melintas batas
Buku Kita
Ini hujan pertama, Ara. Masihkah kau ingat, kira-kira setahun yang lalu. Saat itu, entah hujan ke berapa. Kau dan aku duduk di beranda. Apa yang kita bicarakan waktu itu, ya? Ah, iya. Kita berbicara tentang buku, kisahku dan kisahmu, kisah kita masing-masing.
Mula-mula memang aku hanya membaca sampulnya dari bukumu itu. Ada judul, penulis dan semacam kisah singkat. Apa yang kudapat dari sekadar sampul itu? Tentu saja tak banyak, bahkan mungkin tak kudapat apa-apa.
Pun halnya denganmu, kau hanya membacai sampul bukuku saja. Barangkali kata pengantar, halaman persembahan, bahkan tak sampai daftar isi. Apa yang kau dapat dari bacaanmu yang singkat itu? Tentu saja tak banyak, bahkan mungkin tak kau dapat apa-apa.
Lantas, tiba-tiba saja kita punya buku kita. Di situ, kita mulai menulis kisah kita tak lagi di bukuku dan bukumu. Sembari sibuk menulis, tak lupa aku bacai bukumu. Demikian halnya denganmu, kau pun terkadang asyik membukai lembaran demi lembaran bukuku.
Haha, terkadang aku temukan kisah yang lucu di sana. Tapi, seringkali kutemukan juga cerita sedih yang ingin kau lupakan. Sementara kau, kulihat lebih tenang membaca, sesekali tertawa atau sekadar tersenyum. Memang sebenarnya tak ada yang benar-benar istimewa di bukuku kecuali prestasi-prestasiku yang membanggakan, hahahaha *ditendang*.
Buku kita itu, kita tulis bukan dengan lancar. Terkadang, ada pula masa di mana bisa ditemukan coretan-coretan yang mengotori halaman-halamannya. Pun bisa juga dilihat, beberapa tanda baca sampai merusakkan kertas atau deretan tanda seru yang berapi-api dibubuhkan. Itulah nampaknya masa ketika kemarahan melanda dan negosiasi hampir menemui jalan buntu.
Tapi tak boleh lupa, beberapa lembar kemudian dapat juga disaksikan hal berikut ini: hurufmu dan hurufku saling berdekatan, nyaris menempel, saling belit seperti sedang berpelukan. Betapa mesranya? Pada beberapa lembar yang lain, akan didapati hurufmu yang mendadak dicoret dan berganti hurufku. Pula barisan kata dariku yang terselip-selip deretan kata darimu.
Kalau ingatanku tidak berkhianat, itu masa di mana kita saling mengoreksi. Waktu itu, ketika kau berikan ruang untuk usulanku. Saat demikian itu, adalah ketika kuterima saran-saran darimu. Bisa juga, itu adalah lembaran di mana kita bahu-membahu mengisinya.
Setahun kurang lebih tulisan kita sudah menghiasi buku itu. Banyak cerita yang bisa dibaca. Beberapa kisah tak hendak diulang lagi. Namun, lembaran kosong masih begitu banyak yang menanti diisi. Bisa saja kita bersama-sama kembali mengisinya dengan aneka rupa kisah. Tapi, tak menutup kemungkinan tinta kita habis, cerita kita usai atau titik yang demikian besar membayang. Kita tak pernah tahu, kan?
Akhirnya, pada kesempatan ini aku ingin berterima kasih atas lembaran-lembaran yang bersama-sama telah kita tulisi. Penghargaan dan hormat pada berbagai kisah yang terjadi di sana entah suka atau tidak. Segala koreksi, pembetulan ketikan atau revisi ejaan dalam bentuk usulan darimu dan dariku. Rasa syukur layak kiranya dipanjatkan atas segala halaman yang telah lewat.
Dan pintaku, maukah tetap bersamaku mengisi cerita satu lembar lagi? Kemudian setelah selesai lembaran itu, kita tambah satu lembar lagi, dan lagi, dan lagi….
| Print article | This entry was posted by unclegoop on 12/11/2009 at 09:29, and is filed under kamar hati. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |


about 8 months ago
:O nglamar Paman?
about 8 months ago
Salam,
Setahun ya? kisah yang penuh warna kiranya..semoga tetap terisi(bersama-sama) bukunya deh..selamanya
about 8 months ago
udah berapa buku yang dihabiskan untuk menulis segala kisah di setahun ini mas ?
about 8 months ago
manisnyaaaaaaa……
about 8 months ago
Emmm..errr…kyaaaaa…*teriak gaya komik cantik*
Kamsahamnida,saranghe..
about 8 months ago
saya belum nemu buku yang lain..
menarik bgt critanya.
like this.