batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Pengemis di Sepanjang Tangga Halte

Wednesday, 16 December 2009 pukul 7:21 WIB 8 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

beggar

Entah siapa nama ibu itu. Beliau selalu duduk di tempat yang sama. Busananya saya tak ingat betul, namun kerudung selalu menutup kepalanya.

Dua orang anak kecil akan berlarian di sepanjang tangga. Terkadang bahkan memanjat bagian-bagian yang berbahaya. Di dada ibu itu, ada pula bayi yang digendong dan lebih sering tertidur sepertinya.

Ibu itu pengemis di tangga halte. Persis di sebuah tikungan pada jalur tangga itu. Mengganggu sebenarnya apabila ada penumpang dan calon penumpang di sana yang hendak berpapasan.

Belum lagi dua bocah lelaki yang menjadikan tangga itu sebagai arena bermainnya. Bajunya yang dekil, kakinya yang tak bersepatu, sukses membuat gadis cantik dengan rok dan kaki dibalut stoking hitam mengernyitkan dahinya. Seperti jijik, hendak menghindari.

Di sepanjang tangga itu, pada kelokan yang lain seorang kakek berdiri tak sempurna disangga tongkat. Sebelah tangannya memegang tongkat, sebelah yang lain terulur mengharap receh. Beliau pun mengganggu jalan penumpang dan calon penumpang yang berpapasan persis di tikungan itu.

“Setiap tikungan kehidupan adalah keajaiban.” Ndoro Kakung, dalam sabdanya. Tapi, benarkah keajaiban semacam ibu dan bayinya pun kakek dengan tongkat yang diharapkan?

Maaf, saya lupa, barusan bukan sedang memperbincangkan kehidupan, namun hanya sejalur tangga menuju halte transjakarta. Dan berbagi ruang, walau mungkin ngeselin, tapi menjadi sebuah keniscayaan di kota ini, bukan?

Asal gambar.

8 komentar »

  1. Pada Wednesday, 16 December 2009 pukul 7:21 WIB,
    ulan berkata...

    ^_^ kecil pun hidup ya om..

    iya, mbak, semoga saja terus begitu :)

  2. Pada Wednesday, 16 December 2009 pukul 7:21 WIB,
    sawali tuhusetya berkata...

    sungguh, jakarta makin sarat dengan berbagai problem sosial, mas goop. dan kini agaknya problem sosial itu sudah menular ke kota2 lain. hampir di setiap sudut dan tikungan, kita disuguhi pemandangan yang memilukan. doh.

    kurang lebihnya memang demikian, ya, pak? :(

  3. Pada Wednesday, 16 December 2009 pukul 7:21 WIB,
    Dilla berkata...

    Setiap manusia berhak menempati ruang di dunia ini. Cuma masih ada orang yang tidak menghargai hak tersebut. Menganggap org lain tidak pantes di sini, di situ, atau di mana lah..
    *lha kok serius bgt komennya* :lol:

    bagus dong kalau komennya serius :) mengenai penghargaan terhadap ruang dan orang-orang yang berhak di sana, bukankah ada aturannya–bagaimana semestinya–di mana di suatu tempat boleh atau tidak untuk melakukan suatu hal tertentu?

  4. Pada Wednesday, 16 December 2009 pukul 7:21 WIB,
    Michael George berkata...

    The moving photograph

    :roll:

  5. Pada Wednesday, 16 December 2009 pukul 7:21 WIB,
    Nenyok berkata...

    Salam
    Keberaadaan mereka yang terlanjur dianggap niscaya itu sebenarnya tanggung jawab sapa ya, pastinya bukan krn takdir dong :) *nyambung ga ya*

    errr… nyambung, sih, tapi saya juga tidak merasa bertanggung jawab :( jadi, tanggung jawab siapa, dong? :(

  6. Pada Wednesday, 16 December 2009 pukul 7:21 WIB,
    katakataku berkata...

    @nenyok; yupz, pasti bukan hanya karena takdir semata, lalu memang sebenarnya yang lebih bertanggung jawap itu sapa (ih kok sama juga yah ptanyaannya) .doh.

    saya juga pengen tahu banget, siapa yang mestinya bertanggung jawab?

  7. Pada Wednesday, 16 December 2009 pukul 7:21 WIB,
    venus berkata...

    aku sedih bacanya :(

    oiya, selamat taun baru, mas :)

    kenapa sedih, mbok?
    ah ya, selamat tahun baru juga, ya?
    tapi…. apa ngga kegasiken, sih? :roll:

  8. Pada Wednesday, 16 December 2009 pukul 7:21 WIB,
    haris berkata...

    peminta2 adalah salah satu penanda ruang karena mereka akan ada dlm satu waktu lama di suatu tempat. di beberapa tempat di solo, saya juga menemukan pengemis2 tertentu yg selalu nongkrong di tempat yg sama.

    apa mereka itu mirip pedagang kaki lima yang memiliki tempat mangkal, ya?

RSS komentar untuk tulisan ini URI Lacak balik

Tinggalkan Komentar