Bulir-bulir padi itu mulai menguning. Seiring gerakan angin yang semilir, nampak tangkainya terasa begitu berat menahan beban. Ia semakin menunduk dan menunduk.
Para petani empunya sawah akan sibuk kemudian. Disiapkan upacara kecil, di tempat saya namanya “wiwit” atau “ndeseli”. Upacara ini berupa sesaji terdiri dari nasi, sayur-mayur, urap dan daging ayam atau telur. Tetangga terdekat akan diundang atau diantar makanan itu. Ada pula sebagian kecil dibungkus daun pisang dan diletakkan di sawah. Ini adalah bentuk syukur atas panen yang akan menjelang, persembahan kepada Dewi Kesuburan, Dewi Sri.
Esok harinya, beberapa kepala keluarga, suami bersama dengan istrinya akan berbondong-bondng datang ke sawah. Mereka ini, hendak memanen padi. Dahulu ibu-ibu akan membawa alat khusus bernama “ani-ani”. Sebuah alat pemotong batang padi yang khusus. Alat ini memerlukan kesabaran dalam penggunaannya. Ia hanya akan memotong sedikit saja batang padi di bawah bulir-bulir padi. Nantinya, sisa batang padi yang masih panjang itu akan dimanfaatkan para peternak kerbau.
Kini ani-ani sudah jarang digunakan. Arit atau sabit lebih memegang peran. Selain lebih cepat, metoda merontokkan bulir padi pun sudah berubah.
Selepas bulir padi dipotong dengan ani-ani kemudian dimasukkan ke dalam karung bekas pupuk atau karung goni. Jumlah karung yang diperoleh setiap orang bervariasi, tergantung kecepatan memotong padi.
Karung-karung ini, kemudian akan dibawa ke rumah si empunya sawah. Rupanya, hal inilah salah satu sebab kenapa rumah di desa besar-besar namun minim perabot. Bila sawah yang dimiliki luas, tentu saja panenan dapat berkarung-karung. Biasanya, akan ditumpuk begitu saja di ruang tamu yang kursi-kursi tamunya sudah dipinggirkan.
Pemanen akan pulang pergi mengangkat karung-karung itu dari rumah si empunya sawah ke sawah. Beberapa menggendongnya, ada pula yang meletakkannya di atas kepala. Ibu-ibu biasanya akan menggendong, sementara bapak-bapak atau mungkin anaknya akan meletakkan karung di atas kepalanya atau ada juga yang memakai sepeda.
Sampai tahap ini saja, bisa-bisa akan memakan waktu satu hari. Esoknya, tugas lain masih menunggu, khususnya untuk ibu-ibu walaupun ada pula beberapa bapak yang turut serta. Tugas itu, adalah memisahkan bulir padi dari batang padinya. Cara memisahkannya dengan menginjak-injak, namun sebenarnya juga dengan sedikit meremas batang-batang padi itu menggunakan kaki. Tak heran, akan ditemukan kaki-kaki yang pecah-pecah karena panas juga akibat aktivitas ini.
Apakah dengan dihasilkannya bulir padi yang sudah terpisah dari batangnya, maka tugas sudah selesai? Ternyata, di antara bulir-bulir itu, ada pula yang kosong/kopong tanpa isi. Butiran ini, kemudian harus dipisahkan dari kumpulan yang bernas, yaitu yang baik dan berisi.
Ada dua cara seingat saya untuk memisahkannya. Pertama dengan memasukkan bulir yang sudah dipisahkan dengan batangnya itu ke keranjang. Kemudian ibu-ibu itu akan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala. Selanjutnya, dikeluarkanlah bulir-bulir sedikit demi sedikit dari keranjang. Bulir yang bernas akan langsung jatuh ke bawah. Sementara itu, yang kosong akan terbang terbawa angin dan mengumpul sendiri. Selanjutnya, tinggal mengumpulkan saja mana yang kosong dan mana yang berisi. Di sini, gerakan angin dan gravitasi bumi sudah dimanfaatkan, bukan?
Cara kedua dengan menggunakan tampat. Terbuat dari bambu—sama seperti juga keranjang—namun bentuknya lingkaran dengan tepi-tepian yang menonjol sebagai wadah dari bulir padi. Cara ini lebih sukar, pertama karena padi yang bisa dimuat lebih sedikit. Ibu-ibu itu, harus memasukkan padi sedikit demi sedikit ke tampah. Nah, kesuliatan kedua karena kemudian tampah itu harus digerakkan naik dan turun agar bulir bisa terbang. Entah bagaimana, bulir yang kosong akan terbang sementara yang bernas akan kembali ke tampah dan terbang lagi begitu berulang-ulang. Proses ini di tempat saya dinamakan “nepleki”.
Setelah bulir padi yang bernas diperoleh dan dikumpulkan oleh masing-masing ibu. Kemudian ia akan bilang ke empunya sawah. Nah, proses selanjutnya dinamakan “mbawoni”. Ini adalah upah pemanen dari empunya sawah. Menggunakan panci yang telah ditentukan, akan dibuat sebuah perbandingan. Lebih konkritnya begini: dari kumpulan padi yang diperoleh masing-masing petani, akan diambil tujuh bagian menggunakan panci untuk empunya sawah. Sementara satu bagian untuk pemanen. Demikian seterusnya.
Proses memanen padi pun selesai. Hasilnya, adalah tumpukan padi yang menggunung di ruang tamu. Namun, ini belum selesai, ini belum bisa dimakan manusia. Perlu proses selanjutnya seperti di gejlog lesung atau dimasukkan ke penggilingan padi.




keren. baru ngerti saya sebutan untuk tahap2 pemanenan, masbro.
walaupun nenek saya petani, dulu saya jarang ikut memanen. soalnya tinggal di kota yang berbeda. tapi dulu saya sering kok diajak ke sawah jauh oleh kakek saya. sementara sawah di belakang rumah nenek jarang saya perhatikan. hehehe…
[Jawab?]
sering merhatiin moment panenan macam ini kl sedang jalan ke pedesaan, tapi tetap juga nga ngerti tahapannya.:)
mo berpindah profesi mas?
[Jawab?]
Karena saya sempat mengalami tinggal bersama petani, jadi paham bener cara menanam padi sampai memanennya.
Sekarang udah modern Mas, banyak yang berubah. Ani-ani sudah jarang, ngerontokin pake mesin, jemur masukin oven, langsung giling deh, jadi prosesnya bisa dalam satu hari.
Kalo petani tradisional sih, ya memang masih sepeprti yang Mas ceritakan.
[Jawab?]
wah…musim gebluk pari?! lama ga mampir ke sini, unclegoop sudah panen.
Suasana desa dengan hamparan sawah dan padi yang menguning menumbuhkan gairah yang merindu.
[Jawab?]
kalo di tempat almarhum ayah saya, upah utk penggarap sawah diberikan dalam bentuk uang, bukan hasil panenan mas. entah bagaimana pembagian persenannya. saya malah baru tahu kalo ada sistem pembayaran memakai padi seperti ini.
[Jawab?]