Apa sajakah yang ada di dalam ruang tamu rumah Anda?
Satu set kursi, terkadang dialasi dengan permadani saya kira adalah hal yang wajar. Selain itu, almari atau rak, hiasan dinding atau bahkan peralatan elektronika. Terserah tuan rumah dan tak ada aturan yang baku.
Fungsi awalnya memang untuk menerima tamu, namun bisa saja lebih dari itu. Lebaran kemarin, dalam rangka silaturahim ke saudara dan handai taulan, saya banyak melihat aneka rupa ruang tamu. Dalam hemat saya, ruang tamu seperti ruang pamer apa-apa saja capaian dari si empunya rumah.
Apakah bentuk kesombongan? Saya kira tidak juga. Apa yang ada di dalam ruang tamu sudah dicapai dengan usaha oleh tuan rumah. Perkara usaha itu dari menghutang, ah sepertinya itu bukan urusan saya.
Di ruang tamu itu, sebenarnya sedikit atau banyak yang ingin dipamerkan tergantung selera tuan rumah. Penganut konsep minimalis barangkali hanya akan menempatkan satu set kursi saja. Di lain pihak, ada pula yang berlebihan. Pernah saya masuk ke sebuah rumah, di ruang tamunya ada dua buah dispenser lengkap dengan galon yang ditutup rapi. Entahlah, sepertinya tamu-tamu yang datang ke rumah itu banyak yang kehausan hahahaha.
Saat saya masuk satu demi satu ke rumah tetangga dan sanak saudara., saya amati ternyata banyak yang memajang foto-foto di dinding. Tentu saja daripada dinding itu kosong tanpa hiasan, akan lebih elok bila ada satu, dua buah pernak-pernik yang menempel. Maka, cobalah perhatikan, biasanya kalau tidak foto ya kaligrafi, bisa juga lukisan.
Memerhatikan foto-foto yang terpajang di ruang tamu, ternyata menarik juga. Beberapa memperlihatkan seluruh anggota keluarga sedang tersenyum. Cerminan kebahagiaan keluarga itu. Jarang foto yang cemberut dipajang. Nah, masalahnya apakah benar senyum yang nampak di foto itu adalah tanda bahagia dari sebuah keluarga yang harmonis? Saya kira kita harus benar-benar usil untuk sampai dengan tahu hal semacam itu. Paling mudah, percayalah pada apa yang nampak di foto itu. Bersyukurlah karena saudara, kerabat, tetangga kita begitu bahagia keluarganya seperti apa yang nampak dari foto keluarga di ruang tamu tersebut.
“Bagaimana kalau ternyata keluarga itu tidak benar-benar bahagia dan menyunggingkan senyum seperti di foto itu, Uncle?”
“Errrr….”
Orang tua tidak pernah egois. Lihatlah foto-foto itu lagi, mereka tidak pernah dominan. Lebih mudah menemukan foto anak pertama dan kedua memakai toga dan menggenggam ijasah. Gambar anak ke tiga yang mengenakan seragam tentara. Entah kenapa, lebih banyak foto-foto semacam itu yang saya temukan.
Kebanggaan barangkali lebih tepat daripada kesombongan. Itulah mungkin alasan yang mendasari pemasangan foto-foto tersebut, ketimbang pameran kemesraan kedua orang tua. Pula, apakah kemesraan perlu dipamerkan?
Kebersamaan begitu lama sampai dengan menghasilkan foto-foto anak yang diwisuda, yang mengenakan seragam tentara., saya kira lebih dari cukup untuk mengartikan betapa mereka telah bahu-membahu mewujudkan itu semua. Betapa mereka begitu mesra.
Dan di kala sore, saat tak ada tamu datang, ketika anak-anak yang sudah diwisuda bekerja di tempat lain. Saat dia yang mengenakan seragam tentara, dokter, pilot, perawat, bertugas. Kedua orang tua itu akan duduk berdua di ruang tamu yang lengang, menikmati teh hangat sambil memandangi foto-foto, menelusuri kisah di balik setiap gambar. Saling berpandangan sebentar tertawa, sebentar terlihat mau menangis.
Terima kasih.
.jpg)



Saya tidak berencana punya ruang tamu kalau saya punya rumah sendiri nanti. Tamu saya terima di dapur saja. Jadi mereka bisa ambil minum sendiri kalau kehausan, hehehe..
[Jawab?]
paragraf terakhir keren banget, paman..
[Jawab?]
Duduk2 ngeteh y d ruang keluarga,d ruang makan atw d beranda engga d ruang tamu..
[Jawab?]