batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Teras Mungil

Wednesday, 29 July 2009 pukul 19:30 WIB 5 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Aku bangun rumah dua lantai. Sementara, entah untuk apa lantai pertama aku lupa.

“Mana bisa kamu lupa, itu kan rumahmu?”

“Diam, kamu riwil!”

Pendek kata, aku membuat sebuah kamar di lantai dua. Untuk apa? Begini mulanya:

Pokoknya kubuat kamar di lantai dua…errr, maksudku tentu banyak maksud dengan kubangun dua lantai. Di sana aku bisa menikmati angin yang semilir meniupi ketiakku. Di lantai dua itu, aku bisa melihat gedung-gedung nun jauh di sana. Di lantai dua itu, ingin pula kubikin sebuah teras di mana aku bisa melihat dan merasakan sinar pertama matahari pagi. Manakala senja, ingin sambil menikmati teh hangat dan membaca koran, bisa pula kulirik semburat jingga sinar matahari terakhir yang lenyap di balik bukit.

Akan kupasang tirai yang tipis, pula sebuah lampu yang temaram. Saat memutuskan ini, aku teringat sebuah adegan film di mana dua orang pasangan selingkuh berpelukan di pinggir jendela. Bayangan tubuh keduanya yang membentuk siluet, terlihat oleh kekasih si perempuan dari seberang jalan di bawah jendela itu. Esoknya, polisi menemukan sesosok mayat lelaki persis di mana sang kekasih itu malamnya berdiri.

Tentu saja aku tidak ingin kejadiannya seseram itu. Dan bagiku tidak elok bila rumah dibuat bermesraan dengan selingkuhan. Tentu saja aku akan melakukannya dengan istriku, dan biarkan pedagang nasi goreng yang mangkal di depan rumah menjadi saksi saat kami berpelukan. Mungkin aku begundal kelas kakap, namun soal kesetiaan jangan ditanya, jangan sekalipun meragukanku. Catat itu.

Maka, jadilah sebuah rumah dua lantai dengan kamarnya persis di tempat yang kuinginkan.

Pasca pembangunan rumah dengan kamar itu, aku pun bersiap-siap menikmati. Dan, tralala…masuklah aku di kamar yang baru. Interior persis seperti yang kuinginkan, tukang-tukang telah bekerja keras dan terpaksa namun manut mengikuti petunjuk-petunjuk yang biasanya kuberikan dalam bentuk bentakan.

Jendela dengan kaca yang lebar dan tirai menerawang. Ough, sempurna.

Kubuka perlahan-lahan tirai, sangat perlahan. Mula-mula terpampang teras mungil yang sudah sejak lama kuidam-idamkan. Yang di sana, aku bisa melihat semburat matahari pagi dan berkas cahaya jingga yang tersisa sebelum mentari tenggelam. Tak ragu segera kubuka lebar-lebar tirai itu.

Ada yang aneh. Memang teras mungil itu di sana, persis dengan instruksiku. Namun, tepat di atasnya melintang sebuah benda hitam. Dengan bergegas aku membuka pintu di samping jendela yang menghubungkan bagian dalam kamar dengan teras. Ah, ternyata bayangan indahku memudar dengan cepat.

Persis di atas teras itu melintang kabel telepon dan listrik. Itulah ternyata benda hitam yang kulihat melintang tadi. Kupandang ke timur, sebuah gedung yang agak jauh menghalangi pandangan kukira bila pagi menjelang. Agak ke bawah, deretan rumah-rumah kumuh berderet-deret sama sekali tak rapi. Saat kuarahkan pandangaku ke depan, ada ruko yang berdiri menjulang. Ruko yang memanjang sampai ke barat dan tentu saja aku menduga akan menghalangi sinar jingga mentari senja.

Sebuah rumah dua lantai, dengan kamar di lantai dua, pun teras mungilnya tiba-tiba terasa sesak. Aku kecewa….

First Lesson

Tuesday, 28 July 2009 pukul 15:50 WIB 11 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Pito baru saja membuka botolnya yang ke dua. Botol berisi cairan seputih susu itu mengeluarkan aroma yang memikat. Tak berapa lama, mulailah dia meracau. Saya pun, manggut-manggut mendengarkan aneka rupa petuahnya.  Di antara semua ocehannya yang ajaib itu, hahaha, ada pula saran agar saya tidak takut untuk menulis dalam Bahasa Inggris. “Udah, hajar aja!” Begitu kurang lebih pesannya.

Meskipun begitu, tetap saja, saya merasa kurang percaya diri. Maka, diam-diam saya menyusun strategi–halah! Saya berencana akan mengirimkan email kepadanya, berupa tulisan saya dalam Bahasa Inggris yang masih acak-adul. Harapannya, nanti tulisan saya akan diperiksanya, ada saran darinya dan bagaimana cara yang benar menuliskannya. Saya juga tertarik untuk mengikuti kelas BHI english club yang diasuhnya itu.

Maka inilah dia, percobaan menulis saya itu. Harapannya dengan ditulis di sini, bisa memudahkan saya juga bila sewaktu-waktu ingin membuka catatan. Di bawah ini, ada tiga tulisan. Pertama, tulisan asli dari saya. Ke dua, revisi dan saran yang dibuat Pito. Ke tiga, hasil akhir tulisan jadinya. Mau belajar juga? Hyuukkkk….

—-

as your suggestion for me this morning, that i should try to write in english….

so, please check this note and i hope you not mind to give attention in every mistakes i have made in this note, hehehe

[...]I have just finished seen ‘Public Enemies’. It was a good movie, indeed.

The movie tells us about Johny Billinger, a bank robbery. How he stole money from the bank and escaped from the biro investigation. Also, don’t forget about his love to gorgeous girl whom he met in the party.

I’ve try to find a memorable quote that won’t go from my mind trough the internet. But again and again I just found the same quote. Actually, in the end I couldn’t find quotes I meant.

Well, this is a quote from Johny to Billie, his girl friend. I little forget what the pre action, but he just say that this doesn’t important about our origin. The most important is our destination, where we will go?

Have you ever heard about this quote before? [...]

—-

as for your request, i think i could give high light and explanation in different font color in between brackets as explanation, as follows:

as your suggestion for me this morning, that i should try to write in english….

so, please check this note and i hope you not (don’t. i mind means i reluctant. i don’t mind means i’m not reluctant in doing it) mind to give attention in every mistakes i have made in this note, hehehe

[...]I have just finished seen ‘Public Enemies’. It was a good movie, indeed.

The movie tells (sentence concord–as my teacher said–is the most important thing in writing. in the first paragraph, you used past, so, it supposed to be past also) us about Johny Billinger, a bank robbery (check the dictionary. robbery is the action, while the person commits robbery is called robber). How (i don’t think ‘how’ is needed) he stole money from the bank and escaped from the biro investigation. Also, don’t forget about his love to gorgeous girl whom he met in the party.

I’ve try (tried, but i think ‘i’ve been trying’ is more proper) to find a memorable quote that won’t go from my mind trough the internet (“i’ve been trying to find a memorable quote trough the internet, the quote that won’t go from my mind”. what do you think if you put that sentence this way?). But again and again I just found the same quote. Actually, in the end I couldn’t find quotes I meant (haha! that’s funny! no, you haven’t made any mistakes in this one).

Well, this is a quote from Johny to Billie, his girl friend. I little forget what the pre action (was), but he just say (said) that this doesn’t important about our origin (‘it’s not important where we come from’?). The most important is our destination, where we will go (where will we go)?

Have you ever heard about this quote before? [...]

—-

I had just finished watching ‘Public Enemies’. It was a good movie, indeed.

The movie told us about Johny Billinger, a bank robber. He stole money from the bank and escaped from the bureau of investigation. Also, he could not forget about his love to a gorgeous girl whom he met in the party.

I’ve been trying to find a memorable quote through the internet, the one that won’t go from my mind. But again and again I just found the same quotes. And actually, in the end, I couldn’t find the quotes that I meant.

Well, this is a quote from Johny to Billie, his girlfriend. I quite forget what the pre action was, but he just said ‘where we came from is not important. The most important is our destination, to where we will go’.

—-

fuhhhh…. *ngelap keringet*

UP, Sebuah Kenangan

Monday, 27 July 2009 pukul 11:37 WIB 7 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Rumah selain sebagai tempat pulang, barangkali juga menjadi tempat menyampirkan kenangan.

Adalah Carl Fredriksen, seorang tua yang ditinggal mati istrinya. Dia mesti hidup sendiri di rumahnya yang telah dikepung situs pembangunan entah apa. Rumah itu menjadi satu-satunya yang tertinggal di lokasi proyek dan sudah diincar oleh para pengembang untuk dibeli.

Carl tak menyerah, dijaganya rumah itu dengan sepenuh hati, meski keterbatasan usia tua menghalanginya. Satu ketika, sebuah kendaraan berat dari proyek pembangunan di sekitar rumahnya menyenggol kotak surat yang berada persis di depan rumah. Carl kalap, tongkat penyangga tubuhnya pun mengambil peran. Kepala seorang pekerja menjadi sasaran tongkatnya dan berdarah. Pengadilan memutuskan Carl bersalah dan harus tinggal di panti jompo.

Rumah di mana ia menjalin ‘petualangan’ bersama dengan istrinya ternyata begitu berarti buat Carl. Tak sudi ia berpisah dengan rumah itu. Di lain sisi, masih ada impian Carl dengan Ellie istrinya yang belum tercapai. Ingin dibangunnya rumah di samping air terjun surga.

Menggunakan beribu balon yang bisa terbang, diikatnya rumah itu. Kekuatan balon bisa membuatnya mengambang dan kemudian terbang di udara. Sebuah rumah terbang lengkap dengan peralatan kemudi. Sungguh ide yang brillian. Tujuannya? Ke mana lagi kalau bukan menuju ke air terjun surga.

Berbagai petualangan muncul dalam perjalanan rumah itu menuju air terjun. Banyak yang terlibat sedari anak kecil yang ingin mencari lencana mendampingi orang tua sampai dengan burung langka dan anjing.

Tak perlulah diceritakan panjang dan lebar bagaimana petualangan itu terjadi. Tontonlah sendiri bagaimana Carl menundukkan seorang petualang tua lain yang menginginkan burung langka dalam film berjudul ‘UP’.

Yang menarik, bagi saya, adalah keinginan besar Carl untuk menuntaskan mimpi lamanya bersama sang istri. Mimpi menuju air terjun surga dan membangun rumah di sana. Mimpi ini, bukannya tidak diperjuangkan sedari mula kehidupan rumah tangga mereka. Sudah dicoba menabung, namun kebutuhan lain banyak yang memaksa mereka menggunakan hasil tabungannya. Saat tiket sudah di tangan, sakit datang tanpa diundang yang kembali menjadi penghambat.

Dengan rumahnya dan balon, akhirnya Carl bisa juga mencapai air terjun meski capaian ini baru bisa terlaksana setelah istrinya tiada. Walaupun begitu, entah kenapa, terlihat sekali di rumah itu istri Carl serasa masih hidup. Melalui foto-foto, kursi khusus untuk istrinya dan yang paling penting sebuah buku petualangan.

Bagi Carl, rumah bukan hanya tempat pulang. Rumah telah menjelma menjadi penghubung antara dia dengan istrinya yang telah tiada. Kenangan yang tertinggal dalam setiap sudutnya, membuat Carl merasa kalau istrinya masih hidup.

Tak Lelahkah Menderita?

Thursday, 23 July 2009 pukul 0:00 WIB 5 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam kamar hati

http://photosthatchangedtheworld.com/wp-content/uploads/2008/07/afgangirl.jpg

“Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma sebuah cerita.” Hannah Arendt

Ara, aku tahu kamu sudah tidak asing dengan penderitaan. Lantas, kenapa aku masih juga memberikan sebuah bacaan mengenai penderitaan buatmu?

Ya, buku yang barangkali baru sempat kamu sentuh itu mengenai penderitaan Laila dan Mariam.

Tentang anak haram yang mendamba kasih sayang ayah yang tak pernah mengakuinya. Manakala kasih sayang itu didapat, harus ditebus dengan kematian ibunya. Tentang deritanya menjadi istri seorang lelaki yang tak pernah dicintai. Mengenai hujaman cambuk dan kepalan tangan yang senantiasa mendarat di tubuhnya. Yang semua derita itu dihadapinya dalam diam.

Mariam sedari mula sudah tahu, Nana—ibunya yang telah tiada—pernah berkata, “Camkan ini sekarang, dan ingatlah terus, anakku: Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam.”

Sepenggal kehidupan Mariam barangkali tak layak dikenang. Hanya menawarkan pahit dan getirnya menghadapi laki-laki; menerima setiap tuduhannya. Pada mulanya memang ibunya yang menerima tuduhan itu. Perbuatan dosanya bersama Jalil membuahkan Mariam. Nama baik dan kehormatan Jalil adalah alasan terpisahnya anak dengan bapak. Tinggal bersama menjadi sebuah kemustahilan.

Sampai pada satu ketika, saat keinginan berkumpul bersama bapaknya tak tertanggungkan. Disambangi rumah bapaknya, namun apa yang didapatnya? Hanyalah seraut muka yang mengintip di antara gorden jendela. Dia kemudian tidur di depan pintu gerbang dan diminta pulang lagi ke gubuk ibunya. Ibu yang membesarkannya, tak rela Mariam terluka, diancamnya bila dia ke rumah bapaknya, maka ibu itu akan bunuh diri. Dan benar kemudian tak ada sosok ibu yang ditemui Mariam di gubugnya di tepi sungai. Jasad ibunya yang tergantung di cabang pohonlah yang menanti. Duka lara dalam sendiri.

Kejadian itu, mau tidak mau telah memaksa Jalil untuk ‘sedikit’ bertanggung jawab atas nasib Mariam. Dibawanya anak malang itu ke rumahnya yang besar dengan tiga orang istri sahnya. Pandangan mencibir pun mesti Mariam terima. Sampai puncaknya sebuah pernikahan yang dipaksakan harus dijalaninya.

Adalah Rasheed, seorang duda yang ditinggal mati anak dan istrinya. Berselisih usia tiga puluh tahun dengan Mariam. Seorang yang selalu menguarkan bau rokok, kasar dan bukan penyayang. Meski, pernah pula masa indah dialami waktu Mariam mengandung anak Rasheed. Sayang, nasib sudah digariskan. Beberapa kali mengandung, beberapa kali pula keguguran dialami. Barangkali rahim Mariam terlampau lemah untuk persemaian janin benih dari Rasheed. Semenjak keguguran demi keguguran itu, maka peran Mariam tak lebih hanyalah seorang pembantu dan pemuas nafsu birahi pun amarah Rasheed. Tak jarang, sepulang Rasheed bekerja, diikuti dengan amarah yang meletup-letup hanya gara-gara makanan yang dimasak Mariam kurang asin. Bukan hal yang asing saat cambukan ikat pinggang Rasheed mendarat di tubuh Mariam.

Simaklah bagaimana Mariam menghadapi derita itu, seperti pada pasase berikut ini: Mariam berbaring di sofa, menjepit kedua tangannya di antara kedua lututnya, menyaksikan tarian salju di luar jendela. Dia teringat pada Nana, yang pernah mengatakan bahwa setiap kepingan salju adalah helaan napas seorang wanita terluka di suatu tempat di dunia ini. Setiap helaan napas itu terbang ke langit, berkumpul di awan, lalu dalam keheningan turun kembali dan menimpa orang-orang di bumi. Sebagai peringatan atas bagaimana wanita seperti kita menderita, kata Nana. Bagaimana kita menanggung semua beban dalam keheningan.

***

Laila di sisi yang lain adalah wanita yang memupuk berjuta harapan di dadanya. Dia dibesarkan di keluarga yang bahagia meski bayang-bayang kebesaran kakaknya tak lekang dari mata ibunya. Maka, bukan keluarga yang ideal memang, karena kematian kedua kakak laki-lakinya telah merenggut kewarasan ibunya. Meskipun demikian, kasih sayang ayahnya mampu membuka jalan Laila untuk belajar dan maju.

Harapan Laila akan kehidupan yang bahagia makin ditunjang oleh kedekatannya dengan Tariq, tetangga dan teman bermain yang kelak kemudian hari menjadi kekasihnya. Berciuman, sebuah hal yang sangat tabu di Afganistan pun pernah dua sejoli ini lakukan.

Laila besar dengan harapan. Dilengkapi dengan cita-cita besar ayahnya. Diiringi keinginan manis yang membayang penuh kebahagiaan bersama Tariq.

Sayang, negara tempatnya tumbuh bukanlah media yang bagus untuk menyemaikan harapan. Perang dan pergantian kepemimpinan yang terjadi berulang telah merenggut satu demi satu kebahagiaannya.

Tariq berpamitan padanya di sebuah siang yang lengas di tengah desingan peluru dan meriam. Dia berkata kedua orang tuanya tak mungkin lagi hidup dalam ketakutan dapat terbunuh dari hari ke hari. Sebuah perpisahan yang sudah bisa diduga itu pun tetap saja terasa menyakitkan. Maka, ketika dua insan yang dirundung kesedihan memadu kasih—walau dengan segudang perasaan takut yang bercampur dengan kebahagiaan dan kesedihan—bukanlah hal yang terlampau aneh. Tariq pergi dan Laila linglung sendiri.

Perang semakin hebat berkecamuk. Pun di rumah Laila manakala ibunya enggan meninggalkan rumah dan kenangannya akan kakak-kakak Laila. Sang ayah yang tak kenal putus asa sedikit demi sedikit berhasil pula membujuk ibu untuk mengungsi. Hari kepindahan pun ditentukan, sebuah hari yang nantinya juga berarti kepindahan kedua orang tua Laila dari alam dunia ke alam baka sebagai akibat hajaran meriam yang melanda rumah mereka.

Hal yang ajaib adalah Laila tetap hidup, meski luka melumuri sekujur tubuhnya. Datang rupanya sesosok malaikat penolong yang mengais tubuh Laila dari puing-puing reruntuhan. Dia adalah Rasheed.

Hutang budi, dan terutama janin—lagi-lagi haram, buah hubungannya dengan Tariq—yang mulai membuat perut Laila membesar memaksanya menerima pinangan Rasheed. Setengah alasan lain adalah agar ia tetap bisa hidup di tengah perang yang dimenangkan kaum yang sangat membatasi hak-hak perempuan.

***

Maaf, Ra, terlampau banyak kukira aku bercerita tentang buku yang sebaiknya kamu baca sendiri itu. Di sana, dalam setiap halamannya akan kamu temukan derita yang tak tertanggungkan berganti-ganti dengan kebahagiaan yang terpenggal-penggal.

Semua manusia kukira akan mengalaminya, bukan? Hanya, akankah manusia itu menempuh jalan sunyi Mariam atau melawan penderitaan itu seperti yang Laila lakukan?

Tak terlampau sukar menebak akhir buku itu. Yah, kematian memang merenggut Mariam saat dia membela satu-satunya sumber kebahagiaannya. Pembelaan yang terasa pantas untuk seseorang yang bersedia menerima Mariam tanpa syarat setelah semua penolakan di hampir sepanjang usianya.

Adapun Laila? Simaklah lagi kutipan berikut ini: Maka, Laila pun bertekad untuk terus maju. Demi dirinya sendiri, demi Tariq, demi anak-anaknya. Dan demi mimpi Mariam, yang masih mengunjungi Laila dalam mimpi, yang selalu bernapas di dalam kesadarannya. Laila terus maju. Karena, pada akhirnya, dia tahu bahwa hanya itulah yang bisa dia lakukan. Kemajuan dan harapan.

‘A Thousand Splendid Suns’ juga memberikan sebuah sajak dari Saib-e-Tabrizi berikut ini: “Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding.”

Aku kira, puisi itu mengamanatkan sebuah gerak; tindakan yang mesti diambil bila ingin merasakan kebahagiaan. Memang benar Mariam sepanjang usianya melewati penderitaan-penderitaan. Namun, bacalah bagaimana dia bahagia walaupun takut saat berhadapan dengan malaikat maut di hari di mana hukuman mati untuknya dijatuhkan. Jangan lupa pula saat Laila berjuang dengan bilur luka, dengan penyamaran yang tak selalu berhasil saat menyambangi anaknya yang terpisah darinya. Benar dia menderita, namun pertemuan-pertemuan singkat itu pun cukup untuk menyunggingkan senyum baginya, bukan?

Tentu kau pun masih ingat, Ara, manakala kita bersama membacai rumah putih tempat Mas Ia bercerita. Di mana kita temukan serangkum kata-kata begini bunyinya, “Jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata.” Bukankah menjadi benar sebuah lagu Peterpan yang berkata, “Tak ada yang abadi” itu?

Dan lagi-lagi sebuah sajak dari buku penuh cerita pengorbanan wanita itu barangkali layak pula dibaca dan direnungkan.

Yusuf ‘kan pulang ke Kanaan, jangan bersedih,

Gubuk ‘kan berganti taman mawar, jangan bersedih.

Jikalau banjir datang, semua yang hidup tenggelam,

Nuh ‘kan jadi pemandu dalam mata topan, jangan bersedih.

Selamat ulang tahun, Ara, jangan bersedih, ya. Meski air mata mungkin seperti fajar yang selalu datang esok hari, namun harapan akan terbitnya tawa masih boleh kita gantungkan, bukan? Oiya, sudahkah kamu mencoba saran Hannah Arendt seperti di awal tulisan ini? Jika belum, cobalah….

Nyanyian Warna

Tuesday, 14 July 2009 pukul 9:20 WIB 12 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

Anak kecil yang berjalan itu tak perhatikan langkahnya. Dibiarkannya kaki melangah tak hirau walau kadang terantuk batu. Kepalanya menengadah memandang ke langit.

Tak pelak, serangkum kekaguman melanda dirinya. Sejauh mata memandang hanyalah biru yang bersih. Lain saat, ketika pandangannya kembali diarahkan ke langit, tak hanya biru yang nampak, melainkan juga putih warna awan-awan. Waktu berbeda, awan yang sama menawarkan warna lain. Kelabu beranjak hitam, mengabarkan mendung walau tak selalu berarti hujan.

Bertahun kemudian, dia membaca sebuah buku dan tahulah kenapa awan berwarna kelabu. Seperti tertera pada buku itu: Jalil pernah memberi tahu Mariam, bahwa awan kelabu mendapatkan warnanya karena begitu tebal sehingga bagian atasnya menyerap cahaya matahari dan meneruskan bayangannya ke bagian dasarnya. (A Thousand Splendid Sun)

Liburan datang, darmawisata diadakan. Laut dan pantai menjadi tujuannya kini. Manakala dia dududk di pantai kembali nyanyian warna yang dia lihat. Kebiruan laut yang membentang sampai ke batas antara laut dan langit. Kehitaman pasir yang menelusup di jemari kakinya; membuat geli. Warna-warni terpal pedagang di tepi pantaiyang tak jauh dari jalan pun tak luput dari perhatiannya.

Semenjak itu, waktu entah kapan dia tak lagi ingat, tercetak jelas dalam pikirannya. Tergambar begitu rupa tak hendak lepas dari benaknya. Ihwal warna.

Ini mengenai selera. Maka, ketika dia beranjak besar mulai diketahuinya makna-makna warna. Dan, warna biru yang melabur langit begitu bersih tak pernah membuatnya risau. Detik itulah saat dia memutuskan warna kesukaannya.

Pengetahuan sedikit demi sedikit didapatnya. Takjub tak juga mengenal kata mandek ketika dia mengetahui perihal warna dasar: merah, hijau, biru. Pula, saat didapatnya pengertian mengenai jingga, kuning, ungu, sebagai hasil padu-padan warna-warna primer. Bahkan, kemudian muncul pula kesadaran bahwa kemungkinan tak juga mengenal tanda titik saat berkenalan dengan pink, merah maroon, biru donker, hijau daun.

Saat dia berjalan, senandung warna itu pun mulai terdengar. Sesekali mengalun dengan sempurna saat gradasi warna mata tertangkap bola matanya. Namun lebih sering bunyi yang acak karena tak bisa diaturnya komposisi warna jagat raya.

Satu hal yang dia ketahui dan tak hendak berubah, bahwa warna-warni lebih lengkap dan indah ketimbang hanya ada sebuah warna saja. Ibarat sebuah lagu yang terdiri dari sebuah nada, apa menariknya?

Lagu Pesisir

Thursday, 9 July 2009 pukul 5:00 WIB 1 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam tak terjelaskan, tetirah lain

Dengarlah nyanyian ombak

Janganlah terlampau menyimak

Agar nyanyian camar

Masih bisa kau dengar

Tengoklah teluk yang menangis

Hatinya luka tubuhnya teriris

Digerus ombak yang bergulung

Laksana sepatah hati yang murung

Liriklah tanjung yang jumawa

Tempat suar berdiri lampunya menyala

Merangsek ombak menciutkan laut

Bagai hati mengkerut walau terpaut

Di mana panjang berderet karang?

Nun di sana tegak jadi penghalang

Ikan berenang di tenang laguna

Adalah hati senang kabar bahagia

Dan buih, gulungan ombak dan laut

Dan camar, lambaian nyiur, awan tersangkut

Ada nelayan pulang bersandar

Ada lagu pesisir bisa kau dengar

Sridewanto Edi/110609