melintas batas
Proses
Api menyala kebiruan persis di bawah wajan. Secukupnya minyak dituangkan dari botol bekas kecap ke wajan. Perlahan-lahan, api yang menjilati pantat wajan itu pun mulai memanaskan minyak sehingga mendidih.
Di saat yang hampir bersamaan, telur dipecahkan, dituangkan isinya ke dalam gelas, ditambah sedikit garam, diaduk. Pisau memotong daun bawang dan sawi menjadi potongan kecil-kecil. Telur yang telah diaduk dituangkan ke dalam minyak yang mendidih di atas wajan. Nasib yang sama pun menimpa sawi dan daun bawang, dilempar-lemparkan begitu saja masuk ke dalam wajan. Menambah lengkap rasa, ditambahkan pula: sambal—tergantung permintaan pedas atau tidak—garam, penyedap rasa.
Semua diaduk bersama minyak di atas wajan. Wajan bergoyang-goyang, pedagang bergoyang, gerobak bergoyang.
Nasi ganti diambil kini, tak terlalu banyak. Ukurannya sepiring saja, atau tergantung pesanan. Dituangkan begitu saja di atas wajan, menimbun telur dadar dan bumbu-bumbu. Hiruk pikuk kini di atas wajan karena semua bercampur, semua diaduk, semua saling memengaruhi.
Bau harum menyeruak mencemarkan udara malam. Kepulan asap mengganggu cahaya petromax yang temaram. Bau yang sama mampir di hidung, membuat cacing di perut tak hanya keroncongan kini, namun sudah memainkan nada lain pertanda protes yang gegap gempita.
Ada kecap dituangkan. Adukan bertambah kuat. Warna nasi berubah lagi, dari putih, kemerahan sekarang menjadi sedikit kehitaman. Bau gosong tak jarang datang pula tak diundang. Terbayang sudah rasa pahit yang akan terbit. Namun tak benar-benar pahit, belum tentu juga karena semua masih absurd.
Makanan tak mungkin dinilai sekadar dari baunya saja, bukan?
Akhirnya, semua ritual selesai. Api dikecilkan, wajan dipegang dengan lap kemudian diangkat di atas piring. Semua nasi, semua isi wajan disorong perlahan-lahan jatuh di atas piring. Diatur-atur sedikit biar rapi dan membentuk gundukan cantik. Ditambahkan kerupuk bulat-bulat kecil yang seperti ditaburkan di atas gundukan nasi. Bawang goreng tak ketinggalan ikut dijatuhkan di atas nasi persis seperti hujan menusuki bumi. Hmmm, harumnya pun menguar menambah lapar. Terakhir, acar berisi timun, wortel dan cabai rawit dibubuhkan, diletakkan sedikit di sudut.
Nasi goreng pun jadi dan selamat makan.
| Print article | This entry was posted by unclegoop on 05/08/2009 at 05:51, and is filed under jendela dunia. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |

about 11 months ago
*lap iler*
about 11 months ago
*keroncongan*
about 11 months ago
repost?
berasa pernah baca di blogmu yang lain….
about 11 months ago
kapan-kapan aku nunut nyoba masakanmu ya
about 11 months ago
astagaaa..!! proses pembuatan nasgor bisa segitu nikmatnya yah
about 11 months ago
hmmm
nyam nyam nyam