Menunggu
Sudah kali ke sekian Ara melirik hapenya. Dari layar LCD kecil yang dibingkai bodi hitam itu sudah lama tidak ada pendar cahaya. Dengan lain perkataan, tak ada pula getaran pun bunyi. Lebih jauh, itu juga berarti tak ada pesan masuk apa lagi panggilan.
Ara di antara sebal dan geram menunggu datangnya pesan singkat. Dia dalam posisi yang sulit. Semua itu, karena keputusannya untuk tak membuka sebuah rahasia. Ia memang bermaksud untuk menyembunyikan satu hal dari Abi. Bukan hal yang besar, hanya tak mau berbagi saja. Di sisi lain, Abi bukanlah sosok yang bisa menenggang hal semacam itu. Sedari mula, ia tidak pernah suka dengan rahasia, setidak penting apa pun itu. Abi kemudian akan merajuk, malas, enggan menyapa.
“Kamu masih marah? Ya udah, ntar bilang, ya, kalau sudah tak amarah, aku akan sms lagi.” Demikian Ara dalam sebuah pesannya. Memang, Ara pun tahu betul tabiat Abi yang satu itu. Bila Abi sudah mulai malas, ia pun akan enggan mengirimkan pesan. Hanya jawaban ketus, pula singkat yang akan Abi kirimkan. Dan itu, akan membuat Ara malas pula.
***
Sudah berulang kali Abi melirik hapenya. Dari layar LCD kecil yang dibingkai bodi perak itu, sudah lama tidak ada pendar cahaya. Ini tanda tak adanya getaran pun bunyi sebagai tengara adanya pesan atau panggilan masuk. Hape flip perak itu hanya dibuka tutup berulang kali tanpa maksud yang jelas sekadar melihat kalau-kalau ada pesan—dari Ara terutama—yang masuk.
Abi di antara sebal dan geram menunggu datangnya pesan Ara. Ia tak mengerti kenapa Ara selalu menyembunyikan hal itu? Bukan hal yang besar bagi Abi, namun entah untuk Ara. Rahasia, selalu mengganggu Abi sekecil apa pun itu. Maka, sebagai bentuk protes, ia hanya akan menjawab seperlunya dan cenderung ketus.
“Kamu masih tak mau bercerita? Ya udah, ntar bilang ya kalau sudah mau cerita, aku akan sms lagi.” Demikian pesan Abi yang terakhir sebelum kemudian harus melewati masa menunggu yang ngelangut itu.
***
Ara tak hendak mengirimkan sms bila Abi masih marah. Sebaliknya, Abi akan diam saja bila Ara masih tak mau bercerita. Dua-duanya kukuh. Tak luluh. Kemudian hanya saling menunggu entah sampai kapan, mungkin sampai jenuh, padahal rindu begitu penuh.
Waktu kemudian seperti mulur bagi keduanya. Detik demi detik berjalan terasa begitu lambat. Hanya melirik-lirik hape yang Ara bisa. Berulang kali membuka-tutup hape yang Abi lakukan tanpa hasil, sungguh tak penting.
Melalui lontaran pesan-pesan singkat itu memang selama ini hubungan Abi dan Ara lebih banyak terjalin. Menjadi jembatan keduanya untuk saling mengerti dan berbagi. Saat aliran pesan terhenti, runtuh pula jembatan itu. Betapa rapuhnya?
Abi kemudian akan berjalan tanpa harap. Tak lagi menatap dengan berani ke depan seperti biasanya. Bahkan, ia hanya akan memerhatikan langkahnya, menghitungnya, merasakan aliran darah dari dan di antara kaki-kakinya. Buat apa?
Dalam ngelangut itu, ia akan menunggu penjual bubur ayam selesai membuat pesanannya. Terasa demikian lama, tapi ia sabar. Sesabar ia tunggu pesan dari Ara. Pada kesempatan seperti itu, detil setiap peristiwa akan ia nikmati. Bagaimana lalu lalang mobil saling berpapasan, sepeda motor yang terselip-selip lincah dan resah di antara mobil. Pedagang keliling yang peluhnya sebiji jagung mengalir di lehernya. Semua lewat, terlintas begitu saja tanpa makna, tanpa kesan.
Apa yang dilakukan Ara? Abi tak tahu, itulah yang justru mengganggu Abi. Namun di lain sisi, ia tak mau menjilat ludahnya sendiri. Selama apa pun itu, akan ia tunggu pesan dari Ara.
Waktu berjalan sama saja sebenarnya. Tapi, kenapa terasa begitu lama? Abi masih juga tak mengerti kenapa semua terasa demikian lambat?
Barangkali ada yang telah usil mengutak-atik setelan waktu dan jalannya persitiwa, begitu pikir Abi. Peristiwa dan waktu yang memelan, melambat. Dan semangat, perlahan-lahan juga lenyap, seperti kapur barus yang musnah di dalam almari, menyublim.
Ah, Ara menjadi demikian jauh rasanya. Jarak dan bukan hanya waktu saja yang mulur. Jembatan jarak dan waktu itu merentang, memanjang. Abi secara tak sadar sampai pada keraguan, mampukah ia menyeberanginya?
Diraih hape perak bututnya. Dibuka dan terlihat pendar cahaya LCD. Kemudia ia gerakkan jempol tangan kanannya berpindah-pindah di antara tombol angka. Dijalinnya huruf-huruf menjadi kata, dirangkai menjadi sebuah pesan, “Selamat Tahun Baru 2010.” Sampaikah pesan itu pada Ara?

jarwadi berkata...
wah, ini novel nya ndoro kakung kok pada menginspirasi banyak orang ya, takjub de
Aku berkata...
Endak sampai ah..bukane baikanny krn abi telepon *diinjek karena lupa*
faruq berkata...
menunggu adalah sesuatu yang membosankan…
itikkecil berkata...
*jadi senyum-senyum sendiri*
ah gengsi…. susahnya untuk sekadar mengirim sms terlebih dahulu..
emina berkata...
apa kabar mas goop ? ^^
indra1082 berkata...
Menunggu memang menyebalkan..
Tapi enak menunggu daripada ditunggu
Alfaro Lamablawa berkata...
wah LDR yah…
sama, saya dan pacar saya juga begitu.
komunikasi memakai handphone.
yah syukur lah hubungan kami sudah 3 tahun lebih berjalan dengan jarak ini.
hal seperti tadi sering terjadi, apa mau dikata hehehe..
wahyu berkata...
yang paling penting dalam sebuah hubungan adalah komunikasi, rasa mengalah, dan pengertian…
karena itu adalah kesan terindah yg akan dirindui..
salam kenal
yans'dalamjeda' berkata...
Barangkali memang ada yang usil mengutak-atik setelan waktu dan jalannya peristiwa. Hingga kita pun merasa tak punya cukup waktu untuk sekedar berbicara menyampaikan keinginan kita. Jalan ceritapun berubah dari skenario yang sebelumnya kita bayangkan. hehe.
Salam.
Chic berkata...
eh aku ga setuju kalo itu gengsi, buat aku itu namanya memegang komitmen. kan udah komit ndak bakal sms duluan
qzink666 berkata...
Kalo nomernya bener sih dan operatornya gak lagi gangguan biasanya nyampe, om.
Eh, ini curcol bukan sih? Lama tak ngobrol, kapan undangannya sampe ke sini??
*diketok karena oot*