melintas batas
Kacang
Ojo koyo kacang lali lanjarane
Pepatah jawa di atas, mempunyai padanan dalam Bahasa Indonesia, yaitu: kacang jangan lupa kulitnya. Mutiara kata dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia itu, seenaknya dinegasikan oleh John Dilinger dengan mudah. Ia tidak peduli lagi pada asal. Tujuanlah yang menjadi titik penting dalam hidupnya.
Maka, bukanlah hal yang aneh manakala ia tidak peduli statusnya sebagai musuh masyarakat. Tak juga ia hirau pada profesinya sebagai perampok bank.
Dengan penuh percaya diri, ia lamar Billie, seorang petugas penitipan jaket di club, di mana John biasa menghabiskan waktu senggangnya. Ia jujur pada Billie siapa dia sebenarnya, apa kesukaannya, bagaimana profesinya dan potensi apa yang dimilikinya.
Karena tujuan yang menjadi titik penting bagi John, maka ia pun berani menjanjikan kehidupan bahagia bersama Billie suatu saat nanti. Ia lupa fakta bahwa dirinya menjadi incaran polisi yang sewaktu-waktu bisa terbunuh.
Atau, apakah memang kematian sebenarnya tujuan John sejak semula? Barangkali yang lebih tepat adalah John sadar sepenuhnya, bahwa selain mimpi yang digantungkannya setinggi awan bersama Billie, ada pula pintu lain yang menganga menantinya, itulah pintu kematiannya.
Inilah mungkin yang bisa membantu kita mengerti saat John membisikkan sederetan kalimat, justru kepada pembunuhnya yang dengan telengas telah menembakkan pistol ke tengkuk John. Dia perlu meminta bantuan polisi pembunuh itu, karena kata-katanya untuk Billie sudah tidak mungkin diucapkannya sendiri. “Bubye Blackbird.” Sebuah kalimat pendek, namun menghujam begitu dalam di lubuk hati Billie.
Persis, hanya John dan Billie yang tahu apa makna kata-kata terakhir itu. Pudarnya mimpi, hancurnya harapan, merepihnya asa. Semua hanya bisa dikira-kira saja, yang jelas, air mata berlinang di pipi Billie, sementara mulutnya terkatup rapat tak ada jerit, desah pun isak. *
***
Suatu malam, ketika saya wara-wiri di facebook, tiba-tiba seorang teman menyapa.
“Ke mana tujuanmu?”
“He….”
“Ke mana tujuanmu?”
“Ke hari esok.”
“Ke mana, bukan kapan.”
“Err…besok mau ke kantor pagi-pagi.”
“Lantas, ke mana lagi?”
Saya bukan jengkel, tapi seperti asal menjawab, “Ke tanah di bawah pohon Kamboja.” Percakapan melalui layanan chating di facebook itu, tak hanya terhenti sampai di situ. Mengikuti kemudian di belakang serangkaian tanya jawab yang panjang.
Sungguh, tak pernah mengira saya akan mendapat pertanyaan semacam itu. Iseng-iseng, saya pun membalasnya dengan pertanyaan serupa, “Ke mana tujuanmu?”
Dia dengan enteng menjawab, “Aku tak tahu, maka aku tanyakan padamu.”
Sial betul ini orang, saya kira dia sedang menguji saya dan nantinya akan memberikan jawaban yang benar. Ternyata dia benar-benar bertanya. Dan jujur, saya tak puas dengan jawaban saya. Seperti ada yang salah tapi nampaknya benar dari jawaban itu. Bukanlah jawaban yang salah, namun juga tidak tepat sekali. Wagu, Nampaknya kata yang pas, meski saya tak temukan jawaban yang pas untuk tanya itu.
“Apakah Anda tahu, sobat, ke mana sebenarnya tujuan akhir langkah kaki kita ini?”
***
Agustus, identik dengan parade, akrab sama karnaval. Tapi, deretan tiga buah kematian besar dalam satu minggu bukanlah hal yang sering terjadi.
1/
Ia meluncur seperti komet, bintang berekor yang nampak sekilas kemudian hilang. Meskipun terangnya, memahat harapan mereka yang melihatnya. Dan sayup tawanya masih jelas bisa kau dengar, bukan?
2/
Ia adalah kehadiran. Presence. Tak perlu ia berkata-kata, namun aura dan kharismanya melingkupi segala sesuatu. Bahkan setelah kematiannya, ia nampak masih seperti mengepakkan sayapnya yang puspa warna, bagaikan burung Merak.**
3/
Entah ia siapa, identitasnya masih ragu-ragu dan menunggu. Kendati begitu, ia senang bermain-main dengan malaikat maut yang sabar menarik-ulur nyawanya, bahkan sampai tujuh belas jam. Tidaklah di tengah kemegahan hotel dan restoran mewah ia terbujur. Namun di kakus, di jamban ia tergeletak. Anyir darahnya bercampur dengan pesing dan bau tahi, yang menguar, mencemarkan harum tembakau dan semilir angin di pinggang bukit.
***
Saya masih tak tahu, tak juga paham ke mana akhir langkah kaki ini. Barangkali selama hayat masih dikandung badan, masih kuat melangkah meski setapak, rasa-rasanya akan terus maju.
Semoga tawa: Ha Ha Ha Ha akan sering dijumpai pertanda bahagia. Berharap agar jalan terjal dan manakala harus berjuang sebagai pelaksanaan kata-kata tak terlampau sukar ditempuh. Barangkali saat tiba masa istirahat, bisa menjadi saksi aroma tembakau yang harum, pipi gadis gunung yang ranum dan embun, yang tergelincir jatuh dari pucuk daun ke lanjaran-lanjaran kacang. ***
*) film public enemies
**) email dari pejalan jauh
***) asal kata dari ‘kacang lanjaran’ yang sama dengan ‘kacang panjang’
| Print article | This entry was posted by unclegoop on 11/08/2009 at 08:34, and is filed under pintu jiwa. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |


about 11 months ago
mudah2an pertamax
about 11 months ago
weeewww…
“Ke mana tujuanmu?”
“Ke hari esok.”
itu…kok kayak jawaban mantan gw dulu yah kalo ditanya
“mau ke mana?”
“terserah kaki ini akan melangkah..”
saat itu, gw hanya kepikiran..
gw yang bego, ato mantan gw yang kelewat lebay….
hehehe..ribet emang
hmmm, jangan-jangan yang pesbuk-an sama uncle itu mantan gw??
about 11 months ago
permisii…..
yg diomongin denger hehe…
about 11 months ago
Ndutz nangis pas liak Public Enemies…apalagi bagian terakhirnya yang co cwiiittt *dirajam karena OOT*
about 11 months ago
Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll