Rongga Trotoar

Pernahkah memerhatikan setiap langkah Anda? Kalau belum cobalah sesekali dipantau kaki Anda melangkah di mana. Maksud saya agar tidak terperosok, terkena duri atau menginjak kepingan trotoar yang salah.

Dahulu memang saya akrab dengan kebun di depan rumah. Akibatnya, kaki saya pun tak jarang tertusuk duri. Bila duri kecil itu masuk ke lapisan kulit yang ada di telapak kaki, biarpun kecil itu duri, tapi sakit betul rasanya. Menjalar ke seluruh tubuh dan menyebabkan posisi jalan yang kurang wajar.

Getah daun dan batang pohon awar-awar cukup menjadi penawarnya. Cukup oleskan getah itu di telapak kaki yang terkena dan duri itu lambat laun akan membusuk. Bukan kaki yang jadi busuk, tapi durinya, jadi tenang saja.

Selain menggunakan getah, peniti pun bisa menjadi senjata yang ampuh. Bila Anda cukup sabar, dengan menggunakan peniti goyahkan posisi duri di dalam lapisan kulit kaki yang tebal kemudian pijatlah dengan gerakan tertentu seperti mendorong duri itu keluar. Akan ada dua kemungkinan yang kemudian terjadi: duri itu sukses keluar atau kaki Anda terluka tapi duri itu keluar juga.

Sejatinya, antara terperosok dan terkena duri adalah dua hal yang kerap terjadi bersamaan. Di rimbun kebun, terkadang kita ingin melintas begitu saja dan abai pada apa yang kita injak. Tak menutup kemungkinan kaki itu masuk ke lubang. Lebih parah, di lubang itu ada duri. Kloplah sudah derita tiada tara itu.

Kini, kebun sudah jarang saya injak. Bila saya pulang, lebih sering berkeliaran di dalam rumah dan hanya memandangi kebun dari beranda. Sekarang ini masalah yang saya hadapi manakala berjalan adalah trotoar.

Entah kenapa, sepanjang jalur saya berangkat dan pulang dari pabrik begitu banyak kepingan trotoar yang dipasang tidak sempurna. Barangkali waktu, mungkin hujan atau beban yang terlampau berat menyebabkan trotoar itu tak lagi rapi. Di sana-sini bergelombang bahkan ada yang sudah lepas.

Ada yang bikin repot, yaitu bila kepingan itu masih terpasang tapi menyisakan ruang semacam rongga. Di situ, air leluasa masuk ke dalam lapisan di bawah trotoar. Nah, apabila tanpa sengaja trotoar yang istimewa itu terinjak, maka air yang ada di bawahnya akan tergencet dan otomatis mencari jalan keluar. Menyemburlah air itu, terkadang banyak dan cukup tinggi hingga ke sepatu dan celana.

Saya kurang begitu suka mencuci, maka celana yang bernoda air bercampur pasir dan lumpur itu menjadi hal yang cukup merepotkan, bukan? Dari situ, sekiranya Anda pun sering berjalan harap perhatikan langkah Anda. Bila melihat rongga di sesela trotoar hindarilah, pilih yang rapat dan tak berongga. Selamat menikmati perjalanan Anda, sobat.

2 Responses

  1. mawi wijna
    mawi wijna 01/04/2010 at 07:47 |

    hahaha, jadi inget trotoar di depan markas XL di Jl. Mangkubumi

    memangnya kenapa trotoar di sana? :D

    [Jawab?]

  2. yusdi
    yusdi 06/04/2010 at 17:24 |

    ah trotoar sekarang udah dijajah…ga ada tempat buat pejalan kaki….*manasin mobil*

    hahaha, moga-moga mobilnya tidak turut melindas trotoar

    [Jawab?]

Leave a Reply