Aku bangun rumah dua lantai. Sementara, entah untuk apa lantai pertama aku lupa.

“Mana bisa kamu lupa, itu kan rumahmu?”

“Diam, kamu riwil!”

Pendek kata, aku membuat sebuah kamar di lantai dua. Untuk apa? Begini mulanya:

Pokoknya kubuat kamar di lantai dua…errr, maksudku tentu banyak maksud dengan kubangun dua lantai. Di sana aku bisa menikmati angin yang semilir meniupi ketiakku. Di lantai dua itu, aku bisa melihat gedung-gedung nun jauh di sana. Di lantai dua itu, ingin pula kubikin sebuah teras di mana aku bisa melihat dan merasakan sinar pertama matahari pagi. Manakala senja, ingin sambil menikmati teh hangat dan membaca koran, bisa pula kulirik semburat jingga sinar matahari terakhir yang lenyap di balik bukit.

Akan kupasang tirai yang tipis, pula sebuah lampu yang temaram. Saat memutuskan ini, aku teringat sebuah adegan film di mana dua orang pasangan selingkuh berpelukan di pinggir jendela. Bayangan tubuh keduanya yang membentuk siluet, terlihat oleh kekasih si perempuan dari seberang jalan di bawah jendela itu. Esoknya, polisi menemukan sesosok mayat lelaki persis di mana sang kekasih itu malamnya berdiri.

Tentu saja aku tidak ingin kejadiannya seseram itu. Dan bagiku tidak elok bila rumah dibuat bermesraan dengan selingkuhan. Tentu saja aku akan melakukannya dengan istriku, dan biarkan pedagang nasi goreng yang mangkal di depan rumah menjadi saksi saat kami berpelukan. Mungkin aku begundal kelas kakap, namun soal kesetiaan jangan ditanya, jangan sekalipun meragukanku. Catat itu.

Maka, jadilah sebuah rumah dua lantai dengan kamarnya persis di tempat yang kuinginkan.

Pasca pembangunan rumah dengan kamar itu, aku pun bersiap-siap menikmati. Dan, tralala…masuklah aku di kamar yang baru. Interior persis seperti yang kuinginkan, tukang-tukang telah bekerja keras dan terpaksa namun manut mengikuti petunjuk-petunjuk yang biasanya kuberikan dalam bentuk bentakan.

Jendela dengan kaca yang lebar dan tirai menerawang. Ough, sempurna.

Kubuka perlahan-lahan tirai, sangat perlahan. Mula-mula terpampang teras mungil yang sudah sejak lama kuidam-idamkan. Yang di sana, aku bisa melihat semburat matahari pagi dan berkas cahaya jingga yang tersisa sebelum mentari tenggelam. Tak ragu segera kubuka lebar-lebar tirai itu.

Ada yang aneh. Memang teras mungil itu di sana, persis dengan instruksiku. Namun, tepat di atasnya melintang sebuah benda hitam. Dengan bergegas aku membuka pintu di samping jendela yang menghubungkan bagian dalam kamar dengan teras. Ah, ternyata bayangan indahku memudar dengan cepat.

Persis di atas teras itu melintang kabel telepon dan listrik. Itulah ternyata benda hitam yang kulihat melintang tadi. Kupandang ke timur, sebuah gedung yang agak jauh menghalangi pandangan kukira bila pagi menjelang. Agak ke bawah, deretan rumah-rumah kumuh berderet-deret sama sekali tak rapi. Saat kuarahkan pandangaku ke depan, ada ruko yang berdiri menjulang. Ruko yang memanjang sampai ke barat dan tentu saja aku menduga akan menghalangi sinar jingga mentari senja.

Sebuah rumah dua lantai, dengan kamar di lantai dua, pun teras mungilnya tiba-tiba terasa sesak. Aku kecewa….