melintas batas
Archive for June, 2009
Perihal Lantai
Jun 12th
Aneka macam jenis penutup lantai, mulai dari plastik untuk menutupi kayu-kayu seperti di kos saya sekarang, sampai dengan jenis keramik yang sangat mahal harganya. Di kos saya ini, lantainya terbuat dari kayu. Lokasinya yang di lantai dua sepertinya hanya tambahan saja dari rumah utama. Artinya: sedari mula bagian rumah ini tak direncanakan. Barangkali seiring berjalannya waktu ditambahkanlah lantai dua ini diperuntukkan sebagai kos-kosan.
Guna menutupi kayu-kayu tersebut, digunakanlah semacam plastik yang mirip dengan plastik penutup meja saat Anda memasuki warteg atau pecel lele, hanya berbeda pada motifnya saja. Pada mulanya saya menginjakkan kaki di sini, saya sudah tahu bila itu bukanlah keramik melainkan plastik. Penandanya adalah lantai yang berderak-derak saat diinjak. Bahkan, karena khawatir runtuh saya mencoba menginjaknya kuat-kuat sampai Ibu kos berkata, “Tidak apa-apa, itu kuat, kok.”
Saya yang lumayan sering berpindah-pindah kos dari kota ke kota cukup hapal dengan penutup lantai. Mengerti bahwa jenis penutup lantai tertentu akan memengaruhi harga sewa. Lebih jauh, penutup lantai akan melengkapi beberapa persyaratan lain seperti: luas kamar dan ketersediaan kamar mandi dalam.
Saat diperhatikan lagi, penutup lantai dari satu rumah ke rumah yang lain akan berbeda-beda. Mungkin selain tergantung selera, kemampuan finansial juga memengaruhi pemilihan jenis lantai ini. Kesejahteraan sebuah keluarga bisa ditentukan dari jenis lantai. Hal ini, terbukti dari adanya survey BPS—bila saya tidak salah ingat—dan kuesioner yang harus saya isi mengenai jenis lantai di rumah, sewaktu saya kuliah dulu.
Di kampung saya, masih ada rumah-rumah berlantai tanah. Terkadang begitu berdebu sehingga jangan heran bila tuan rumah membuang sisa teh dari gelas atau air putih dalam teko ke lantai. Bukan jorok, namun tujuannya agar lantai basah dan mengurangi sedikit debu. Pada jenis lantai ini harap berhati-hati sedikit saaat melangkah, karena seringkali permukaannya tidak rata. Pada beberapa bagian ada yang menggelembung membentuk tonjolan pun sebaliknya ada yang membentuk cekungan. Bukan suatu masalah untuk tuan rumah yang sudah hapal betul di mana yang menonjol dan di mana yang cekung. Tapi, tentu tak sama bagi para tamu yang datang karena bisa-bisa kaki terantuk tonjolan atau keseleo saat menginjak bagian yang cekung.
Hal yang umum sekarang ini dalah lantai keramik. Terkesan rapi, bersih dan makmur sebuah rumah bila penutup lantainya menggunakan jenis ini. Namun, bukan berarti masalah selesai dengan tiadanya tonjolan dan cekungan di lantai keramik. Karena, kebersihan lantai harus terus-menerus dijaga atau banyak debu yang akan memberikan lapisan tipis di atasnya dan justru terlihat sangat kotor. Aneka rupa jenis cairan pembersih pun banyak tersaji di pasaran, bahkan ada yang tidak hanya membersihkan namun juga menghilangkan kuman.
Terkadang keramik—atau apalah namanya saya kurang tahu—tidak hanya menutupi lantai. Benda yang sama akan merambah dinding-dinding. Ini bisa dilihat di rumah-rumah juga sekolah dan kantor. Dinding yang biasanya cukup dilapisi cat aneka warna kini tertutup keramik. Maka, mudah ditemukan rumah yang bersih, berkilat-kilat, cling!
Khusus di sekolah, seseorang pernah berkata bahwa keramik di dinding bertujuan untuk menjaga kebersihan sekolah. Anak-anak kecil atau yang sudah lebih besar ternyata masih saja ada yang jorok. Sehabis memakan gorengan atau jajan, bukannya tissue atau lap yang digunakan untuk membersihkan minyak yang menempel malah tembok yang kena sasaran. Penggunaan keramik dapat menghindari tembok dari noda-noda minyak itu atau kotoran lain yang sukar dibersihkan bila dinding hanya dilapisi cat.
Produsen keramik juga tak kurang akal. Dibuatlah kerami dengan motif tertentu seperti gambar ka’bah, bunga atau hewan. Kini dinding rumah pun menjadi kian indah karena adanya sekumpulan keramik yang menampilkan gabar tertentu. Lain halnya di kantor, selain lantai yang tentu saja ditutup dengan keramik, ada bahkan yang sekujur tubuh gedung dilapisi keramik. Wuah, gagah sekali nampaknya, walaupun untuk membersihkannya sangat sukar nampaknya dan mahal pastinya. Bagaimana tidak bila—saya pernah melihat—para tukang bersih-bersih keramik itu harus bergelantungan lengkap dengan tali-temali dan peralatan yang tak kalah lengkapnya dengan pemanjat tebing.
Lantas, bagaimana dengan penutup lantai di rumah Anda, apakah sekarang ini telah bisa digunakan untuk bercermin?
–Keterbatasan pengetahuan membuat saya hanya tahu keramik, padahal barangkali banyak jenis yang lain, maka mohon tambahan informasinya, ya.–
Sridewanto Edi/060609
Curhat Asmaranya Blogger
Jun 11th
Apa salahnya blogger curhat? Ndoro pun sudah menulis mengenai ‘Ngeblog dengan Hati’. Maka, curhat barangkali sesuatu yang mendekati apa yang ada di dalam buku Ndoro itu.
Penggalan kisah kehidupan yang jujur ditulis oleh blogger di blognya sendiri, di sudut lain akan mendapat tanggapan dari rekan blogger lainnya. Tak jarang, dua blogger itu akan bertemu.
“Oh, iya saya tahu blogmu. Saya biasa berkunjung tapi tak pernah komen.” Haha, ini biasa terjadi bila dua orang blogger yang tak pernah bertemu mendapat kesempatan kali pertama perjumpaan.
“Hai, bukankah kamu yang menulis tentang pantai? Jadi, bagaimana sekarang? Sudah ketemu apa yang ditunggu?” ah, ini jenis pertanyaan yang berbeda. Jelas terlihat kalau si empunya kata pernah tak hanya singgah, namun juga rehat, membaca dan kemudian membuat pertanyaan.
“Belum juga, tuh, sampai sekarang.” Mungkin ini gerbang curhatan saat mulai dibuka. Janganlah menjadi terlampau kaget bila dari deretan kata itu berlanjut ke obrolan dan ‘permainan’ yang panjang.
Saya pun sebenarnya hanya mengira-kira saja ilustrasi di atas. Ingin benar saya tahu bagaimana jalan cerita yang sebenarnya terangkai. Barangkali Anda juga memiliki keinginan yang sama dengan saya? Kenapa tidak datang saja besok sore jam 18.30 di JEC? Dan, dapatkan kisah lengkapnya di sana bersama teman-teman punggawa CahAndong.
Tafsir Kitaro III
Jun 10th
Reflection Of The Moon
Tenang-tenanglah air. Diamlah ikan-ikan. Berhentilah bergerak angin. Wahai angsa tidakkah kau capai bercumbu mesra?
Lihatlah sebentar lagi bulan yang cantik akan bercermin di sini, di danau ini.
Nah, sudahkah kau lihat? Bagaimana kuning emasnya, bulat sempurnanya wajah rembulan.
Maka, sentuhlah dia wahai ikan, namun jangan kau gerakkan air atau kau akan melukai wajahnya.
Belailah dia duhai angin, namun jangan terlampau keras. Cukup kau sapu saja sedikit permukaannya. Jadilah bedak tipis yang tidak menghalangi namun mempercantiknya. Membuatnya menjadi sedikit lebih misterius, bisakah?
Aku sarankan padamu angsa, belajarlah mencinta dari rembulan. Tak pernah dia menyimpan cinta matahari sedikitpun. Diberikan semuanya kepada kita di danau ini, di bumi ini. Walau karena itu juga terkadang tubuhnya ditelan raksasa buruk rupa yang iri karena tak bisa mencinta.
Namun kau lihat sendiri, bukan? Tak pernah ada menyerah dalam kamus hidupnya dia mulai lagi mencintai dari sedikit seperti sabit petani yang menyiangi rumput. Beranjak separuh seperti terbelahnya hati, separuh untuk kekasih dan separuh untuknya. Kendati pada akhirnya dia tak lagi perduli, diserahkannya semua utuh semacam purnama.
Sayang semua itu tak lama. Karena memang cinta begitu indah untuk hidup yang terlampau singkat ini. Maka, kenapa tidak segera kau rayakan.
Hei! Kenapa begitu sunyi? Ah, rupanya jangkrik pun menahan nafas melihat kecantikan rembulan di danau. Biarlah, karena perayaan tak selamanya gegap-gempita. Mungkin sedang dikenangkan pula sebentuk cinta lama. Biarlah dan nikmatilah semua, kunyahlah, kerkahlah, lumatlah dalam perayaan cinta. Selagi bisa, mumpung masih bisa.
Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake
Sridewanto Edi/220509
Terlambat Bangun
Jun 9th
Mungkin inilah biang masalah di pagi hari. Entah kenapa bunyi alarm dari weker, hape atau teriakan Ibu tidak juga berpengaruh. Padahal, mata sudah terbuka, lho, ketika bebunyian itu terdengar.
Kemudian ritual yang umum berlaku adalah bunyi itu terdengar, telinga bereaksi diikuti dengan mata terbuka. Tak lama, tangan bergerak, meraba-raba sumber suara. Bila bunyi berasal dari hape, pencet saja sembarang tombol dan hape pun terdiam. Jika itu weker ya cari tombolnya atau bisa juga pakai cara sahabat saya ini, yaitu dengan membanting wekernya. Nah, bagaimana kalau Ibu? Ya jangan ditampar, itu kurang ajar namanya. Cukuplah pindahkan bantal yang semula di bawah kepala, alihkah ke atas menutupi kuping. Nah, sekarang beres, kan?
Lantas, bila semua sumber bunyi sudah diam, ngapain dong? Ya merem, ah, masa gitu aja nanya? Dan anehnya, kenapa pasca melakukan ritual mendiamkan semua pengganggu tidur itu justru bobok kian lelap? Saya kira hal ini akan menjadi misteri abad ini—halah!
Tidur yang lelap itu, bagaimanapun juga tidak akan berlangsung lama, kecuali Anda semacam teman saya itu yang susah nian bangun bila matahari belum lengser ke Barat. Parahnya, selepas bangun yang sebenarnya ini, mulailah rentetan kebingunan terjadi. Semenjak pertanyaan tak penting semacam, “Kenapa aku bangun jam segini?” sampai dengan melakukan sesuatu di pagi itu dengan tergesa-gesa. Dapat dibayangkan, bukan? Mmm, atau tak perlu dibayangkan bila itu terjadi pada Anda setiap pagi? Hahaha.
Di kamar mandi terburu-buru, masih ada yang belum tuntas. Bisa sisa kotoran dalam perut yang masih antri di usus besar dan belum mau keluar. Mungkin juga sisa sabun masih ada yang tertinggal di telinga lupa belum dicuci. Argghhhh….
Tak heran kemudian jika di kantor atau sekolah Anda kembali diusik dengan urusan perut yang belum beres. Jangan marah pula bila ada teman yang menertawakan dan berkata, “Itu, kupingmu masih ada.” Batin Anda, ya masihlah, kan tiada yang memotong telingaku. Padahal maksudnya masih ada sisa sabun di telinga Anda.
Lalu, masih ingatkah kapan pagi Anda berlangusng dengan damai dan tenang?
Sridewanto Edi/040609


