Ia masih belum rela berpisah dengan garam, terumbu karang, buih, ombak dan ikan-ikan.
Ia masih saja takjub pada angin yang membuatnya pontang-panting.
Ia begitu silau karena terik mentari. Di samping itu, ia galau karena matahari pula, ia mesti berpisah dengan mereka yang selama ini akrab dengannya.
Ia menggigil saat perlahan-lahan ketinggian menyapanya.
Ia kikuk saat bertemu awan yang putih dan asing.
Dan akhirnya, ia justru menjadi bagian dari awan-awan itu sendiri, menjadi salah satu penyusunnya.
Maka, kemudian ia akrab dengan ketinggian.
Dingin itu tak lagi mengganggu.
Hembusan angin menjadi kawan karibnya.dan ia pun piawai membentuk pola-pola awan.
Satu pola yang digemarinya ialah macam bulu domba.
Dalam perasaannya, saat itu ia menjadi ringan melayang-layang.
Belum lagi bila disinari mentari pagi. Ia terpesona pada tubuhnya sendiri yang keemasan.
Satu hal yang membuatnya takut, ialah manakala tubuhnya berwarna kelabu dan memberat. Tertekan.
Sampai-sampai ia tak tahan, berharap agar segera lepas.
Ia terkesima pada satu kesempatan yang istimewa.
Ia tak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja ia lepas dari kawanannya.
Ia termangu-mangu meski hanya sekejap.
Ia malah terbayang dahulu sekali ketika harus berpisah dengan garam.
Iakemudian menyesal karena sekali lagi mesti berpisah dengan mereka yang selama ini akrab dengannya.
Ia pun di saat yang sama sekaligus senang.
Ia lepas tak hanya sendiri, ia melayang dengan ribuan kawannya yang terpisah-pisah.
Ia seperti menemukan arena bermain, maka tak ditolaknya kini angin yang meniupnya kian kemari.
Ia begitu gembira, bahkan ketika matahari yang sedikit nampak tak lagi membuatnya silau.
Ia terima cahaya itu dan entah apa yang terjadi, cahaya itu berpendar menjadi tujuh warna pelangi.
Pada sebuah detik yang tak akan terlupa, kembali ia tertegun.
Gerak melayangnya terhenti tiba-tiba karena menumbuk sesuatu.
Seperti pertemuan yang sekejap.
Tek lama, ia pun mengalir.
Sampai pada sebuah tepian, kini ia bimbang, haruskah jatuh? Atau tetap menempel pada genting?
Ia tak tahu, ia masih tergantung di situ.



paman, aku selalu mengagumi kemampuanmu mendeskripsi tiap sesuatu demikian apiknya. salam kenal.
[Jawab?]
yang pertama paman, salam kenal. kalau tak ada prose
itu entah bagaimana kebutuhan air awar terpenuhi ya?
[Jawab?]
suka aku bacanya, paman
[Jawab?]