Sedari mula kita diciptakan sudah berbeda. Kita dikemas baik-baik, dilengkapi penanda khusus agar kita mudah dibedakan.
Kemudian, kita akan dipajang, nampang, memamerkan diri.
Memang tak selalu, namun kadangkala kita berjodoh.
Lain saat, bisa pula aku dengan yang lain, pun kau dengan yang terpilih. Ini sesuatu yang di luar kuasa kita, kau tahu, kan?
Apabila memang sudah jodoh, maka dengan siapa pun kamu mulanya, satu saat akan bertemu pula denganku. Begitu pun aku, sama saja.
Setelah satu di antara kita selesaikan tugas, bertemu pula kita dengan pasangan lain. Namun, tak jarang pula dikubur begitu saja, dilupakan.
Selain penanda khusus di kemasan yang membedakan kita, kau dan aku juga didesain berbeda. Semua itu, demi tugas kita nantinya.
Kau tercipta lebih stabil dan mantap, tugasmu mendorongku agar aku maju.
Sementara aku, desainku lebih ramping. Tujuannya agar mudah bagiku menunjukimu jalan mana yang mesti dilalui.
Jarang kita berselisih paham, sejarang kita bersentuhan walau bisa saling pandang.
Aku melihatmu, kau pun sering memandangku.
Apalah aku tanpamu? Berartikah kamu tanpaku?
Bila kita terpisah, maka aku hanyalah ban depan sepeda motor dan kau ban belakang.
Bila kita terpisah, apalah artinya?
Selain onggokan karet yang bisa dibakar para pendemo, yang nongkrong di rak sebuah bengkel, yang diam manis dalam kemasan sebuah pabrik ban.




battlax bagus lho, paman
lagian kan deket kalo mo belanja ke bonjer
[Jawab?]
Justru depan belakang lebih baik dipisah,
kalo digabung nanti ngejungkel…
[Jawab?]
asliiiiiiiiiii…. perumpamaan yang romantis untuk sepasang ban
tapi aku bakal cop-past ke si Mas aaaaaaaaaaahh :> makasih, uncleeeeeeee……
[Jawab?]
ealah, kirain apaan kok dorong2an, huehehehe…
[Jawab?]
bila udah jodoh, gag bakal kemana kok
btw, salam kenal
[Jawab?]
haduwwww, gaya bahasa syahdumu itu paman, orisinil
[Jawab?]