ibu_menyusui

Baju toga itu, terasa panas di badan. Ruangan yang penuh, sesak dengan mahasiswa yang hendak diwisuda. Petinggi kampus dan orang tua/wali mahasiswa membuat kian gerah.

Syukur layak dipanjatkan karena ijazah yang baru saja didapat, juga kesempatan keluar dari gedung yang sudah demikian panas. Namun, saat sampai di luar gedung, kebingungan kemudian.

Ribuan mahasiswa yang diwisuda, orang tua dan pengantar yang jauh lebih banyak membuat diri seperti kehilangan arah. Tujuan sebenarnya hendak mencari di mana orang tua berada. Tadi sewaktu upacara wisuda, wisudawan dan orang tua duduk terpisah. Pintu keluar dan masuk pun tak sama.

Ingin berdiri saja diam dan menunggu, namun bagaimana bila mereka juga melakukan hal yang sama? Ah, begini repotnya bila memiliki orang tua yang tak bisa menggunakan hape.

Akhirnya, berjalan-jalanlah ke sana ke mari mencoba mencari di antara ribuan orang yang seperti terserang histeria. Syukur mula-mula bertemu dengan om dan adek serta kakek. Tapi, ibu dan bapak masih juga belum ketemu, entah di mana. Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba suara yang begitu dikenal terdengar memanggil. Itulah suara ibu. Sosok beliau belum lagi terlihat, namun suaranya sudah terdengar lantang pertanda beliau berteriak.

Setelah menoleh ke seantero arah, akhirnya ketemu juga sosoknya. Beliau masih saja berteriak-teriak, “Duhh, budaya desa jangan dibawa ke sini dong, Bu!” Demikian saya bilang kepada beliau. Memang, ibu saya suka berteriak dari dulu, termasuk bila marah kepada saya.

Namun, apa yang beliau lakukan saat itu benar-benar membuat saya malu. Bagaimana tidak, bila di tengah-tengah suasana seperti itu, di antara mahasiswa dan keluarganya yang berpendidikan tinggi, eh, kok beliau malah berteriak-teriak mirip di hutan saja. Ingin rasanya saya lipat beliau dan  dimasukkan ke dalam saku.

Tapi begitulah ibu saya, sosok yang bersemangat terutama bila untuk putranya. Masih teringat jelas di benak saya bagaimana beliau dari pinggir lapangan bola memanggil saya. Saat itu, tengah hari saat saya pulang dari sekolah dan langsung bermain bola. Beliau tergopoh-gopoh ke lapangan dan meminta saya untuk segera pulang. Saya harus makan siang dan tidur, katanya. Tak terbayangkan bagaimana malunya. Saat itu, saya berjalan keluar lapangan diiringi tatapan mata teman-teman yang seperti mencibir.

Ketika itu, yang ada hanya rasa malu. Kenapa ibu harus berteriak-teriak di saat wisuda? Kenapa beliau harus datang justru ketika tim kami menderita kekalahan hanya buat makan dan tidur siang? Tapi itulah ibu, sedikit memalukan memang.

***

Waktu berlalu, saya bukan lagi anak kecil yang mesti disuruh pulang untuk makan dan tidur siang. Saya malah makin bandel, pulang sekolah selalu terlambat dua jam dari waktu yang semestinya. Caci maki pun kembali terulang dari mulutnya, mengingatkan agar saya pulang tepat waktu dan belajar tidak bermain saja kerjanya.

Sampai satu ketika, saya pergi dari rumah dan menginap di rumah teman tanpa pamit. Akibatnya, aksi diam dari beliau dan warga rumah yang lain. Duhh, saya rindu dimarahi.

Saat kuliah, seminggu sekali saya bertemu beliau. Selalu saja saya kangen dimarahi dan sambal buatannya. Sambal tak masalah karena tiap kali pulang, sambal selalu tersedia. Lain halnya dengan marah, sekadar untuk mendapat marahnya, sampai-sampai saya harus mencari masalah dengannnya.

Barangkali aneh, dimarahi kok senang? Tapi demikianlah saya, rasanya ada yang kurang bila tak mendapat semprotannya itu.

Adapun perihal teriakan beliau saat wisuda itu, sekarang saya memaknainya dengan berbeda. Barangkali ketika itu, beliau ingin pamer pada dunia, “Ini lho, anakku diwisuda.” Tapi cara pengungkapannya saja yang lain dan unik. Wisuda, toga dan selempang tambahan penanda cumlaude, mungkin saja semacam capaian tersendiri baginya. Sebuah hasil kerepotan beliau, mungkin juga diiringi hutang, prihatin atau bahkan puasa menahan lapar.

Pula ketika beliau repot menjemput saya sewaktu bermain bola. Barangkali cibiran teman-teman itu, adalah iri karena ibunya tak mau repot ke lapangan dan memanggil mereka pulang. Jadi, apa alasan saya malu punya ibu yang demikian hebat itu?