Di luar gerimis baru saja turun untuk kemudian menderas. Butiran air menjadi selarik tirai yang hanya sekilas saja kita lihat; menghalangi berkas-berkas cahaya sampai di tempat kita. Ditambah lajunya mobil Innova hitam ini, semakin susah cahaya menerangi tempat kita duduk bersama di bangku paling belakang ini.
Pada suatu detik yang begitu istimewa, aku menjadi saksi. Ketika air matamu turun, jatuh dari matamu. Begitu bening seperti embun yang bergoyang seirama dengan daun. Daun tempat embun bertengger di ujungnya untuk kemudian jatuh, luruh ke bumi. Adapun air matamu setelah menggumpal di sudut matamu yang terpejam, kemudian karena beratnya jatuh ke pangkuanmu.
Seiring dengan jatuhnya butiran bening itu, bukan prisma pembias cahaya yang kuingat. Tidak indah, berwarna-warni seperti ketika sinar matahari menembusi embun dan terbiaskan menjadi warna-warni pelangi. Manakala matamu kian terpejam dan mengikhlaskan sebuah butiran bening pergi darinya tanpa ucapan selamat tinggal. Ketika itu pula sebagian diriku terampas. Ada kesedihan yang memaksa masuk, menjadi pengganggu kebersamaan; kebahagiaan kita.
Kata Eistein, “Seandainya saja aku bisa membagi kebahagiaanku denganmu, agar kamu tidak termenung dan bersedih.” Namun, Eistein lupa, pengandaian justru lebih menyakitkan. Seperti mimpi yang musykil tergapai.
Akhirnya, sebuah kemestian bila kita harus menikmati betapa pun sedihnya saat itu. Kamu menangis dalam diam, duduk sedikit jauh di sampingku, air matamu berderai, sedikit pun tanpa isak yang terdengar. Lebih menyakitkan melihat air matamu jatuh satu demi satu seperti itu. Tidak… bukan seperti gerimis yang entah kenapa menurutku berisik saat jatuh di badan mobil ditingkahi bunyi wiper. Padahal, di lain saat yang berbeda, kita begitu menikmati bebunyian gerimis itu, entah ketika menabrak genteng, berbenturan dengan kaca jendela atau ketika bertumbukan dengan kerikil di halaman. Bunyi yang sama, tik-tak gerimis ternyata memberi efek yang berbeda bergantung pada suasana hati. Salahkah gerimis?
Dan aku, apa yang kulakukan selain duduk di sampingmu menyaksikan butir demi butir gerimis jatuh di luar pun butir demi butir air matamu jatuh di sampingku. Seperti patung polisi di perempatan yang tidak berdaya apa pun. Begitulah aku, tiada yang dapat kulakukan sekadar untuk menghiburmu. Mungkin ketika itu, kamu memasuki duniamu yang tak terpermanai, bahkan olehku. Sebenarnya, memang aku tak selalu memahami dan mengerti kamu. Ah, maafkan aku.
Sebuah hikayat pernah kubaca, tentang seorang gadis kecil. Dia memiliki teman khayalan. Seringkali dia akan berbicara sendiri; bermain-main sendiri. Begitulah yang terlihat oleh mata khalayak, namun tidak oleh gadis itu. Menurutnya dia sedang bercakap-cakap dengan ‘teman’-nya itu. Sangkanya, ia sedang bermain penuh keceriaan dengan teman khayalannya. Orang tua, saudara-saudaranya, mengira gadis itu bermasalah, tetapi ternyata tidak, seiring waktu, kemudian gadis itu tumbuh dengan wajar dan teman khayalnya pun ditinggalkan hanya menjadi kisah usang masa lalu. Namun, sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Suatu ketika di saat yang begitu istimewa ‘teman’ yang juga istimewa itu akan muncul kembali, menemani.
Barangkali saat kamu terpejam itu, ketika butiran-butiran bening itu jatuh, manakala bibirmu terkatup rapat tak membiarkan sekadar isak. Saat itu kamu sedang kembali bercanda dengan teman khayalmu yang mungkin adalah bagian lain dari dirimu sendiri.
Prasangkaku itu, mungkin sekali salah, meski juga tidak menutup kemungkinan bahwa itu benar. Tetapi tidak, aku tak berani berjudi denganmu ketika kamu seperti itu. Salah-salah malah merusak segalanya. Seperti membangun tiruan gedung dari korek api. Banyak jeda yang harus diambil saat napas dihela agar ketegangan dan hembusannya tidak merusak susunan pondasi dari bangunan awal.
Detik-detik yang berjalan mengiringi mutiara air matamu yang berkelap-kelip saat cahaya menyapa. Hening yang ngelangut ketika diammnu seperti batu gunung yang teguh tak tergoyahkan. Mungkin adalah penanda ketika rapuhmu hancur menjadi serpihan yang terserak. Rapuh yang sama dengan sekumpulan air terjun yang jatuh menimpa batu cadaas, menjadi percikan untuk nantinya bersatu lagi, namun kapan?
Masa untuk terpejam, kemudian air bening menggumpal di sudut mata, lantas jatuh dan terpercik di celanamu pada akhirnya juga akan selesai. Ketika kamu sadar bahwa sudah tak ada lagi kepingan yang tersisa yang masih mungkin merepih, retak dan terserak. Saat tak ada lagi yang tersisa, kembali kesadaran merampasmu dari pengembaraanmu di negeri antah berantah dan hanya kamu yang tahu rute menuju ke sana.
Di titik berangkat dan kembali, di sanalah aku kan menunggu. Penanda kedua titik itu adalah kesadaranmu yang kembali menguasaimu. Ketika kamu sadar pada usapan-usapan lembut telapak tanganku di punggungmu, menatapku sekilas kemudian rebah di bahuku dan tanganku terhenti untuk kemudian merangkulmu. Saat itu aku tahu kamu kembali di sini bersamaku tidak lagi mengelana entah ke mana.
Kau telah pulang, begitu batinku. Tetapi itu tak berarti berhenti menangis dan terdiam. Butiran bening itu masih juga terus keluar dari sesela matamu yang kembali terpejam. Ketika kemudian menggumpal di sudut-sudut kelopak matamu, maka tak canggung kuseka dengan ujung jemariku. Begitu keluar lagi, kuseka lagi demikian seterusnya. Sesekali kamu melihatku, ada takut di sana, ada khawatir membayang di matamu yang memerah. Kemudian kamu peluk aku begitu erat. Melalui pelukan itu kamu seperti mengisyaratkan, “Temani aku, jangan kau tinggalkan aku.” Tak kalah hangat dan rapat kudekap pula kamu, semoga pun kamu tahu, bisikku dalam diam, “Tak akan kupergi, aku kan menunggumu di sini, menanti meski hanya sekadar menemanimu, sekadar itu.” Dan… kita berpelukan.
Pelukan yang tak lama karena kamu capek, lelah dengan semua yang terjadi. Perlahan-lahan kamu beringsut, kemudian rebahkan kepalamu di pangkuanku dan terpejam. Tidak… bukan tertidur karena butiran-butiran bening itu masih juga keluar, menggumpal lagi dan kuseka. Inilah masa ketika kamu mengumpulkan kembali serpihan-serpihan yang terserak, kiraku. Sedikit demi sedikit dikumpulkan dan dibentuk lagi menjadi kamu yang kukenal, meski entah kapan akan merepih lagi dan terserak, kita berdua tahu benar itu.
Biarlah derai air mata itu tetap jatuh, jangan kau tahan. Puaskanlah tangismu, bila dengan itu kamu merepih menjadi serpihan untuk kemudian terkumpul lagi. Seperti percikan air terjun yang kemudian berkumpul menjadi anak sungai menuju samudera. Mungkin dunia tak akan pernah mengerti, bahkan tak juga aku akan apa yang kau rasakan. Abaikan saja mereka yang kembali bercakap-cakap dan tak juga hirau pada apa yang kau rasakan. Sedangkan aku, ijinkan aku menemanimu, sekadar menyeka air mata yang menodai pauh pipimu.
Gerimis masih juga turun di luar, tak hirau pada kita. Pada kamu yang membuat gerimis sendiri dengan air matamu. Pada aku yang tak berdaya kecuali hanya menyeka dan menemanimu. Pada kita yang sebentar lalu karena air mata terpisah dan tak lama karena sebab yang sama saling berpelukan. Apakah kemudian kita berpagutan atau sekadar kukecup lembut keningmu? Jangankan gerimis, dunia pun sebaiknya tak perlu tahu.
*berdiri terbalik..
[Jawab?]
woowww..satirrrrrr….
[Jawab?]
emmm…wah,aku dadi kelingan karo konco kosku d jogja dulu…persis koyo sampean iki, senengane nulis sing puitis-puitik…weleh-weleh tenan…
*berharap saja semoga musim hujan masih harum di jakarta. biar satir-satir (escoret said) berikutnya muncul”
-Salam Gombal’s-
[Jawab?]
lagi sedih ya, mas. sabar.
[Jawab?]
aku yg sedang menangis itu, karena telah mengkhianatimu. sesalku tak sanggup mjelma nyali, untuk sekedar berterus terang. maafx aku
[Jawab?]
ajarin ngeBlog lagi donk..
[Jawab?]
wah ceritanya menarik ,,,,,mengingatkan masa lalu neh,,,,,,,,,,,,
[Jawab?]
pengalaman pribadi ya Mas,,,,,,,,,
[Jawab?]
Subhanllah, penggambaran yang sempurna tentang jatuhnya air mata di pipi. Ketika tak ada lagi yang mampu membuatnya bertahan agar tak terhempas.
[Jawab?]