Nyanyian Warna
Anak kecil yang berjalan itu tak perhatikan langkahnya. Dibiarkannya kaki melangah tak hirau walau kadang terantuk batu. Kepalanya menengadah memandang ke langit.
Tak pelak, serangkum kekaguman melanda dirinya. Sejauh mata memandang hanyalah biru yang bersih. Lain saat, ketika pandangannya kembali diarahkan ke langit, tak hanya biru yang nampak, melainkan juga putih warna awan-awan. Waktu berbeda, awan yang sama menawarkan warna lain. Kelabu beranjak hitam, mengabarkan mendung walau tak selalu berarti hujan.
Bertahun kemudian, dia membaca sebuah buku dan tahulah kenapa awan berwarna kelabu. Seperti tertera pada buku itu: Jalil pernah memberi tahu Mariam, bahwa awan kelabu mendapatkan warnanya karena begitu tebal sehingga bagian atasnya menyerap cahaya matahari dan meneruskan bayangannya ke bagian dasarnya. (A Thousand Splendid Sun)
Liburan datang, darmawisata diadakan. Laut dan pantai menjadi tujuannya kini. Manakala dia dududk di pantai kembali nyanyian warna yang dia lihat. Kebiruan laut yang membentang sampai ke batas antara laut dan langit. Kehitaman pasir yang menelusup di jemari kakinya; membuat geli. Warna-warni terpal pedagang di tepi pantaiyang tak jauh dari jalan pun tak luput dari perhatiannya.
Semenjak itu, waktu entah kapan dia tak lagi ingat, tercetak jelas dalam pikirannya. Tergambar begitu rupa tak hendak lepas dari benaknya. Ihwal warna.
Ini mengenai selera. Maka, ketika dia beranjak besar mulai diketahuinya makna-makna warna. Dan, warna biru yang melabur langit begitu bersih tak pernah membuatnya risau. Detik itulah saat dia memutuskan warna kesukaannya.
Pengetahuan sedikit demi sedikit didapatnya. Takjub tak juga mengenal kata mandek ketika dia mengetahui perihal warna dasar: merah, hijau, biru. Pula, saat didapatnya pengertian mengenai jingga, kuning, ungu, sebagai hasil padu-padan warna-warna primer. Bahkan, kemudian muncul pula kesadaran bahwa kemungkinan tak juga mengenal tanda titik saat berkenalan dengan pink, merah maroon, biru donker, hijau daun.
Saat dia berjalan, senandung warna itu pun mulai terdengar. Sesekali mengalun dengan sempurna saat gradasi warna mata tertangkap bola matanya. Namun lebih sering bunyi yang acak karena tak bisa diaturnya komposisi warna jagat raya.
Satu hal yang dia ketahui dan tak hendak berubah, bahwa warna-warni lebih lengkap dan indah ketimbang hanya ada sebuah warna saja. Ibarat sebuah lagu yang terdiri dari sebuah nada, apa menariknya?

AngelNdutz berkata...
seperti itulah kehidupan ya, Paman…kalo seneng terus,,mana enak?
mbelGedez™ berkata...
.
Hidup sayah sangad berwarna.
Situh…???
yu parmi berkata...
subhanalloh maha besar alloh yang menciptakan seberkas sinar, sehingga mata kita dapat melihat warna yang indah melalui pembiasan cahaya yang menerpa suatu benda yg memiliki warna indah itu
dita.gigi berkata...
pelanginya bagus…
KangBoed berkata...
SUNGGUH SARAT MAKNA..
SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG
blue berkata...
Sungguh indah nian jalinan kata-katanya paman…
Salam,
darnia berkata...
weeew… buku fave gw tu, uncle
tapi kok gw gak inget yah si Mariam mikir begono
belajar dari alam itu paling asyik..
semakin kita menyadari proses yang terjadi di alam ini, semakin bersyukur juga kita, bahwa kita adalah salah satu bagian dari keajaiban tersebut
salam kangen, uncle..lama gak maen ke sini
neng fey berkata...
“Dibiarkannya kaki melangah tak hirau walau kadang terantuk batu. Kepalanya menengadah memandang ke langit.”
Suka bgt pamaaan!! gw sering gitu soalna
neng fey berkata...
@ darnia : kupret, maen kesini iya, maen ket4 gw kaga
The Tukang berkata...
Ra nguati mas…., Bikin Wanita klepek-klepek.
Gimana Kabarnya mas?
itikkecil berkata...
warna-warni itulah yang membuat dunia kita bermakna….
morishige berkata...
hidup ini memang berwarna, paman.. dan sepertinya memang harus dibuat berwarna..
satu warna saja, hampa.