melintas batas
Sketsa Pecas Ndahe
Setiap bulan milis CahAndong menghadirkan satu sosok untuk di-apresiasi. Bulan Desember dan entah kenapa berlanjut sampai Januari, Ndoro Kakung menjadi sosok itu. Saya tak mengenal beliau, dalam artian ngobrol bareng, nongkrong bersama-sama atau bertegur sapa dan kenal secara pribadi ke pribadi. Baru beberapa hari yang lalu saya menyapa YM beliau dan menanyakan satu dua persoalan. Karena itu, apresiasi beliau mendasarkan pada tulisan-tulisannya yang ada dalam kategori sketsa pada blog www.ndorokakung.com, syumonggo. Sebelum dan sesudahnya, serta kurang dan lebihnya mohon maaf, Ndoro.
Beberapa kisahnya tak perlu mengerutkan kening untuk memahami, meski menimbulkan keraguan antara fiksi dan kenyataan. Pada awal-awal sketsa, bertanya-tanya fiksikah ini, atau nyata? Beliau bilang saya orang ke tujuh ratus yang menanyakan itu. Dan ditambahkan pula—kurang lebih—dalam hidup, bukankah batas antara fiksi dan nyata itu baur, kabur?
Selanjutnya dalam catatan ini saya kutip beberapa hal yang menarik. Tentu sangat subyektif dan seperti pemulung yang tergesa di antara gegas memungut. Barangkali masih banyak yang tersisa, ada pula yang tercecer. Apapun itu, semoga berkenan menerimanya.
***
Lelananging jagad itu, bukan hal yang aneh bila membacai tulisannya, tapi siapa yang tak bertekuk lutut padanya jika beliau ternyata seperti yang termaktub dalam kutipan berikut:
Kamu punya sesuatu yang dibutuhkan perempuan. Kata-kata yang menyejukkan dan hati yang meneduhkan. Kamu sabar, mau mendengarkan keluhan. Perempuan butuh laki-laki seperti itu, Mas. Aku berani taruhan, pacarmu dulu pasti banyak ya, Mas?”
Barangkali lelaki yang dibutuhkan perempuan tidak akan lengkap bila tak memiliki kemampuan mumpuni untuk membuat perempuan melambung. Meski tak langsung, siapa yang—meminjam salah satu ujaran darinya—dawai-dawai hatinya tak akan berdenting, bila dirindui begitu dalam seperti berikut, emmm… atau ini sebenarnya sebuah gombalan? Lebih baik saya menyebutnya sebagai ungkapan kerinduan yang tulus. Hahaha.
Berjuang melawan godaan untuk meneleponnya, terutama di saat-saat saya tengah meranggas seperti pepohonan di musim kemarau, sungguh melelahkan.
Jika yang baru saja dituliskan itu sebuah gombalan, maka simaklah niatannya untuk menjadi pelindung, meneduhkan:
Tapi aku tahu. Ada baiknya kalau aku menuruti kata penafsir takdir itu saja: menjadi pohon. Supaya bisa merindangi. Meneduhkan … hatimu yang gelisah.
Ia seperti tentara yang mengelana di ujung-ujung saujana. Berdiri di tepian horizon untuk menjenguk ujung pelangi, lantas merekamnya dalam untaian-untaian kata. Maka, tepatlah kiranya bila ia adalah seorang pengelana yang bersenjata kata.
Aku cuma pengelana murba yang berlawalata sepanjang masa. Rumahku udara. Pergi ke mana suka. Senjataku kata. Tamengku cinta. Jalanku sunyi. Arahku matahari.
Namun, sebagai orang yang awas merekam apa yang terjadi di sekelilingnya, pemahamannya pun menumbuhkan kekhawatiran. Sebuah impian yang terlampau muluk—bila boleh menggunakan kata ini—baginya. Di sini bukan kelemahan yang mengemuka, namun sebentuk kesadaran diri. Sebuah hal yang mustahil untuk melipat dunia, bukan? Maka beliau pun mengandaikannya, mengharapkannya, yang akan terjadi entah kapan.
Ah, seandainya saja aku punya keberanian … aku ingin melipat dunia.
Selalu ada anak kecil dalam diri orang dewasa. Saya tak menyebut Ndoro seperti anak kecil, bukan itu maksud saya. Namun, kekhawatiran, rasa takut, barangkali trauma dimiliki oleh setiap orang.
Seperti anak yang berjalan malam, kita takut kepada suara sendiri yang tak berjawab …
Dan hati seorang lelaki? Kurang lebih memang seperti yang digambarkannya berikut ini:
Seperti apakah hati seorang lelaki? Cuaca yang mudah berubah atau lempung yang lembek? Begitu mudahkah kau berpindah kepada bayang-bayang?
Mungkin lelaki memang sukar fokus. Beragam hal kerapkali menarik perhatiannya. Tapi, bagaimana bila ia terluka?
“Lelaki tak pernah menangis, tapi hatinya berdarah.”
Air mata penanda kelemahan seorang lelaki. Maka tak pernah akan ditemukan lelaki yang menangis kecuali saking haru dan bahagianya. Atau, kalaupun menangis ia akan bersendiri, ketika lampu kamar telah mati, manakala selimut sudah menutupi.
Seperti halnya lelaki, perempuan pun menghiasi sebagian besar kisah-kisah di sketsa. Perempuan dalam kedudukannya yang indah bak pualam namun rapuh. Perempuan yang seperti layaknya perempuan, semak hati, puspas bila ditinggal pergi. Namun, terselip pula kenyataan yang tak bisa ditolak ihwal pentingnya perempuan:
“Karena perempuanlah yang sebetulnya lebih lengkap dalam mewujudkan ekspresi tubuh, dia yang hamil, menstruasi, menyusui, Sedang laki-laki tidak.”
Ndoro tak canggung untuk memadukan Bahasa Indonesia, Inggris, Jawa dan sedikit Italia dalam kisahnya. Beberapa tulisan, bahkan hanya terdiri dari Bahasa Inggris.
Beliau juga tak kagok untuk memamerkan pernak-pernik yang menempel, digunakan dan dipakai dalam tokoh-tokohnya. Tersebutlah di antaranya: Marlboro mentol hijau, Marlboro Light, Chanel, Bvlgari, Prada, Nokia, Sony, Nakamichi, Foster’s, Audemars Piguet, dasi YSL, kemeja Hugo Boss, Jaguar S-Type, TAG Heuer, Breitling Chronomat, iPod Nano, Drakkar Noir.
Yang mengagumkan, khasanah musiknya lengkap. Itu pun masih ditambah kemunculan lirik-lirik atau sekadar judul lagu dan penyanyinya yang pas dalam sebuah kisah. Di sini, lirik dan lagu bukan hanya ditampilkan sebagai tempelan, namun melengkapi, menjadi bagian dari kisah itu sendiri. Tersebutlah di antaranya: Asti Asmodiwati, Phill Collins, The Beatles, Letto, Billie Holiday, Freddie Mercury, Samsons, Sting dan The Police, Bob Dylan, Enya, GreenDay, Dream Theatre, Titik Puspa, Maroon Five, Kikan-Cokelat, Kings Of Convinience.
Membacai sketsa seperti menyelam di Bunaken. Sebenarnya saya belum pernah. Dari cerita mereka yang sudah pernah dan berbagi pengalaman. Tersebutlah, bahwa berenang di sana tak hanya badan yang basah, namun mata pun dimanjakan oleh panorama bawah laut yang begitu indah, bukan? Dan apa maknanya? Tentu si penyelam sendiri yang bisa merasakannya. Di sini, ketika membacai sketsa kemudian bila seperti menyelam; luruh dalam kisahnya: bukanlah hal yang aneh. Anda bisa saja menjadi sesosok lelaki wangi pandan atau perempuan bermafela kelabu. Ndoro Kakung sanggup menyentuhi sisi-sisi jiwa setiap orang.
Mentari, gemintang, langit, burung adalah sebagian dari wajah alam yang diukir Ndoro melalui kata-katanya. Meminjam kredo seorang teman, “Mau Tehe?”
Izinkan mentari pagi menghangatkan hatimu di masa muda. Dan biarkan angin siang yang lembut mendinginkan gairahmu — Arthur Rimbaud
“Bintang mungkin sebuah perlambang, bahwa yang telah mati pun bisa tetap terlihat indah dari kejauhan, bahkan setelah berabad-abad kemudian.
Sebab, kamu burung dara. Dan aku langit. Kita bertemu di ujung ranting. Titian yang rapuh dan getas.
Agus Noor menyebutnya fiksi mini, Sapardi biasa membuat puisi yang bercerita, entah apa istilahnya dalam dunia sastra? Ndoro pun tak ketinggalan, hanya tiga baris, namun merangkum semesta:
aku matahari
kamu hujan
KITA melahirkan pelangi …
Tentang kehidupan, barangkali nara blog yang sering melintas sampai sudah hafal ujaran beliau ini, “Selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan. Kita tak pernah tahu apa gerangan yang menunggu di sana.” Sesungguhnya, tak hanya itu, Kawan. Sabarlah sebentar dalam membaca di sana dan mutiara-mutiara itu, akan berkerlap-kerlip.
Hidup seperti meniti tali dengan stik yang menjaga keseimbangan, apakah akan jatuh atau terus berjalan?
Toh hidup tak selalu berjalan di atas garis lurus tanpa putus. Ada kalanya sebuah rehat menyela, agar kita berjarak, dan memandang lebih jernih.
Hidup bergerak di dalam, jauh, seperti tatkala kita mendengarkan perubahan suara gerimis. Gemuruh sungai. Gejolak badai.
Mungkin kamu juga tahu, hidup memang disesaki belukar penuh duri. Tak usahlah kau semak dan gamam hati. Selalu ada jalan simpang. Kamu tinggal memilih, ke kiri atau kanan. Pesanku satu, janganlah kau ambil jalan yang dilewati orang. Mungkin tak cocok buatmu. Pilihlah saja yang tak terlalu sukar, asal nyaman bagimu.
Sudah mencatat semuanya? Harap jangan lupakan pula bagaimana ‘usilnya’ beliau : Dia bilang lelaki seksi itu adalah yang, “Tatapannya bisa membuat pedhot [putus] tali kutang.” Hahaha, saya masih bertanya-tanya, memangnya bisa?
Saya kurang tahu, dalam deskripsi yang begitu halus ini. Tahukah Anda apa yang sebenarnya sedang beliau ceritakan?
Kami musafir sabar yang berkelana dari gurun ke gurun. Terkadang kami saling menyergap bagaikan dua pasukan yang sedang kalap berperang memperebutkan sejengkal oase di padang pasir.
Dia matahari. Aku hujan. Kami melahirkan pelangi.
Kami meronce angin. Meniti pasang buritan. Menyesap embun di pucuk-pucuk dedaunan … hingga kemudian terdampar di pantai kepasrahan setelah luluh lantak dihajar gelombang kebahagiaan.
Mengenai waktu, masa lalu dan perjalanan bulan. Saya terkesan pada kutipan berikut ini:
Old time? Dulu itu cuma abadi di masa lalu, Jeng.
Selamat berpisah November. Selamat datang Desember. Esok pasti membawa gemuruh dan gempitanya sendiri. Dan kita masih sempat mengejar waktu dan mimpi — seribu tahun lagi.
Disinggungnya pula ihwal usia, masa tua. Sebenarnya agar tidak terlampau panjang saya ingin memotongnya di beberapa bagian. Tapi dengan itu, saya khawatir ada yang terpotong, pesan yang tidak sampai dan tidak utuh. Maka, Ndoro, ijinkanlah saya menyajikan semuanya di sini.
Para tetua adalah air yang tenang. Kau bisa becermin di permukaannya. Anak muda, mereka yang selalu bergegas, adalah air yang mengalir, arus deras. Kau hanya melihat gerak yang lekas. Bukan kedalaman.
Hanya yang pernah bercita-cita, tapi kemudian khilaf. Hanya yang pernah bergelora, tapi kemudian redup tahu betapa benarnya waktu. Dalam kesedihan dan kearifannya, waktu adalah teman yang baik. Ia membikin kita tua. Ia membikin sederet nama jadi sejarah. Ia membikin serangkai gelombang menjadi mandek. Ia membikin arus deras menjadi reda.
Orang tak dapat melihat bayangan dirinya di dalam air yang mengalir, tapi ia dapat melihatnya pada air yang diam. Orang tua memang punya kelebihan. Mereka adalah air yang diam.
Jika kau cermat memandang ke dalamnya, kau akan melihat dirimu lengkap. Kau akan melihat dirimu dalam perbandingan. Di air itu, pengalaman telah membuang sauh, dan jauh di dasar terkandung simpanan kenangan. Terutama kenangan tentang kesalahan.
Tapi jangan terlampau marah kepada kesalahan. Kesalahan mungkin hanya satu tahap dalam mencari kebenaran. Bukankah anak kecil pun baru bisa berjalan setelah ia pernah jatuh?
Janganlah kau juga tergesa menyelesaikan semua dalam semalam. Hidup toh bukanlah sebuah lakon wayang, bisa kita selesaikan sebelum siang.
Boleh saja kau mengutuk semua kenangan sebagai kesalahan. Tapi hendaknya kau jangan sampai lupa bahwa kita memang harus terus mencari bagaimana sebaiknya menjadi benar.”
Tak lupa, menyoal cinta. Tema yang universal ini disajikan dengan begitu manis meminjam satu tokoh lain yang sepertinya begitu akrab dengan Ndoro. Ia adalah Paklik Isnogud. Seorang bijak tanpa menggurui yang selayaknya, Paklik, Paman, Uncle, terasa dekat dan hangat, seolah-olah tanpa jarak.
Lagi pula, sampean mestinya tahu cinta itu bukan sesuatu yang final. Ia selalu terbuka untuk ditafsir ulang. Tapi justru itu menariknya. Kita akan terus menemukan definisi baru tentang cinta, sesuai ruang dan waktu.
Dalam perkara hubungan, cinta saja ndak cukup, Mas. Ia membutuhkan komitmen. Tapi komitmen pun selalu bisa ditinjau ulang. Terbuka untuk ditengok, dievaluasi, dikoreksi, bahkan mungkin dibatalkan.
Apa boleh buat, Mas. Ini soal manusia. Dan manusia bukan benda mati. Ia selalu berubah, setiap saat. Karena itu, kalau sampean — atau siapa pun — hendak menjalin hubungan, jalani saja dulu. Serahkan urusan lainnya belakangan,”
Sejauh yang bisa saya ingat, Tuhan bukan tema yang sering ia singgung. Begitu pula dendam dan amarah. Habis, apa pula perlunya menuliskan unsur-unsur gelap manusia itu? Dan tidak berhenti sampai di situ. Di akhir pun beliau menyadarkan peran manusia yang seolah-olah membela Tuhan, padahal benarkah Tuhan perlu dibela? Pun apa akibat dari dendam dan amarah itu.
Tuhan toh tak pernah merestui peta. Kita manusia saja yang selalu merepotkan batas-batas.
Balarama tak punya jawaban. Tapi, ia tahu, pada akhirnya, dendam dan pelampiasan tak melahirkan seorang pemenang pun. Pelampiasan dendam yang mengendap tebal hanya akan menyisakan getir. Semua terluka.
Sebagai orang tua, ia bisa dengan mudah memasukkan pesan. Seperti seorang Bapak kepada anaknya. Pula bagaimana mestinya memberi jawab jika ada pertanyaan yang memusingkan. Berikut ini jurusnya.
“Menikahlah, Nak. Segeralah punya anak. Anak-anak itu di atas segalanya,”
Kalau kau mendapatkan pertanyaan yang susah dijawab atau tak ingin kau jawab, lebih baik kau balik bertanya kenapa dia menanyakan pertanyaan itu.
Di awal saya bilang tak perlu mengerutkan kening untuk memahami kisah-kisah yang tersaji dalam sketsa. Namun bukan berarti saya paham semuanya. Banyak pula yang saya lewati saking tidak ‘nyandak’nya saya. Namun, meminjam kata-kata Ndoro, barangkali itu: gara-gara menu makan siang yang aneh: nasi, sayur bayam, rendang daging, dan gorengan teks yang merajuk.
Every cloud has its silverlines…. Sketsa itu kendati tidak sesering dulu mengalami pembaruan, saya yakin masih akan terus dan terus ditambah di masa-masa yang akan datang. Tidak deras seperi cucuran selokan ke sungai. Melainkan—meminjam salah satu kata arkais yang sering nampang juga di sketsa—merabas di antara daun-daun lukisan katanya yang saling berpalun. Bagaimana kalau kita tunggu saja, yuk?
| Print article | This entry was posted by unclegoop on 27/01/2010 at 07:23, and is filed under jendela dunia. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |

about 6 months ago
pengen tau donkk YMnya ndoro
about 6 months ago
Untuk appresiasi bulan Februari
vote buat Unclegoop
hihihi
about 5 months ago
Hmm….saya hanya ingin menikmati perbincangan itu. Jelas tak akan pernah kutemui di tempat lain. Biarkan kumenikmatinya hingga benar-benar melahirkan pelangi.
about 5 months ago
coba tanya pada Ndoro, apakah dia masih sering jajan