New Year Eve
Dua malam tahun baru dilewatkan di kereta api. Apa itu permenungan? Apa itu kembang api? Apa itu perayaan?
Stasiun dengan hiruk pikuknya penumpang. Di sesela gegas gesa penumpang yang takut terlambat, saya sudah akan berdiri atau duduk di sana. Mendengar pengumuman yang selalu diawali bunyi penanda monoton yang anehnya terasa begitu melodius. Kereta, lokomotif, gerbong, ganti-berganti melintas di atas jalur rel.
Penumpang datang bersama kereta yang masuk lantas turun. Penumpang datang dari luar sana lalu masuk ke stasiun. Penumpang satu per satu masuk ke kereta. Kemudian kereta pergi. Ada jadwal yang harus dipenuhi, maka lekaslah karena kereta tak menunggu begitu pula hidup.
Pukul tujuh malam, biasanya kereta saya tiba. Terkadang sedikit terlambat, namun lebih sering tepat waktu. Meliriki nomor gerbong di tiket saat berdiri di tempat menunggu di mana kira-kira gerbong yang tepat akan berhenti. Masuk berjubel bersama dengan penumpang lain. Walau nomor tempat duduk sudah ada, namun tetap saja berebutan. Terkadang, bila kalah cepat saya pun harus bersitegang dengan penumpang lain yang menduduki kursi saya. Sebagai catatan, saya suka kursi di pinggir yang dekat jendela. Entah kenapa, pada saat yang sama banyak orang lain juga demen dengan kursi itu, kendati tidak sesuai dengan nomor tempat duduk yang tertera di tiketnya. Menunggu saat yang tepat, berebutan kesempatan yang barangkali tak akan datang dua kali, seperti hidup, bukan?
Kereta berjalan di atas rel. menyusuri sepanjang rel itu tak hendak pindah. Tujuan sudah jelas. Bebunyian mulai terdengar, beradunya roda rel, hantaman-hantaman besi itu monoton, menggerakkan, bersemangat. Percakapan di dalam kereta yang terdengar berdengung, tak jelas, sebuah pertemuan awal antara dua orang asing. Percakapan yang tak banyak, sekadarnya saja. Suara dari luar kereta pun tak banyak yang masuk. Seperti hening, gambaran yang berganti-ganti, namun diam. Pula hidup, bukan? Suara mana yang akan lebih sering didengar?
Dalam perjalanannya, kadang kereta pun berhenti sejenak. Sampai di sebuah stasiun akan berhenti sebentar. Ada sedikit penumpang yang turun, ada pedagang yang naik. Rupanya memang tak semua harus dibawa, kadang ada yang perlu diletakkan. Ditinggalkan di belakang. Di sisi lain, ada yang harus dipungut, diingat, jangan dilupakan dan terus dibawa. Apa yang ditinggalkan dan dipungut dalam hidup kemudian?
Alasan berhenti pun bisa juga karena berpapasan dengan kereta lain. Rel yang terbatas menyebabkan tak mungkin berjalan bersama-sama. Ada masa untuk mengalah, memberi jalan. Walau mungkin sedikit terlambat, kendati memperlama, namun selamat, bukan? Tak lupa kecepatan, ternyata tak tetap. Kadang lambat bahkan sampai-sampai berhenti. Lain saat begitu cepat, bahkan terasa seperti mengambang. Rasa-rasanya ada irama di sana. Langgam yang tak tetap, berubah-ubah namun rancak. Dalam hidup, kapan harus mengalah? Kapan melambat? Kapan berhenti, mengambil jeda? Kapan mesti bersicepat? Sudahkah irama dijaga? Bagaimana irama itu terasa?
Duduk di kereta, leluasa melihat ke dalam kereta: polah penumpang, pedagang, awak kereta, kondektur, polisi, calo. Pemandangan di luar yang berganti-ganti: ada kembang api yang kepagian memencar di langit, petir yang sebentar membuat terang angkasa, kereta lain yang melintas bergemuruh. Ada pula yang melintas begitu saja, namun ada pula yang tercetak tak hendak dilupa. Dan cermin jendela, tak lupa pula dilihat. Ketika luar dan dalam menyatu dalam kesatuan pandang. Menjalani hidup, mana yang lebih diperhatikan? Yang terjadi di luar atau yang berlaku di dalam?
Dan tentang tujuan, tak ke mana. Mendekat ke sana berarti gangguan pada tidur yang sudah tak nyenyak. Ada gairah, sedikit gelisah. Pula semangat walau terkencing-kencing. Padahal apa yang menunggu di tujuan itu tak kunjung jelas. Bisa serombongan tukang ojek yang menawarkan jasa atau pagi njekut yang masih berselimut kabut. Namun bila beruntung, sebundar purnama yang masih tersisa di dini hari pun bisa disaksikan. Dan hidup, apa tujuannya? Apakah ‘hanya’ gundukan tanah di bawah kamboja?
Semalam di kereta itu menjadi demikian panjang. Tak hanya permenungan. Bukan sekadar percikan kembang api yang selintas terlihat di luar kemudian hilang dan ditinggalkan. Semalam itu juga perayaan menyambut datangnya pagi, sebuah hari yang baru lagi. Selamat.

omahseta berkata...
makin dalam aja. awas uban bertambah di kepala lho, hehehehe
elia|bintang berkata...
pada akhirnya, kita harus memilih mana yg perlu dan mana yg tidak. jika kita bawa semuanya, mungkin kita udh ada di rumah sakit jiwa huehe
westnu berkata...
Pergantian tahun sama aja dengan pergantian hari kalo dipikir pikir
mini berkata...
sudah lama saya nggak naik kereta, paman… sekarang lebih sering naik bis. sama, saya juga suka duduk di pinggir yang dekat jendela.
haha. jadi kangen hiruk pikuk di dalam kereta