funny-no-smoking-sign_1

Tubuh baru saja terjaga setelah tidur yang tak nyenyak di bangku-bangku sempit. Tidurku malam itu seperti juga tidur-tidur lain di malam-malam yang telah lewat. Semua ditandai dengan mataku yang meram. Ada pula fakta lain: katanya yang pernah tidur bersamaku, aku pun mendengkur. Mana peduli aku dengan hal itu, yang penting saat aku mengantuk aku bisa tertidur. Maaf-maaf kalau orang lain terganggu karena tidurku, aku tak bermaksud begitu, sedikit pun tidak.

Mula-mula ketika mataku terbuka, aku bingung di manakah aku ini? Pertanyaan biasa yang muncul saat kubangun, karena terkadang aku tak sadar telah tertidur, sama juga aku suka tak ingat di mana aku tidur. Seorang teman bilang, saat-saat seperti itu adalah ketika nyawa kembali sedikit demi sedikit ke tubuh kita.

Kenapa pula aku bercerita tentang tidur dan bangun?Saat itu jam tiga dini hari. Bagian dari perjalananku sudah dilewati setengah lebih. Kusangka akan lebih panjang perjalanan itu, ternyata lalu lintas ramai lancar, sedikit berbeda dengan berita di televisi yang sempat membuatku khawatir. Aku sudah siap seandainya perjalanan akan panjang, beberapa botol minuman sudah disiapkan, pula makanan ringan dan roti.

Di dini hari itu, kami berhenti di sebuah pom bensin. Bus yang kutumpangi parkir tak rapi, saat satu per satu dari penumpang termasuk aku turun mencari toilet untuk mengosongkan kandung kemih yang sudah terlanjur penuh.

Hajat dituntaskan, dan kembali ke bus, begitu rencananya. Ternyata bus belum lagi berangkat, maka di pagi itu aku lemaskan kakiku yang hampir semalam kaku hanya duduk saja. Aku berdiri saja di sekitar bus sambil menggerak-gerakkan kaki.

Di sekitarku, di pom bensin itu ternyata penuh dengan orang-orang yang juga sedang beristirahat. Aku melihat beberapa mobil bagian atasnya ditimbuni dengan barang-barang yang dibungkus terpal. Sebagian kosong ditinggalkan penumpangnya, beberapa terisi dan pintunya dibuka. Kulihat beberapa yang bertahan di dalam mobil sedang pulas tertidur.

Di dekat trotoar sedikit jauh dari tempat pengisian bensin, beberapa motor diparkir. Adapun penunggangnya rebah begitu saja di trotoar. Mereka tertidur dalam deretan mirip ikan asin yang sedang dijemur. Seorang anak, nampak terbangun dan bingung melihat kedua orang tuanya tidur di sekitarnya. Dia pun hanya menatap kosong ke pengungjung yang satu demi satu datang dan pergi. Dia seperti melamun, nampak mengantuk.

Masih di lokasi yang sama, pom bensin yang barangkali biasanya sepi sekarang penuh dengan pedagang. Mereka memenuhi hampir sepanjang sisi jalan mau keluar dari pom bensin itu. Dijual oleh mereka susu, kopi, popmi, rokok dan lain-lain kebutuhan para penunggang motor dan mobil. Aku lihat beberapa pembeli sedang duduk-duduk, beberapa di antara mereka merokok. Aku pun ingin ikut menyulut barang sebatang, namun khawatir menyeruak bagaimana bila percikan api dari batang rokokku menyambar bensin yang sedang dituangkan ke tangki sebuah mobil?

Aku urungkan niatku dan melangkah menuju kursiku di bus yang sudah hendak berangkat melanjutkan perjalanan lagi. Saat itu kulihat, tukang parkir mengarahkan bis yang susah payah keluar dari kerumunan kendaraan lain. Ia tak hanya berteriak, sesekali dia juga melambaikan tangannya. Tangan di mana di antara jemarinya terselip sebatang rokok yang menyala, bara apinya, dapat kulihat sebentar terang sebentar redup seiring gerakan tangannya.

picture