melintas batas
Gejog Lesung
Ajang Pesta Bloger chapter Jogja telah selesai. Kita dapat membacai kisah lengkapnya, suka duka persiapannya, serta kelucuan-kelucuan yang ngeselin di antaranya di tempat ketua kelas ini, pula di tempat alle. Selain itu, kesaksian para peserta juga banyak terserak di berbagai tempat.
Makanan khas, snack khas, membatik, tari-tarian sampai dengan menanam mangga. Semua hal tersebut, telah disajikan di PB Chapter Jogja. Kemeriahan acara, kelezatan masakan, kekhidmatan tarian tidak saya dapati secara langsung. Acara buah karya teman-teman CahAndong itu saya nikmati dengan cara membaca berbagai blog yang mengulasnya. Paling penting sebenarnya, membaca pula milis yang pongah tiada terkira itu, di mana teman-teman panitia berbagi kisah secara langsung. Dari membaca tersebut, kemudian saya membayangkan bagaimana repotnya menjadi panitia. Saya bayangkan pula kemeriahan acara, rasa masakan, kesyahduan tari-tarian dan proses membatik.
Membayangkan, tentu saja sebuah proses yang tak lengkap karena hanya berangan-angan tidak turut serta. Kendati demikian, saya tak hilang kagum dan salut pada hasil kerja, proses perencanaan, sampai pelaksanaan acara yang dilakukan oleh teman-teman.
Pada pesta kecil itu, selain berbagai kebudayaan dari berbagai daerah di nusantara yang ditampilkan, ada pula Gejog Lesung. Bila saya tidak salah, gejog lesung adalah kegiatan ibu-ibu pada jaman dahulu saat menumbuk padi sebelum ada mesin penggiling. Mereka berusaha memisahkan beras dari gabah atau bulir-bulir padi. Tak sembarang menumbuk, mereka pun memiliki irama tertentu saat menumbuk, terkadang mereka bekerja sambil bernyanyi. Tujuan irama dan nyanyian itu, barangkali agar menyenangkan saat bekerja dan tidak terlampau capek.
Dari situ, bisa dilihat, bukan? Gejog lesung adalah sebuah kegiatan yang serius sekaligus santai. Menyiapkan bulir padi, mengubahnya menjadi beras, tentu bukanlah kegiatan main-main. Ada penghormatan pada bahan makanan seperti padi itu, sehingga memperlakukannya pun tidak sembarangan. Bersamaan dengan itu, lihatlah mereka menyanyi, mereka menumbuk dengan ketukan irama tertentu. Apa hasilnya?
Butiran-butiran beras yang siap dimasak dan kemudian dihidangkan di atas meja. Keakraban, guyub, kompak, semangat dan sekaligus kesenangan tersalurkan di antara ibu-ibu itu.
Jogja di antara wajah-wajahnya, saya kira sedikit mirip dengan lesung. Banyak yang datang ke sana, masuk selayaknya bulir padi ke dalam lesung. Mereka bercampur kemudian. Ditumbuk di berbagai medan pendidikan yang ada di seantero Jogja. Dan barangkali, banyak di antara mereka yang keluar dari sana sudah dalam bentuk beras, bukan lagi bulir padi.
Semua proses itu, melalui tahapan serius tapi santai khas Jogja. Tidak tergesa-gesa. Ada proses mengambil nafas di antara tekanan, ada tawa di antara amarah.
Jadi, pernahkah Anda ke Jogja?
Sementara itu, bagaimana kemeriahan puncak acara di Jakarta? Ah, saya pun sudah tak sabar menantikannya. Apakah Anda sudah mendaftar? Kalau begitu, sampai jumpa di sana besok.
| Print article | This entry was posted by unclegoop on 23/10/2009 at 07:25, and is filed under jendela dunia. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |


about 9 months ago
setahuku, yang benar adalah Gejog Lesung… tanpa L
about 9 months ago
jadi…paman datang PB?
about 9 months ago
mudah2an saya bisa keluar dari jogja dalam bentuk “padi”, paman.
btw, saya tunggu laporan PB2009nya ya..
about 9 months ago
Gejog Lesung, menempa padi menjadi beras. Sayangnya angin tak membawaku ke sana untuk ditumbuk menjadi beras. Tetap menjadi bulir padi di sini. hehehe. Tanah jogja, tunggu aku di sana. Kapan2 kita tukar no telp paman!
about 9 months ago
Paman, kalau di Sunda namanya Lisung dan Jubleg atau Halu.
about 9 months ago
akhirnya ketemu njenengan. eh tapi tadinya yg kebayang bapak2 lhoh, ternyata masih muda ya?
about 9 months ago
ke bank ihii ihii atas rekening paman-mbok
about 3 weeks ago
nice poting..kreatif..