk saya, padahal benarkah demikian adanya? (tetep wae cah siji iki GR)…udah pake “padahal”, masih pake “benarkah” pula, huwehehehe. suk meneh nganggo kaos seporot thok wae. ben tambah seruw

    salam gombal’s

    [Jawab?]

  3. aku
    aku 09/04/2010 at 11:52 |

    @mas gombal, kaos seporot itu maksudnya apa?
    singlet?
    wkakkakakak, tidak bisa membayangkan uncle yang kurus kering gak keren itu pake singlet kemana2…
    @uncle, lets go work out together…*wink

    [Jawab?]

  4. qzink
    qzink 09/04/2010 at 14:37 |

    Cieee.. Sejak di Jakarta jadi tak sungkan lagi ngomongin pasangan. Kemajuan apa kemunduran nih? Tapi kok ungu?

    [Jawab?]

  5. Gombal's
    Gombal's 10/04/2010 at 15:28 |

    kaos seporot ki yo kaos singlet, maklum, cah MBantul, sebutane apik to??

    [Jawab?]

Leave a Reply