Car-SideMirror

Karena sebuah ketentuan, maka kau harus ada. Apabila kau tiada, sebuah kerepotan bagiku. Tak sadar, sebenarnya ketentuan itu untuk kepentinganku juga. Ini mengingat betapa pentingnya kau untukku. Namun, terkadang teman-teman beroda dua ada pula yang melepasmu. Atas nama gaya dan biar dibilang gaul, dilepaslah kau dan peranmu ditanggalkan pula.

Tapi baiklah, kita tak perlu bicarakan mereka. Kau lebih bermakna pada teman-teman beroda empat. Memang letakmu menyempil. Menempel saja dan mudah lepas. Tak jarang, kau bahkan yang pertama terantuk sesuatu entah apa itu. Tetapi, kau tetap tegar di sana. Bahkan, agar kau tetap bertengger, seringkali sampai diikat-ikat biarpun kurang rapi.

Peranmu itu sederhana saja. Namun dari yang sederhana itu, kamu begitu berarti karena menyangkut nyawa. Adapun peranmu adalah agar kita tahu apa yang ada di belakang sana. Tuhan ciptakan mata hanya di depan guna melihat ke muka. “Apa perlunya melihat ke belakang?” Seseorang pernah bertanya.

Dalam diammu, melalui peranmu, kau tunjukkan jawabannya. Mengetahui apa yang ada di belakang, melihat ke belakang membuatku tahu bagaimana mestinya melangkah. Bahkan, untuk sekadar berbelok, aku perlu tahu kondisi depan dan belakang. Lebih jauh, saat salip-menyalip di ruas jalan tol, kamulah yang seringkali kulirik-lirik, kuamat-amati walau sekilas.

Menyalip, adalah sebuah seni. Mengetahui apa yang ada di depan tanpa melupakan apa yang ada di belakang. Menyalip berarti kehati-hatian, sebentuk waspada. Dan kau, bertengger di sana siap membantu walau nampaknya diam saja.

Menjadi benar apa kata Eddie Jordan, “Never look back unless you can laugh, never look forward unless you can dream.” Di sini, Tuan Jordan bukan bermaksud mengabaikan yang belakang, justru beliau hendak menekankan perlunya melihat ke belakang. Perlukah menengok? Perlukah melirik-lirik spion? Jawabannya perlu. Agar saat aku menyalip, bisa tenang dan aman serta selamat.

Sepertinya spion; depan; belakang dan menyalip tak hanya untuk yang beroda empat, tiga atau berapa pun. Mereka yang ingin maju, mestilah melihat atau setidaknya melirik ke belakang. Tujuannya agar tahu bahwa jalur telah aman, bahwa itulah jalur yang benar. Barangkali pula agar kesalahan yang sama tak perlu lagi terulang.

Bagaimana dengan mimpi, Uncle? Wah, nampaknya saya perlu bermimpi dahulu agar bisa bercerita kemudian. Tunggu saja, semoga.

Kutipan Tuan Jordan itu, saya tahu dari beliau Itik Kecil