Rumah selain sebagai tempat pulang, barangkali juga menjadi tempat menyampirkan kenangan.
Adalah Carl Fredriksen, seorang tua yang ditinggal mati istrinya. Dia mesti hidup sendiri di rumahnya yang telah dikepung situs pembangunan entah apa. Rumah itu menjadi satu-satunya yang tertinggal di lokasi proyek dan sudah diincar oleh para pengembang untuk dibeli.
Carl tak menyerah, dijaganya rumah itu dengan sepenuh hati, meski keterbatasan usia tua menghalanginya. Satu ketika, sebuah kendaraan berat dari proyek pembangunan di sekitar rumahnya menyenggol kotak surat yang berada persis di depan rumah. Carl kalap, tongkat penyangga tubuhnya pun mengambil peran. Kepala seorang pekerja menjadi sasaran tongkatnya dan berdarah. Pengadilan memutuskan Carl bersalah dan harus tinggal di panti jompo.
Rumah di mana ia menjalin ‘petualangan’ bersama dengan istrinya ternyata begitu berarti buat Carl. Tak sudi ia berpisah dengan rumah itu. Di lain sisi, masih ada impian Carl dengan Ellie istrinya yang belum tercapai. Ingin dibangunnya rumah di samping air terjun surga.
Menggunakan beribu balon yang bisa terbang, diikatnya rumah itu. Kekuatan balon bisa membuatnya mengambang dan kemudian terbang di udara. Sebuah rumah terbang lengkap dengan peralatan kemudi. Sungguh ide yang brillian. Tujuannya? Ke mana lagi kalau bukan menuju ke air terjun surga.
Berbagai petualangan muncul dalam perjalanan rumah itu menuju air terjun. Banyak yang terlibat sedari anak kecil yang ingin mencari lencana mendampingi orang tua sampai dengan burung langka dan anjing.
Tak perlulah diceritakan panjang dan lebar bagaimana petualangan itu terjadi. Tontonlah sendiri bagaimana Carl menundukkan seorang petualang tua lain yang menginginkan burung langka dalam film berjudul ‘UP’.
Yang menarik, bagi saya, adalah keinginan besar Carl untuk menuntaskan mimpi lamanya bersama sang istri. Mimpi menuju air terjun surga dan membangun rumah di sana. Mimpi ini, bukannya tidak diperjuangkan sedari mula kehidupan rumah tangga mereka. Sudah dicoba menabung, namun kebutuhan lain banyak yang memaksa mereka menggunakan hasil tabungannya. Saat tiket sudah di tangan, sakit datang tanpa diundang yang kembali menjadi penghambat.
Dengan rumahnya dan balon, akhirnya Carl bisa juga mencapai air terjun meski capaian ini baru bisa terlaksana setelah istrinya tiada. Walaupun begitu, entah kenapa, terlihat sekali di rumah itu istri Carl serasa masih hidup. Melalui foto-foto, kursi khusus untuk istrinya dan yang paling penting sebuah buku petualangan.
Bagi Carl, rumah bukan hanya tempat pulang. Rumah telah menjelma menjadi penghubung antara dia dengan istrinya yang telah tiada. Kenangan yang tertinggal dalam setiap sudutnya, membuat Carl merasa kalau istrinya masih hidup.




pertamax, paman. udah lama banget nih saya gak ngetik pertamax. haha..
review film yang bagus, paman. segera saya tonton deh..
[Jawab?]
nasehat leluhur jawa utk para pria adalah ‘kamu bisa dikatakan seorang pria apabila telah memenuhi 1)sandang (pakaian&kebutuhan hidup) 2)pangan(mencari makanan), 3.papan(rumah atau tempat tinggal)’, semoga ini bisa menjadi SOP utk para pria dlm mengarungi bahtera keluarga
[Jawab?]
Wogh.. uda nonton pilm-nya tho, pakde?
[Jawab?]
sayang saya belum sempat nonton film ini….
[Jawab?]
sempeta gak yah buat nonton….. pikir2
[Jawab?]
aku cari2 di indowebster belum ada yang R5 nya.. baru ada yang cam.
ngerti link donlotnya ga, paman?
[Jawab?]
Carl terlihat ringkih dan renta setiap waktu yah?
[Jawab?]