Pengemis di Sepanjang Tangga Halte

beggar

Entah siapa nama ibu itu. Beliau selalu duduk di tempat yang sama. Busananya saya tak ingat betul, namun kerudung selalu menutup kepalanya.

Dua orang anak kecil akan berlarian di sepanjang tangga. Terkadang bahkan memanjat bagian-bagian yang berbahaya. Di dada ibu itu, ada pula bayi yang digendong dan lebih sering tertidur sepertinya.

Ibu itu pengemis di tangga halte. Persis di sebuah tikungan pada jalur tangga itu. Mengganggu sebenarnya apabila ada penumpang dan calon penumpang di sana yang hendak berpapasan.

Belum lagi dua bocah lelaki yang menjadikan tangga itu sebagai arena bermainnya. Bajunya yang dekil, kakinya yang tak bersepatu, sukses membuat gadis cantik dengan rok dan kaki dibalut stoking hitam mengernyitkan dahinya. Seperti jijik, hendak menghindari.

Di sepanjang tangga itu, pada kelokan yang lain seorang kakek berdiri tak sempurna disangga tongkat. Sebelah tangannya memegang tongkat, sebelah yang lain terulur mengharap receh. Beliau pun mengganggu jalan penumpang dan calon penumpang yang berpapasan persis di tikungan itu.

“Setiap tikungan kehidupan adalah keajaiban.” Ndoro Kakung, dalam sabdanya. Tapi, benarkah keajaiban semacam ibu dan bayinya pun kakek dengan tongkat yang diharapkan?

Maaf, saya lupa, barusan bukan sedang memperbincangkan kehidupan, namun hanya sejalur tangga menuju halte transjakarta. Dan berbagi ruang, walau mungkin ngeselin, tapi menjadi sebuah keniscayaan di kota ini, bukan?

Asal gambar.

8 Responses

  1. ulan
    ulan 16/12/2009 at 09:22 |

    ^_^ kecil pun hidup ya om..

    iya, mbak, semoga saja terus begitu :)

    [Jawab?]

  2. sawali tuhusetya
    sawali tuhusetya 16/12/2009 at 17:45 |

    sungguh, jakarta makin sarat dengan berbagai problem sosial, mas goop. dan kini agaknya problem sosial itu sudah menular ke kota2 lain. hampir di setiap sudut dan tikungan, kita disuguhi pemandangan yang memilukan. doh.

    kurang lebihnya memang demikian, ya, pak? :(

    [Jawab?]

  3. Dilla
    Dilla 17/12/2009 at 14:18 |

    Setiap manusia berhak menempati ruang di dunia ini. Cuma masih ada orang yang tidak menghargai hak tersebut. Menganggap org lain tidak pantes di sini, di situ, atau di mana lah..
    *lha kok serius bgt komennya* :lol:

    bagus dong kalau komennya serius :) mengenai penghargaan terhadap ruang dan orang-orang yang berhak di sana, bukankah ada aturannya–bagaimana semestinya–di mana di suatu tempat boleh atau tidak untuk melakukan suatu hal tertentu?

    [Jawab?]

  4. Michael George
    Michael George 17/12/2009 at 16:38 |

    The moving photograph

    :roll:

    [Jawab?]

  5. Nenyok
    Nenyok 26/12/2009 at 22:31 |

    Salam
    Keberaadaan mereka yang terlanjur dianggap niscaya itu sebenarnya tanggung jawab sapa ya, pastinya bukan krn takdir dong :) *nyambung ga ya*

    errr… nyambung, sih, tapi saya juga tidak merasa bertanggung jawab :( jadi, tanggung jawab siapa, dong? :(

    [Jawab?]

  6. katakataku
    katakataku 27/12/2009 at 13:40 |

    @nenyok; yupz, pasti bukan hanya karena takdir semata, lalu memang sebenarnya yang lebih bertanggung jawap itu sapa (ih kok sama juga yah ptanyaannya) .doh.

    saya juga pengen tahu banget, siapa yang mestinya bertanggung jawab?

    [Jawab?]

  7. venus
    venus 28/12/2009 at 14:31 |

    aku sedih bacanya :(

    oiya, selamat taun baru, mas :)

    kenapa sedih, mbok?
    ah ya, selamat tahun baru juga, ya?
    tapi…. apa ngga kegasiken, sih? :roll:

    [Jawab?]

  8. haris
    haris 29/12/2009 at 23:18 |

    peminta2 adalah salah satu penanda ruang karena mereka akan ada dlm satu waktu lama di suatu tempat. di beberapa tempat di solo, saya juga menemukan pengemis2 tertentu yg selalu nongkrong di tempat yg sama.

    apa mereka itu mirip pedagang kaki lima yang memiliki tempat mangkal, ya?

    [Jawab?]

Leave a Reply