Di Perjalanan Hari

Kita tak pernah tahu akhir sebuah hari….

Manakala pagi hadir di hari baru, hal yang sering saya perhatikan adalah status teman-teman baik di mukabuku maupun twitter. Dari sekadar ucapan, “Selamat Pagi,” sampai dengan status yang berima semacam, “Kamis, menangis; Rabu, kelabu; Minggu, merindu.” Selain itu, tentu saja masih banyak yang lain.

Saya perhatikan, selain ucapan salam banyak juga yang menaruh harapan di pagi itu. Hal ini ditandai dengan kata-kata, “semoga” yang berada di awal status.

Hari yang baru, pagi baru, matahari baru, benarkah baru? Continue reading

Di Tengah Laju Kereta Ekonomi Progo

Syukur yang hadir tak terduga-duga….

Banyak moda yang bisa saya pilih untuk perjalanan bolak-balik saya dari Jakarta ke kampung halaman. Sebut saja kereta api, bus dan pesawat terbang.

Kereta akhirnya menjadi pilihan karena berbagai pertimbangan. Pertama-tama menyangkut harga tiketnya. Apabila dibandingkan dengan pesawat terbang, tentu saja fluktuasi harga tiket kereta paling logis bagi saya yang penghasilannya pas-pasan begini. Belum lagi bila mengingat frekuensi pulang kampung saya yang relatif sering, tentu akan sangat tak bijak bila saya memaksakan diri menggunakan pesawat terbang.

Sejatinya, antara kereta api dan bus tak jauh berbeda harga tiketnya. Lebih lagi mengingat dengan bus saya bisa turun dekat dengan rumah. Namun, menggunakan bus berarti juga mengkorupsi waktu sejenak. Pasalnya ialah, keberangkatan bus yang lebih awal dari kereta dan pada saat masih berada di jam kantor tak memungkinkan saya untuk mengejarnya.berjejal ada yang bisa tidur

Sawunggalih, akhirnya menjadi pilihan utama saya. Kelas bisnis menjadi pertimbangan perjalanan yang relatif nyaman. Belum lagi mengingat harga tiketnya yang terjangkau dan mendukung keberlangsungan kondisi keuangan saya, maka kloplah apabila kereta ini yang saya pilih.

Mula-mula tidak ada masalah menggunakan Sawunggalih dua kali sebulan. Namun di sisi lain, kebutuhan untuk pulang tiap minggu sekali karena satu dan lain urusan harus mengubah keputusan itu. Lagi-lagi soal biaya yang menjadi alasannya. Akhirnya, saya pun harus berdamai dengan diri saya sendiri, mengorbankan kenyamanan dan memilik kereta yang lebih murah.

Lantas apa pilihan saya? Tentu saja kereta kelas ekonomi menjadi jawaban kebutuhan saya tersebut. Progo atau Bengawan adalah kereta ekonomi yang bisa saya pilih untuk mengantar saya kembali ke rumah. Fakta lain yang mendorong memilih kedua kereta tersebut ialah, banyak teman saya yang setiap minggu sudah terlebih dahulu menggunakannnya. Akhirnya, jadilah saya memilih Progo bersama dengan teman-teman saya. Kami berombongan memesan tiket dan naik kereta tersebut. Continue reading