batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Namaku Mince

Thursday, 27 August 2009 pukul 21:17 WIB 4 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

Namaku Mince, aku cantik sekali. Buluku kelabu kehitaman, moncongko bagus, ekorku panjang. Di antara itu semua, sebagai tikus jantan aku paling suka kumisku yang membentang rapi dan terkesan jantan.

Ibuku Minul, dia pun cantik dan primadona di antara tikus. Ayahku, ah…aku tak pernah tahu.

Kami sekawanan tikus tinggal di rumah Pak Endro. Rumah yang besar dengan banyak ruang, meski dan baca selengkapnya…

Mengucapkan

Friday, 21 August 2009 pukul 7:38 WIB 8 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

MERDEKA!

dan

Selamat Berpuasa,

Maafkan kalau ada salah-salah kata

Kacang

Tuesday, 11 August 2009 pukul 8:34 WIB 5 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

Ojo koyo kacang lali lanjarane

Pepatah jawa di atas, mempunyai padanan dalam Bahasa Indonesia, yaitu: kacang jangan lupa kulitnya. Mutiara kata dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia itu, seenaknya dinegasikan oleh John Dilinger dengan mudah. Ia tidak peduli lagi pada asal. Tujuanlah yang menjadi titik penting dalam hidupnya.

Maka, bukanlah hal yang aneh manakala ia tidak peduli statusnya sebagai musuh masyarakat. Tak juga ia hirau pada profesinya sebagai perampok bank.

Dengan penuh percaya diri, ia lamar Billie, seorang petugas penitipan jaket di club, di mana John biasa menghabiskan waktu senggangnya. Ia jujur pada Billie siapa dia sebenarnya, apa kesukaannya, bagaimana profesinya dan potensi apa yang dimilikinya.

Karena tujuan yang menjadi titik penting bagi John, maka ia pun berani menjanjikan kehidupan bahagia bersama Billie suatu saat nanti. Ia lupa fakta bahwa dirinya menjadi incaran polisi yang sewaktu-waktu bisa terbunuh.

Atau, apakah memang kematian sebenarnya tujuan John sejak semula? Barangkali yang lebih tepat adalah John sadar sepenuhnya, bahwa selain mimpi yang digantungkannya setinggi awan bersama Billie, ada pula pintu lain yang menganga menantinya, itulah pintu kematiannya.

Inilah mungkin yang bisa membantu kita mengerti saat John membisikkan sederetan kalimat, justru kepada pembunuhnya yang dengan telengas telah menembakkan pistol ke tengkuk John. Dia perlu meminta bantuan polisi pembunuh itu, karena kata-katanya untuk Billie sudah tidak mungkin diucapkannya sendiri. “Bubye Blackbird.” Sebuah kalimat pendek, namun menghujam begitu dalam di lubuk hati Billie.

Persis, hanya John dan Billie yang tahu apa makna kata-kata terakhir itu. Pudarnya mimpi, hancurnya harapan, merepihnya asa. Semua hanya bisa dikira-kira saja, yang jelas, air mata berlinang di pipi Billie, sementara mulutnya terkatup rapat tak ada jerit, desah pun isak. *

***

Suatu malam, ketika saya wara-wiri di facebook, tiba-tiba seorang teman menyapa.

“Ke mana tujuanmu?”

“He….”

“Ke mana tujuanmu?”

“Ke hari esok.”

“Ke mana, bukan kapan.”

“Err…besok mau ke kantor pagi-pagi.”

“Lantas, ke mana lagi?”

Saya bukan jengkel, tapi seperti asal menjawab, “Ke tanah di bawah pohon Kamboja.” Percakapan melalui layanan chating di facebook itu, tak hanya terhenti sampai di situ. Mengikuti kemudian di belakang serangkaian tanya jawab yang panjang.

Sungguh, tak pernah mengira saya akan mendapat pertanyaan semacam itu. Iseng-iseng, saya pun membalasnya dengan pertanyaan serupa, “Ke mana tujuanmu?”

Dia dengan enteng menjawab, “Aku tak tahu, maka aku tanyakan padamu.”

Sial betul ini orang, saya kira dia sedang menguji saya dan nantinya akan memberikan jawaban yang benar. Ternyata dia benar-benar bertanya. Dan jujur, saya tak puas dengan jawaban saya. Seperti ada yang salah tapi nampaknya benar dari jawaban itu. Bukanlah jawaban yang salah, namun juga tidak tepat sekali. Wagu, Nampaknya kata yang pas, meski saya tak temukan jawaban yang pas untuk tanya itu.

“Apakah Anda tahu, sobat, ke mana sebenarnya tujuan akhir langkah kaki kita ini?”

***

Agustus, identik dengan parade, akrab sama karnaval. Tapi, deretan tiga buah kematian besar dalam satu minggu bukanlah hal yang sering terjadi.

1/

Ia meluncur seperti komet, bintang berekor yang nampak sekilas kemudian hilang. Meskipun terangnya, memahat harapan mereka yang melihatnya. Dan sayup tawanya masih jelas bisa kau dengar, bukan?

2/

Ia adalah kehadiran. Presence. Tak perlu ia berkata-kata, namun aura dan kharismanya melingkupi segala sesuatu. Bahkan setelah kematiannya, ia nampak masih seperti mengepakkan sayapnya yang puspa warna, bagaikan burung Merak.**

3/

Entah ia siapa, identitasnya masih ragu-ragu dan menunggu. Kendati begitu, ia senang bermain-main dengan malaikat maut yang sabar menarik-ulur nyawanya, bahkan sampai tujuh belas jam. Tidaklah di tengah kemegahan hotel dan restoran mewah ia terbujur. Namun di kakus, di jamban ia tergeletak. Anyir darahnya bercampur dengan pesing dan bau tahi, yang menguar, mencemarkan harum tembakau dan semilir angin di pinggang bukit.

***

Saya masih tak tahu, tak juga paham ke mana akhir langkah kaki ini. Barangkali selama hayat masih dikandung badan, masih kuat melangkah meski setapak, rasa-rasanya akan terus maju.

Semoga tawa: Ha Ha Ha Ha akan sering dijumpai pertanda bahagia. Berharap agar jalan terjal dan manakala harus berjuang sebagai pelaksanaan kata-kata tak terlampau sukar ditempuh. Barangkali saat tiba masa istirahat, bisa menjadi saksi aroma tembakau yang harum, pipi gadis gunung yang ranum dan embun, yang tergelincir jatuh dari pucuk daun ke lanjaran-lanjaran kacang. ***

*) film public enemies

**) email dari pejalan jauh

***) asal kata dari ‘kacang lanjaran’ yang sama dengan ‘kacang panjang’

Second Lesson

Friday, 7 August 2009 pukul 6:50 WIB 4 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

“Oke, sekarang pelajaran bab dua anak-anak.”

Sepertinya, kata-kata tersebut tidak mungkin akan didengar bila Pito gurunya. Hahaha. Cobalah, main-main ke peraduannya yang gelap itu, di sana ada beberapa lesson dari english club yang sudah berjalan selama ini. Edyan bangets, bukan? Hahhh, saya pun tak habis pikir.

Nah, di second lesson ini, ternyata eh ternyata, saya malah melakukan lebih banyak kesalahan. Lihatlah yang dicoret dan diwarnai kian banyak. Fuhhh….apa yang harus saya lakukan? Jawabannya mudah, “Ya belajar terus.” kata guru saya itu.

Dan dia galak juga, lho. Jadi hati-hati sama dia, apalagi kalau sudah menyalak, eh? err…. Apa masih mau belajar? Ah, kok ya bandel, sih?

Kalau begitu, demi memuaskan hasrat kalian, ini dia tulisan saya, revisinya dan akhirnya tulisan jadi. Syumonggo….

—-

A few days ago, a friend of mine sent me an email. This is about the emperor, a knight and his horse.

One day, the emperor gives an order to the knight. Actually, this order as a price to the knight because he was very brave to push the enemy away.

The emperor said that the knight and his horse could go around the emperor land in only one day. Then, the whole areas that cover by the horse and the knight might become the knight property.

In order to get as much as land he wanted, the knight don’t remember to stop for a while to give the horse eat and drink. He has been keeping the horse to run and run, suddenly the horse became very tired and finally it is passed away.

On the other hand, the knight never gives up. He continued the journey on foot. As he walked a moment, he realized then that it was going to sunset. This is the limit of time given by the emperor. Frantically, the knight pushes himself very hard. Regardless the limit power of his body.

In the end, he down to earth, his body refused the order from his mind. He cannot stand any longer. In this very moment, he noticed that all he actually need only two square meters to bury his dead body.

An eagle comes picked up his soul….

—-

A few days ago, a friend of mine sent me an email. This is It was (SENTENCE CONCORD!!! Always stick to the past tense! Make up your mind whether to use past or present!) about the an (it’s a kind of fairy tale, thus, I don’t think ‘the’ is needed since all fairy tales don’t have any special king to be attributed with ‘the’) emperor, a knight and his horse.

One day, the emperor gave an order to the knight. Actually, this order (get yourself used to pronoun, so you don’t repeat the subject over and over again. It’s kind of boring to the reader) it was as a price prize (some words are tricky. Watch it!) to the knight because he was very brave to push the enemy away.

The emperor said that the knight and his horse could go around the emperor land in only one day. Then, the whole areas that covered by the horse and the knight might become the knight property could be theirs (well, I can’t say you have written the incorrect phrase. I just don’t like people writing one object or subject over and over again. Toldcha. It’s booooooooring!).

In order to get (are you trying to write a thesis here, or tell a story? Avoid using formal words if you intent to write informal notes. How to differentiate between both? READ!) as much as land as he wanted, the knight don’t did not remember to give the horse something to eat and drink and stop time to rest for a while. He has been keeping kept pushing the horse to run and run, and suddenly finally the horse it became very tired and finally it is passed away (remember KISS? Keep It Simple, Stupid! Haha!).

On the other hand, the knight never gives gave up. He continued the journey on foot. As he walked for a moment, he realized then that it was going to sunset, This is the limit of time the time limit given by the emperor. Frantically, the knight pushes he pushed himself very hard. Regardless the limit power of his body the power limitation he had.

In the end, he fell down to earth, his body refused the order from his mind. He can could not stand any longer. In this very moment, he noticed that all he actually need only was only two square meters to bury his dead body.

(Then, along came) an eagle comes to picked up his soul…

—-

A few days ago, a friend of mine sent me an email. It was about an emperor, a knight and his horse.

One day, the emperor gave an order to the knight. Actually, it was as a prize to the knight because he was very brave to push the enemy away.

The emperor said that the knight and his horse could go around the emperor land in only one day. Then, the whole areas covered by the horse and the knight could be theirs.

To get as much land as he wanted, the knight did not remember to give the horse something to eat and drink and time to rest for a while. He kept pushing the horse to run and run, and finally it became very tired and passed away.

On the other hand, the knight never gave up. He continued the journey on foot. As he walked for a moment, he realized that it was sunset, the time limit given by the emperor. Frantically, he pushed himself very hard. Regardless the power limitation he had.

In the end, he fell down, his body refused the order from his mind. He could not stand any longer. In this very moment, he noticed that all he actually need was only two square meters to bury his dead body.

Then, along came an eagle to pick up his soul…

—-

Bagus ya, jadinya? Hayah….

Proses

Wednesday, 5 August 2009 pukul 5:51 WIB 6 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Api menyala kebiruan persis di bawah wajan. Secukupnya minyak dituangkan dari botol bekas kecap ke wajan. Perlahan-lahan, api yang menjilati pantat wajan itu pun mulai memanaskan minyak sehingga mendidih.

Di saat yang hampir bersamaan, telur dipecahkan, dituangkan isinya ke dalam gelas, ditambah sedikit garam, diaduk. Pisau memotong daun bawang dan sawi menjadi potongan kecil-kecil. Telur yang telah diaduk dituangkan ke dalam minyak yang mendidih di atas wajan. Nasib yang sama pun menimpa sawi dan daun bawang, dilempar-lemparkan begitu saja masuk ke dalam wajan. Menambah lengkap rasa, ditambahkan pula: sambal—tergantung permintaan pedas atau tidak—garam, penyedap rasa.

Semua diaduk bersama minyak di atas wajan. Wajan bergoyang-goyang, pedagang bergoyang, gerobak bergoyang.

Nasi ganti diambil kini, tak terlalu banyak. Ukurannya sepiring saja, atau tergantung pesanan. Dituangkan begitu saja di atas wajan, menimbun telur dadar dan bumbu-bumbu. Hiruk pikuk kini di atas wajan karena semua bercampur, semua diaduk, semua saling memengaruhi.

Bau harum menyeruak mencemarkan udara malam. Kepulan asap mengganggu cahaya petromax yang temaram. Bau yang sama mampir di hidung, membuat cacing di perut tak hanya keroncongan kini, namun sudah memainkan nada lain pertanda protes yang gegap gempita.

Ada kecap dituangkan. Adukan bertambah kuat. Warna nasi berubah lagi, dari putih, kemerahan sekarang menjadi sedikit kehitaman. Bau gosong tak jarang datang pula tak diundang. Terbayang sudah rasa pahit yang akan terbit. Namun tak benar-benar pahit, belum tentu juga karena semua masih absurd.

Makanan tak mungkin dinilai sekadar dari baunya saja, bukan?

Akhirnya, semua ritual selesai. Api dikecilkan, wajan dipegang dengan lap kemudian diangkat di atas piring. Semua nasi, semua isi wajan disorong perlahan-lahan jatuh di atas piring. Diatur-atur sedikit biar rapi dan membentuk gundukan cantik. Ditambahkan kerupuk bulat-bulat kecil yang seperti ditaburkan di atas gundukan nasi. Bawang goreng tak ketinggalan ikut dijatuhkan di atas nasi persis seperti hujan menusuki bumi. Hmmm, harumnya pun menguar menambah lapar. Terakhir, acar berisi timun, wortel dan cabai rawit dibubuhkan, diletakkan sedikit di sudut.

Nasi goreng pun jadi dan selamat makan.