melintas batas
Pengemis di Sepanjang Tangga Halte

Entah siapa nama ibu itu. Beliau selalu duduk di tempat yang sama. Busananya saya tak ingat betul, namun kerudung selalu menutup kepalanya.
Dua orang anak kecil akan berlarian di sepanjang tangga. Terkadang bahkan memanjat bagian-bagian yang berbahaya. Di dada ibu itu, ada pula bayi yang digendong dan lebih sering tertidur sepertinya.
Ibu itu pengemis di tangga halte. Persis di sebuah tikungan pada jalur tangga itu. Mengganggu sebenarnya apabila ada penumpang dan calon penumpang di sana yang hendak berpapasan.
Belum lagi dua bocah lelaki yang menjadikan tangga itu sebagai arena bermainnya. Bajunya yang dekil, kakinya yang tak bersepatu, sukses membuat gadis cantik dengan rok dan kaki dibalut stoking hitam mengernyitkan dahinya. Seperti jijik, hendak menghindari.
Di sepanjang tangga itu, pada kelokan yang lain seorang kakek berdiri tak sempurna disangga tongkat. Sebelah tangannya memegang tongkat, sebelah yang lain terulur mengharap receh. Beliau pun mengganggu jalan penumpang dan calon penumpang yang berpapasan persis di tikungan itu.
“Setiap tikungan kehidupan adalah keajaiban.” Ndoro Kakung, dalam sabdanya. Tapi, benarkah keajaiban semacam ibu dan bayinya pun kakek dengan tongkat yang diharapkan?
Maaf, saya lupa, barusan bukan sedang memperbincangkan kehidupan, namun hanya sejalur tangga menuju halte transjakarta. Dan berbagi ruang, walau mungkin ngeselin, tapi menjadi sebuah keniscayaan di kota ini, bukan?
| Print article | This entry was posted by unclegoop on 16/12/2009 at 07:21, and is filed under pintu jiwa. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |

about 7 months ago
^_^ kecil pun hidup ya om..
about 7 months ago
sungguh, jakarta makin sarat dengan berbagai problem sosial, mas goop. dan kini agaknya problem sosial itu sudah menular ke kota2 lain. hampir di setiap sudut dan tikungan, kita disuguhi pemandangan yang memilukan. doh.
about 7 months ago
Setiap manusia berhak menempati ruang di dunia ini. Cuma masih ada orang yang tidak menghargai hak tersebut. Menganggap org lain tidak pantes di sini, di situ, atau di mana lah..
*lha kok serius bgt komennya*
about 7 months ago
The moving photograph
about 7 months ago
Salam
*nyambung ga ya*
Keberaadaan mereka yang terlanjur dianggap niscaya itu sebenarnya tanggung jawab sapa ya, pastinya bukan krn takdir dong
about 7 months ago
@nenyok; yupz, pasti bukan hanya karena takdir semata, lalu memang sebenarnya yang lebih bertanggung jawap itu sapa (ih kok sama juga yah ptanyaannya) .doh.
about 7 months ago
aku sedih bacanya
oiya, selamat taun baru, mas
about 7 months ago
peminta2 adalah salah satu penanda ruang karena mereka akan ada dlm satu waktu lama di suatu tempat. di beberapa tempat di solo, saya juga menemukan pengemis2 tertentu yg selalu nongkrong di tempat yg sama.