Namaku Mince, aku cantik sekali. Buluku kelabu kehitaman, moncongko bagus, ekorku panjang. Di antara itu semua, sebagai tikus jantan aku paling suka kumisku yang membentang rapi dan terkesan jantan.
Ibuku Minul, dia pun cantik dan primadona di antara tikus. Ayahku, ah…aku tak pernah tahu.
Kami sekawanan tikus tinggal di rumah Pak Endro. Rumah yang besar dengan banyak ruang, meski tentu saja kami tak menempati ruang-ruang itu.
Di balik almari di perpustakaan keluarga yang besar, di atas plafon, di rongga-rongga dinding. Di sanalah kami tinggal.
Aku benci menjadi tikus, terkadang aku cemburu pada Pak Endro dan anak-anaknya. Anak-anak yang masih kecil itu, setiap hari hanya bermain saja kerjanya. Mereka tak perlu bekerja, ayahnya akan mencukupi kebutuhannya. Tak seperti kami anak-anak tikus. Sedari kecil pun kami sudah harus bekerja.
Apa pekerjaan kami sebenarnya?
Kami mencuri, apalagi? Pekerjaan purba kami, simbol para koruptor. Dan kebetulan sekali, di rumah ini banyak yang bisa kami curi. Namun, di antara itu semua yang paling nikmat adalah roti kesukaan Bejo—anak bungsu Pak Endro. Roti itu lembut serta di dalamnya terdapat keju yang kuning dan meleleh. Saat yang paling pas sebenarnya adalah saat roti itu basi. Meskipun hal ini jarang kami temui. Bejo sangat rakus, akan dimakannya roti cepat-cepat. Bila kami beruntung, maka serpihan besar saja yang dapat kami makan.
Satu hari, Monti, seekor tikus lain menemukan keju dalam potongan yang besar. Dia rakus, maka keju itu pun dimakannya sendiri. Dia tak tahu bahwa keju itu beracun, maka dia pun mati tak berapa lama setelah gigitan terakhir.
Kami berduka dan belajar agar lebih berhati-hati saat ada makanan yang tersaji. Kami akan mencium aroma yang terpancar dari makanan itu. Bila baunya aneh, maka sebaiknya dihindari saja. Sayangnya, bau makanan kami aneh-aneh karena kebanyakan sudah basi. Tapi, entah bagaimana ada beberapa tikus yang pintar membedakan makanan yang beracun dan memberikan peringatan kepada tikus yang lain.
Di sebuah siang yang sepi, Pak Endro bekerja, sementara Bejo tidur siang dalam pelukan ibunya. Aku leluasa berjalan-jalan menjelajahi seantero rumah untuk mencari roti atau makanan lain yang mungkin tersisa. Alih-alih makanan yang kudapat, sebuah peraduan kutemukan.
Bagaimana menggambarkannya, ya? Kutemukan sebuah ruang kecil. Berjaring-jaring terbuat dari besi. Terlihat kokoh sekali ruang itu. Di bagian bawahnya, ada selimut dari lap meja. Dan, heiii, tergantung di tengah-tengah, pas dalam jangkauanku sekerat keju yang masih segar bergoyang-goyang.
Aku lihat ke kiri dan ke kanan, tak ada tikus lain, “Mungkin ini memang rejekiku.” Aku berkata dalam hati.
Bukan kesempatan yang akan terulang mungkin, maka segera kususun rencana. Aku akan masuk, mengambil keju itu dan berbaring hangat di selimut. Ah, rencana yang sempurna, bukan?
Perlahan-lahan aku masuk, kucoba meraih keju yang tergantung itu. Percobaan pertama gagal. Pada percobaan kedua, aku berhasil menyentuhnya. Sekadar menyentuh dan keju itu bergoyang. Namun, di belakangku aku mendengar suara lain, “BLAMM!” Aku menengok dan kulihat jalan masukku tadi sudah tiada.
Aku terperangkap di dalam ruangan itu. tak tahu bagaimana keluar dari sana. Aku berteriak meminta tolong. Tak lama, serombongan tikus datang merubung ruang yang berbentuk kotak itu. Ibuku pun ada di sana. Salah satu di antara tikus itu ada yang bergumam, “Dia terjebak, tak mungkin lagi keluar.” Kemudian, satu demi satu mereka pergi meninggalkanku. Ibuku yang terakhir beranjak menjauh, sembari berjalan kulihat ia menyempatkan diri menengok ke arahku. Ada air mata yang menggenang di matanya, namun senyumnya tersungging dan kuyakin selaksa doa bertebaran dari kalbunya.
Kini aku sendiri. Terjebak di ruangan kecil bersama keju yang sudah tak kuhiraukan lagi. Keju itu terayun-ayun di tempatnya menggantung seperti mengejekku.
Di kehangatan selimut dari lap meja itu lambat laun aku terlelap, kemudian bermimpi. Sebuah mimpi yang mengerikan. Di mimpi itu, aku telah mati karena berhasil memakan sekerat kecil keju beracun yang tergantung. Di dini hari itu, aku melihat tubuhku tergeletak begitu saja di tengah jalan kampung yang sebentar lagi ramai. Aku masih bisa melihat angin mengelus bulu-bulu hitam keabuan di tubuhku. Aku melihat bulu di sekitar tengkukku bergeletar ditiup angin, sensasi geli yang biasa kurasa pun masih terasa saat aku terpisah dengan tubuhku itu. Aku terbangun dari mimpi laknat itu, aku merasa tubuhku begitu ringan; saat kotak, jalan, bumi perlahan-lahan menjauh di bawahku, saat kulihat sebuah truk melindasku menjadi serpihan.
Jakarta, 10-23 Agustus 2009




arti sebuah kehidupan. mendalam banget. mantap..
[Jawab?]
‘Tixu’ banci ya??namany ko mince..hehe,mst kmrn biz liat ‘tixu’ ketabrak mbl to?
[Jawab?]
oommm gup, ihiks2 eniwe buswe kemampuan blog ku kok masih begono2 aja ayah… hahaha dodol maradol
gimana c cara ngejustify tulisan di blog?
aku buat tulisan baru tuh.. hehehe iseng aja cari2 inspirasi
[Jawab?]
ih tulisan yang sadis
[Jawab?]