beggar

Entah siapa nama ibu itu. Beliau selalu duduk di tempat yang sama. Busananya saya tak ingat betul, namun kerudung selalu menutup kepalanya.

Dua orang anak kecil akan berlarian di sepanjang tangga. Terkadang bahkan memanjat bagian-bagian yang berbahaya. Di dada ibu itu, ada pula bayi yang digendong dan lebih sering tertidur sepertinya.

Ibu itu pengemis di tangga halte. Persis di sebuah tikungan pada jalur tangga itu. Mengganggu sebenarnya apabila ada penumpang dan calon penumpang di sana yang hendak berpapasan.

Belum lagi dua bocah lelaki yang menjadikan tangga itu sebagai arena bermainnya. Bajunya yang dekil, kakinya yang tak bersepatu, sukses membuat gadis cantik dengan rok dan kaki dibalut stoking hitam mengernyitkan dahinya. Seperti jijik, hendak menghindari.

Di sepanjang tangga itu, pada kelokan yang lain seorang kakek berdiri tak sempurna disangga tongkat. Sebelah tangannya memegang tongkat, sebelah yang lain terulur mengharap receh. Beliau pun mengganggu jalan penumpang dan calon penumpang yang berpapasan persis di tikungan itu.

“Setiap tikungan kehidupan adalah keajaiban.” Ndoro Kakung, dalam sabdanya. Tapi, benarkah keajaiban semacam ibu dan bayinya pun kakek dengan tongkat yang diharapkan?

Maaf, saya lupa, barusan bukan sedang memperbincangkan kehidupan, namun hanya sejalur tangga menuju halte transjakarta. Dan berbagi ruang, walau mungkin ngeselin, tapi menjadi sebuah keniscayaan di kota ini, bukan?

Asal gambar.