Manggis
Mari kita membicarakan manggis, semua tahu manggis, kan? Ah, manggis yang itu, tahu, kan? Masa tidak tahu manggis. Halah, yang itu lho…manggis, manggis….
Sebelum saya ditendang karena mengulang-ulang kata dan bertanya hal yang sama, maka baiklah begini ceritanya—halah!
Bapak saya gemar menanam berbagai macam pepohonan. Salah satu jenis pohon favorit yang beliau tanam adalah buah-buahan. Dahulu, banyak buah yang tumbuh di halaman dan sekitar rumah. Beberapa di antaranya adalah rambutan, duku, jambu, mangga, kelengkeng, nanas dan entah apa lagi saya lupa. Paling banyak rambutan, kira-kira ada 5 pohon waktu itu sekitar dua tahun yang lalu. Adapun sekarang, sudah banyak yang ditebang dengan berbagai alasan dan hanya menyisakan dua buah saja. Sementara jenis buah yang lain sepertinya tak lebih dari dua, kebanyakan satu pohon untuk setiap jenis buah.
Di antara semua jenis buah-buahan yang ada, manggis terasa istimewa. Pertama kali saya melihatnya berbuah cukup membuat terkagum-kagum. Oiya, posisi pohon manggis di dekat pagar terbuat dari tanaman yang membatasi kebun dengan pekarangan tetangga. Ia tidak terlalu tinggi, ia tumbuh di bawah pohon durian dan sengon serta pete. Agak jauh sedikit, sebuah pohon kelengkeng yang rimbun turut pula menaunginya. Pendek kata, ia dikepung, tak bisa tinggi. Kendati demikian, di sanalah ia tumbuh dan hebatnya berbuah. Ah, hebat, bukan?
Dan buahnya, tahukah kau, kawan? Tahukah buah manggis, pasti tahu, kan? Masa tidak tahu? Hahaha, khawatir ditendang lagi saya.
Begitu halus kulit luarnya, kemerahan. Oya, yang belum matang putih kehijauan, kemudian beranjak memerah dan terus menua warna merahnya. Di sisi lain dari bagian tangkai ada semacam sisa dari kelopak bunga barangkali bila saya tidak salah. Bagian ini, dipercaya mencerminkan jumlah anak-anak buah manggis yang ada di bagian dalam kulit luar. Dan anak-anak buah di dalamnya, begitu putih, lembut dan manis, bukan?
Manggis, biasa digunakan sebagai perlambang selain buah durian dan kedondong. Kulit luar dan buah di dalamnya yang digunakan sebagai perhitungan. Manggis memiliki kulit dan buah yang sama halus dengan isinya. Durian, tak perlu dijelaskan bagian luarnya menyeramkan sementara isinya menawarkan kenikmatan tiada tara. Dan kedondong, entah kenapa bagian luarnya halus namun di dalamnya pada bijinya berserabut tidak karuan.
Konon, begitu juga halnya manusia. Ada yang kulit dan isinya sama halusnya, ada yang hanya kulitnya yang halus, pun ada pula jenis isinya saja yang halus.
Jelas di sini manggis menikmati tempat yang istimewa. Laksana gadis, ia cantik luar dalam. Hebat, ya?
Kembali ke manggis di pekarangan itu, yukkk….
Nah, senang sekali mengamati bagaimana perubahan buah manggis dari mula dia kehijauan kemudian beranjak merah dan matang. Sayang, hal ini tidak setiap saat bisa dilakukan. Pada musim-musim awal, kami sekeluarga begitu memerhatikan pohon dan buah manggis kami.
Setelah dia semakin sering berbuah dari musim ke musim, maka perhatian pun memudar, acuh dan abai pada pohon dan buahnya. Maka, jangan salahkan ketika anak tetangga mulai ikut menikmatinya, tentu saja tanpa ijin mereka melakukannya.
Hal yang biasa terjadi kemudian adalah, pada saat belum matang saya bisa mengamatinya dengan takjub dan penuh kesabaran. Menjelang buahnya matang beberapa sudah hilang entah ke mana. Saatnya matang, tak pernah kami tahu di perut siapa dia berada. Meskipun ada pula beberapa buah tersembunyi yang jatuh, luruh ke tanah dan busuk. Buah pun mesti melalui seleksi alam untuk bisa saya saksikan bagaimana siklusnya. Eh, seleksi alam atau seleksi mata-mata jahil anak tetangga, ya? Hehehe.
Bila beruntung sekali menikmati yang matang, maka dengan adik-adik akan membuat tebakan. Menghitung jumlah kelopak di bagian yang berlawanan dengan tangkai dan mencocokkannya dengan jumlah daging buah di bagian dalam, apakah cocok atau tidak. Terkadang, bila jumlah buah manggisnya banyak, kami berebutan buah dan kemudian berlomba cepat menghitung kelopak mencari yang paling banyak. Tanpa sadar kami telah melakukan seleksi pada buah-buah itu.
Di sekumpulan buah itu, kami memilih secara langsung, bebas dan tidak rahasia. Tak ada KPU, tak ada kampanye, tak ada debat, namun kami bisa mendapatkan pilihan kami dan senang karenanya.
Dalam hitungan hari, Anda pun akan menentukan pilihan untuk masa depan bangsa ini. Saya bilang Anda karena memang saya tidak ikut memilih, saya golput karena berbagai kendala yang menghadang sehingga saya tak pulang dan turut memasuki kotak suara kemudian mencontreng.
Besar harapan saya, walaupun saya tidak turut memilih secara langsung, namun kepada Anda yang beruntung terdaftar dan bisa memilih agar bisa cermat dalam mencontreng. Seperti halnya manggis, barangkali di antara yang Anda pilih ada yang masih setengah matang. Lalu seperti halnya kami sekeluarga yang tak pernah menikmati manggis yang matang, saya kurang tahu apakah di antara yang akan Anda pilih ada yang matang atau tidak. Pula, semoga yang Anda contrng tidak sama dengan apa yang kami temukan saban pagi, yakni manggis busuk yang telah luruh, jatuh ke tanah.
Setelah itu jangan lupa pula untuk menghitung dan menimbang persis ketika kami, saya dan adik-adik menghitung jumlah kelopak untuk mengetahui manggis mana yang terbaik di antara sekumpulan manggis. Pada akhirnya, semoga yang Anda dapatkan mirip pula dengan yang biasa pemenang dapat di antara kami: sebutir manggis yang mendekati matang, sudah melewati setengah matang dan belum menjadi busuk, jumlah daging buahnya banyak dan saat dimakan rasanya pun nikmat sekali.
Namun kemenangan tak selalu dimiliki setiap orang karena hanya ada satu pemenang. Maka pihak yang kalah pun harus memakan manggis yang ada di wadah, walaupun barangkali jidat mengernyit, lidah berkata, “ogah.” Semoga tidak ada pula yang mendapat atau menjadi manggis busuk, karena nasibnya hanya dibuang dan mampir di tempat sampah. Amien.

dita.gigi berkata...
ya ampun, saya pikir ini ngomongin manggis…
jadi pengen makan manggis…
dirumah ada, sawo, markisa, jeruk limau, srikaya, apa lagi yaaa… banyak deehh…
yu parmi berkata...
filosopi buah manggis adalah contoh dari pesan sebuah hadits. Bahwa Allah tidak akan melihat bentuk fisik seseorang. Tapi Allah akan melihat hati dan amal baik seseorang. Biarpun rupanya jelek, kulitnya hitam, yang penting hatinya bersih (dan tentunya manis rasanya, seperti manggis)
warm berkata...
wew, jadi tebak manggis,
padahal asanya memang baru ktahuan setelah dikupas..
tapi besok, saya gak akan pake tebak manggis,
langsung menuju isinya yang putih & manis itu..
…
hmm
Aku berkata...
Emg punya pohon manggis?
d3nfx berkata...
udah lama aku ga makan manggis, setelah baca post ini jadi rindu ama manggis sampe lupa rasanya
neng fey berkata...
apapula itu, dari manggis ke pemilu?
mau dong manggisnya?