Aku masih berdiri di sini. Sejak semalam manakala jarum jam yang panjang lengser dari pukul dua belas. Banyak kendaraan melintasiku, sekadar melintas, lewat, acuh padaku.

Dan sekarang pukul berapa, ya? Ugh, di kejauhan aku mendengar sayup-sayup sampai seseorang membangunkan sahur, dia bilang imsak sebentar lagi, sekitar setengah jam lagi.

Aku harus bergegas, kumohon datanglah setidaknya seorang pelanggan. Lelaki malang yang kedinginan tak mendapat pelukan. Pria iseng yang bingung membuang uang pun bolehlah. Ayolah sebelum ayam jantan… eh, susah kutemukan ayam di sini. Baiklah, sebelum subuh dan fajar menjelang. Datanglah tuan, kemarilah.

Jangan biarkan aku turut pula kedinginan. Tidakkah kau lihat pahaku yang tersingkap ini, sudah menggigil, menggeletar sedari tadi. Memang sengaja paha itu kubiarkan terbuka, aku masih bisa menahan dingin di sana. Namun, tubuh bagian atasku yang terbungkus sweater ketat pun sudah mulai menggigil. Makin berat rasanya sekadar untuk melambaikan tangan ke mobil yang melintas, ke sepeda motor, ke pejalan kaki.

Aku tak sama dengan daun yang menghadang embun. Daun menjadi segar ketika tetesan embun tergelincir di atas permukaannya. Aku lain, berbeda. Manakala embun datang aku kedinginan, pahaku menggigil, geligiku beradu bergemeletuk, bibirku bergetar.

Mataku yang terlatih untuk tidak terpejam pada detik-detik seperti itu masih bisa menangkap kilasan lampu mobil. Aku harapkan, aku pun waspada, lebih tepat aku bersiaga bila lampu menyala kuning kelap-kelip sebentar hidup sebentar mati penanda mobil itu menepi ke arahku. Namun, malam itu tak kunjung kutemui. Harapanku musnah seperti hilangnya embun di pucuk daun tersapu sinar mentari.

Mata yang sama punyaku itu, malah menangkap pemandangan lain. Serombongan lelaki berpakaian putih-putih, aku lihat celananya sedikit menggantung di atas mata kakinya. Di kepalanya, ada yang bersorban, ada pula yang berpeci warna putih. Mendadak khawatir menyelinap di kedalaman sana.

Aku melihat salah seorang di antara mereka yang masih muda melirikku, pandangannya nanar ke arahku, lebih tepat ke arah pahaku yang terbuka. Paha yang sekarang sedang melangkah tergesa, bergegas pergi, menjauh. Saat kucoba melirik ke arah mereka, di sana mereka berdiri menundukkan kepala, seperti berdoa, seperti beristighfar.