melintas batas
Archive for July, 2009
Nyanyian Warna
Jul 14th
Anak kecil yang berjalan itu tak perhatikan langkahnya. Dibiarkannya kaki melangah tak hirau walau kadang terantuk batu. Kepalanya menengadah memandang ke langit.
Tak pelak, serangkum kekaguman melanda dirinya. Sejauh mata memandang hanyalah biru yang bersih. Lain saat, ketika pandangannya kembali diarahkan ke langit, tak hanya biru yang nampak, melainkan juga putih warna awan-awan. Waktu berbeda, awan yang sama menawarkan warna lain. Kelabu beranjak hitam, mengabarkan mendung walau tak selalu berarti hujan.
Bertahun kemudian, dia membaca sebuah buku dan tahulah kenapa awan berwarna kelabu. Seperti tertera pada buku itu: Jalil pernah memberi tahu Mariam, bahwa awan kelabu mendapatkan warnanya karena begitu tebal sehingga bagian atasnya menyerap cahaya matahari dan meneruskan bayangannya ke bagian dasarnya. (A Thousand Splendid Sun)
Liburan datang, darmawisata diadakan. Laut dan pantai menjadi tujuannya kini. Manakala dia dududk di pantai kembali nyanyian warna yang dia lihat. Kebiruan laut yang membentang sampai ke batas antara laut dan langit. Kehitaman pasir yang menelusup di jemari kakinya; membuat geli. Warna-warni terpal pedagang di tepi pantaiyang tak jauh dari jalan pun tak luput dari perhatiannya.
Semenjak itu, waktu entah kapan dia tak lagi ingat, tercetak jelas dalam pikirannya. Tergambar begitu rupa tak hendak lepas dari benaknya. Ihwal warna.
Ini mengenai selera. Maka, ketika dia beranjak besar mulai diketahuinya makna-makna warna. Dan, warna biru yang melabur langit begitu bersih tak pernah membuatnya risau. Detik itulah saat dia memutuskan warna kesukaannya.
Pengetahuan sedikit demi sedikit didapatnya. Takjub tak juga mengenal kata mandek ketika dia mengetahui perihal warna dasar: merah, hijau, biru. Pula, saat didapatnya pengertian mengenai jingga, kuning, ungu, sebagai hasil padu-padan warna-warna primer. Bahkan, kemudian muncul pula kesadaran bahwa kemungkinan tak juga mengenal tanda titik saat berkenalan dengan pink, merah maroon, biru donker, hijau daun.
Saat dia berjalan, senandung warna itu pun mulai terdengar. Sesekali mengalun dengan sempurna saat gradasi warna mata tertangkap bola matanya. Namun lebih sering bunyi yang acak karena tak bisa diaturnya komposisi warna jagat raya.
Satu hal yang dia ketahui dan tak hendak berubah, bahwa warna-warni lebih lengkap dan indah ketimbang hanya ada sebuah warna saja. Ibarat sebuah lagu yang terdiri dari sebuah nada, apa menariknya?
Lagu Pesisir
Jul 9th
Dengarlah nyanyian ombak
Janganlah terlampau menyimak
Agar nyanyian camar
Masih bisa kau dengar
Tengoklah teluk yang menangis
Hatinya luka tubuhnya teriris
Digerus ombak yang bergulung
Laksana sepatah hati yang murung
Liriklah tanjung yang jumawa
Tempat suar berdiri lampunya menyala
Merangsek ombak menciutkan laut
Bagai hati mengkerut walau terpaut
Di mana panjang berderet karang?
Nun di sana tegak jadi penghalang
Ikan berenang di tenang laguna
Adalah hati senang kabar bahagia
Dan buih, gulungan ombak dan laut
Dan camar, lambaian nyiur, awan tersangkut
Ada nelayan pulang bersandar
Ada lagu pesisir bisa kau dengar
Sridewanto Edi/110609
Manggis
Jul 6th
Mari kita membicarakan manggis, semua tahu manggis, kan? Ah, manggis yang itu, tahu, kan? Masa tidak tahu manggis. Halah, yang itu lho…manggis, manggis….
Sebelum saya ditendang karena mengulang-ulang kata dan bertanya hal yang sama, maka baiklah begini ceritanya—halah!
Bapak saya gemar menanam berbagai macam pepohonan. Salah satu jenis pohon favorit yang beliau tanam adalah buah-buahan. Dahulu, banyak buah yang tumbuh di halaman dan sekitar rumah. Beberapa di antaranya adalah rambutan, duku, jambu, mangga, kelengkeng, nanas dan entah apa lagi saya lupa. Paling banyak rambutan, kira-kira ada 5 pohon waktu itu sekitar dua tahun yang lalu. Adapun sekarang, sudah banyak yang ditebang dengan berbagai alasan dan hanya menyisakan dua buah saja. Sementara jenis buah yang lain sepertinya tak lebih dari dua, kebanyakan satu pohon untuk setiap jenis buah.
Di antara semua jenis buah-buahan yang ada, manggis terasa istimewa. Pertama kali saya melihatnya berbuah cukup membuat terkagum-kagum. Oiya, posisi pohon manggis di dekat pagar terbuat dari tanaman yang membatasi kebun dengan pekarangan tetangga. Ia tidak terlalu tinggi, ia tumbuh di bawah pohon durian dan sengon serta pete. Agak jauh sedikit, sebuah pohon kelengkeng yang rimbun turut pula menaunginya. Pendek kata, ia dikepung, tak bisa tinggi. Kendati demikian, di sanalah ia tumbuh dan hebatnya berbuah. Ah, hebat, bukan?
Dan buahnya, tahukah kau, kawan? Tahukah buah manggis, pasti tahu, kan? Masa tidak tahu? Hahaha, khawatir ditendang lagi saya.
Begitu halus kulit luarnya, kemerahan. Oya, yang belum matang putih kehijauan, kemudian beranjak memerah dan terus menua warna merahnya. Di sisi lain dari bagian tangkai ada semacam sisa dari kelopak bunga barangkali bila saya tidak salah. Bagian ini, dipercaya mencerminkan jumlah anak-anak buah manggis yang ada di bagian dalam kulit luar. Dan anak-anak buah di dalamnya, begitu putih, lembut dan manis, bukan?
Manggis, biasa digunakan sebagai perlambang selain buah durian dan kedondong. Kulit luar dan buah di dalamnya yang digunakan sebagai perhitungan. Manggis memiliki kulit dan buah yang sama halus dengan isinya. Durian, tak perlu dijelaskan bagian luarnya menyeramkan sementara isinya menawarkan kenikmatan tiada tara. Dan kedondong, entah kenapa bagian luarnya halus namun di dalamnya pada bijinya berserabut tidak karuan.
Konon, begitu juga halnya manusia. Ada yang kulit dan isinya sama halusnya, ada yang hanya kulitnya yang halus, pun ada pula jenis isinya saja yang halus.
Jelas di sini manggis menikmati tempat yang istimewa. Laksana gadis, ia cantik luar dalam. Hebat, ya?
Kembali ke manggis di pekarangan itu, yukkk….
Nah, senang sekali mengamati bagaimana perubahan buah manggis dari mula dia kehijauan kemudian beranjak merah dan matang. Sayang, hal ini tidak setiap saat bisa dilakukan. Pada musim-musim awal, kami sekeluarga begitu memerhatikan pohon dan buah manggis kami.
Setelah dia semakin sering berbuah dari musim ke musim, maka perhatian pun memudar, acuh dan abai pada pohon dan buahnya. Maka, jangan salahkan ketika anak tetangga mulai ikut menikmatinya, tentu saja tanpa ijin mereka melakukannya.
Hal yang biasa terjadi kemudian adalah, pada saat belum matang saya bisa mengamatinya dengan takjub dan penuh kesabaran. Menjelang buahnya matang beberapa sudah hilang entah ke mana. Saatnya matang, tak pernah kami tahu di perut siapa dia berada. Meskipun ada pula beberapa buah tersembunyi yang jatuh, luruh ke tanah dan busuk. Buah pun mesti melalui seleksi alam untuk bisa saya saksikan bagaimana siklusnya. Eh, seleksi alam atau seleksi mata-mata jahil anak tetangga, ya? Hehehe.
Bila beruntung sekali menikmati yang matang, maka dengan adik-adik akan membuat tebakan. Menghitung jumlah kelopak di bagian yang berlawanan dengan tangkai dan mencocokkannya dengan jumlah daging buah di bagian dalam, apakah cocok atau tidak. Terkadang, bila jumlah buah manggisnya banyak, kami berebutan buah dan kemudian berlomba cepat menghitung kelopak mencari yang paling banyak. Tanpa sadar kami telah melakukan seleksi pada buah-buah itu.
Di sekumpulan buah itu, kami memilih secara langsung, bebas dan tidak rahasia. Tak ada KPU, tak ada kampanye, tak ada debat, namun kami bisa mendapatkan pilihan kami dan senang karenanya.
Dalam hitungan hari, Anda pun akan menentukan pilihan untuk masa depan bangsa ini. Saya bilang Anda karena memang saya tidak ikut memilih, saya golput karena berbagai kendala yang menghadang sehingga saya tak pulang dan turut memasuki kotak suara kemudian mencontreng.
Besar harapan saya, walaupun saya tidak turut memilih secara langsung, namun kepada Anda yang beruntung terdaftar dan bisa memilih agar bisa cermat dalam mencontreng. Seperti halnya manggis, barangkali di antara yang Anda pilih ada yang masih setengah matang. Lalu seperti halnya kami sekeluarga yang tak pernah menikmati manggis yang matang, saya kurang tahu apakah di antara yang akan Anda pilih ada yang matang atau tidak. Pula, semoga yang Anda contrng tidak sama dengan apa yang kami temukan saban pagi, yakni manggis busuk yang telah luruh, jatuh ke tanah.
Setelah itu jangan lupa pula untuk menghitung dan menimbang persis ketika kami, saya dan adik-adik menghitung jumlah kelopak untuk mengetahui manggis mana yang terbaik di antara sekumpulan manggis. Pada akhirnya, semoga yang Anda dapatkan mirip pula dengan yang biasa pemenang dapat di antara kami: sebutir manggis yang mendekati matang, sudah melewati setengah matang dan belum menjadi busuk, jumlah daging buahnya banyak dan saat dimakan rasanya pun nikmat sekali.
Namun kemenangan tak selalu dimiliki setiap orang karena hanya ada satu pemenang. Maka pihak yang kalah pun harus memakan manggis yang ada di wadah, walaupun barangkali jidat mengernyit, lidah berkata, “ogah.” Semoga tidak ada pula yang mendapat atau menjadi manggis busuk, karena nasibnya hanya dibuang dan mampir di tempat sampah. Amien.
Maafkan Dendam
Jul 4th
most people who seek blood they get it, but you always have a choice (wolverine the origin)
Dendam, mimpi dan cinta, ketiganya memiliki kekuatan yang sama untuk mendorong seseorang mencapai tujuan. Entah dari mana kekuatan tersebut berasal, namun meski tak selalu tujuan tercapai banyak yang rela melakukan berbagai hal atas nama ketiga kekuatan itu.
Seperti halnya Wolverine, mula-mula cinta membuatnya tidak terlampau liar. Hidup sederhana bersama belahan jiwanya di pucuk gunung yang tinggi dikelilingi pepohonan Pinus. Mimpinya adalah hidup bersama dengan kekasihnya itu, jauh dari hingar-bingar dunia yang kejam, mengingatkannya pada kawanannya dahulu yang tak segan menghilangkan satu dua nyawa. Cinta dan mimpi itu memang pada mulanya begitu indah, mereka hidup bersama, berdua.
Apa lacur, gerombolannya dahulu tak membiarkan Wolverine hidup dalam kedamaian. Dibuatlah huru-hara dengan cara membunuh kekasihnya. Dendam yang membara di dalam dada tak kunjung hilang bila belum berhasil menghabisi si pembunuh. Maka, ditempuhlah beragam cara untuk lebih kuat, lebih perkasa dari musuhnya.
Menjadi kelinci percobaan sebuah senjata baru pun bukan menjadi masalah yang terlampau rumit. Apa salahnya bila dengan itu dendam bisa dituntaskan, musuh dibunuh?
Di film itu pula kita lihat: peragaan cinta, buaian mimpi dan kekuatan dendam. Persis seperti apa yang dibilang oleh seorang tua pada sebuah adegan, “Mereka yang mencari darah akan mendapatkannya, namun selalu ada pilihan.” Pada akhirnya Wolverine memang menemukan musuh bebuyutannya dan berhasilkah ia membalas dendam? Ah, saya sudah lupa.
Saya teringat manakala seorang teman menulis, Memaafkan karenanya selalu jadi medan penuh ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan”. Di sini bila saya boleh menerjemahkannya secara ngawur, memaafkan bukanlah tindak yang diam. Jembatan-jembatan terhubung dengan masa lalu, masa depan pun detik ini ketika memaafkan hendak dilakukan. Bukanlah hal yang rumit sebenarnya, meski tak juga terlampau mudah. Memaafkan kemudian adalah pilihan persis seperti yang dibilang orang tua itu.
Pernah pula seorang teman lain berkata, “Aku memaafkanmu namun tak akan kulupakan.” Apakah boleh seperti itu? Ya, tentu saja boleh. Apa hak saya melarang-larang? Mungkin ketika maaf sudah diberikan namun ingatan tak juga lekang adalah saat sebuah kesalahan begitu besar dilakukan. Dan goresan luka, tertoreh begitu dalam. Tak hendak hilang tak mau pergi.
Urusan maaf-memaafkan ini memang tidak mudah. Kembali ke dendam, banyak cerita silat yang saya baca, film yang saya tonton bermula dari urusan dendam. Satu hal yang bisa saya garis bawahi, dendam tak pernah berhenti. Satu generasi akan diturunkan kepada generasi berikutnya, demikian seterusnya. Capai? Ya barangkali hanya keletihan yang menjadi muaranya. Namun tanyalah kepada mereka yang mendendam, apakah lelah, apakah letih akan menjadi penghalang?
Teringat kemudian sebuah email berantai yang pernah saya terima entah kapan. Berisi cerita seorang anak yang diminta oleh ayahnya memaku pagar di depan rumahnya. Paku-paku itu menancap begitu kuat di pagar. Setelah habis seluruh paku dalam genggaman, ayahnya meminta agar satu per satu paku itu dicabut kembali. Paku itu memang telah hilang dari pagar, namun bekas-bekas tusukannya masih ada di sana, terpampang jelas di tubuh pagar. Sang ayah kemudian menjelaskan, bahwa ketika sebuah luka tercipta di hati seseorang, tak mungkin bisa dihilangkan. Meski sejuta maaf, beribu sesal sudah diucapkan….



