
Aneka macam jenis penutup lantai, mulai dari plastik untuk menutupi kayu-kayu seperti di kos saya sekarang, sampai dengan jenis keramik yang sangat mahal harganya. Di kos saya ini, lantainya terbuat dari kayu. Lokasinya yang di lantai dua sepertinya hanya tambahan saja dari rumah utama. Artinya: sedari mula bagian rumah ini tak direncanakan. Barangkali seiring berjalannya waktu ditambahkanlah lantai dua ini diperuntukkan sebagai kos-kosan.
Guna menutupi kayu-kayu tersebut, digunakanlah semacam plastik yang mirip dengan plastik penutup meja saat Anda memasuki warteg atau pecel lele, hanya berbeda pada motifnya saja. Pada mulanya saya menginjakkan kaki di sini, saya sudah tahu bila itu bukanlah keramik melainkan plastik. Penandanya adalah lantai yang berderak-derak saat diinjak. Bahkan, karena khawatir runtuh saya mencoba menginjaknya kuat-kuat sampai Ibu kos berkata, “Tidak apa-apa, itu kuat, kok.”
Saya yang lumayan sering berpindah-pindah kos dari kota ke kota cukup hapal dengan penutup lantai. Mengerti bahwa jenis penutup lantai tertentu akan memengaruhi harga sewa. Lebih jauh, penutup lantai akan melengkapi beberapa persyaratan lain seperti: luas kamar dan ketersediaan kamar mandi dalam.
Saat diperhatikan lagi, penutup lantai dari satu rumah ke rumah yang lain akan berbeda-beda. Mungkin selain tergantung selera, kemampuan finansial juga memengaruhi pemilihan jenis lantai ini. Kesejahteraan sebuah keluarga bisa ditentukan dari jenis lantai. Hal ini, terbukti dari adanya survey BPS—bila saya tidak salah ingat—dan kuesioner yang harus saya isi mengenai jenis lantai di rumah, sewaktu saya kuliah dulu.
Di kampung saya, masih ada rumah-rumah berlantai tanah. Terkadang begitu berdebu sehingga jangan heran bila tuan rumah membuang sisa teh dari gelas atau air putih dalam teko ke lantai. Bukan jorok, namun tujuannya agar lantai basah dan mengurangi sedikit debu. Pada jenis lantai ini harap berhati-hati sedikit saaat melangkah, karena seringkali permukaannya tidak rata. Pada beberapa bagian ada yang menggelembung membentuk tonjolan pun sebaliknya ada yang membentuk cekungan. Bukan suatu masalah untuk tuan rumah yang sudah hapal betul di mana yang menonjol dan di mana yang cekung. Tapi, tentu tak sama bagi para tamu yang datang karena bisa-bisa kaki terantuk tonjolan atau keseleo saat menginjak bagian yang cekung.
Hal yang umum sekarang ini dalah lantai keramik. Terkesan rapi, bersih dan makmur sebuah rumah bila penutup lantainya menggunakan jenis ini. Namun, bukan berarti masalah selesai dengan tiadanya tonjolan dan cekungan di lantai keramik. Karena, kebersihan lantai harus terus-menerus dijaga atau banyak debu yang akan memberikan lapisan tipis di atasnya dan justru terlihat sangat kotor. Aneka rupa jenis cairan pembersih pun banyak tersaji di pasaran, bahkan ada yang tidak hanya membersihkan namun juga menghilangkan kuman.
Terkadang keramik—atau apalah namanya saya kurang tahu—tidak hanya menutupi lantai. Benda yang sama akan merambah dinding-dinding. Ini bisa dilihat di rumah-rumah juga sekolah dan kantor. Dinding yang biasanya cukup dilapisi cat aneka warna kini tertutup keramik. Maka, mudah ditemukan rumah yang bersih, berkilat-kilat, cling!
Khusus di sekolah, seseorang pernah berkata bahwa keramik di dinding bertujuan untuk menjaga kebersihan sekolah. Anak-anak kecil atau yang sudah lebih besar ternyata masih saja ada yang jorok. Sehabis memakan gorengan atau jajan, bukannya tissue atau lap yang digunakan untuk membersihkan minyak yang menempel malah tembok yang kena sasaran. Penggunaan keramik dapat menghindari tembok dari noda-noda minyak itu atau kotoran lain yang sukar dibersihkan bila dinding hanya dilapisi cat.
Produsen keramik juga tak kurang akal. Dibuatlah kerami dengan motif tertentu seperti gambar ka’bah, bunga atau hewan. Kini dinding rumah pun menjadi kian indah karena adanya sekumpulan keramik yang menampilkan gabar tertentu. Lain halnya di kantor, selain lantai yang tentu saja ditutup dengan keramik, ada bahkan yang sekujur tubuh gedung dilapisi keramik. Wuah, gagah sekali nampaknya, walaupun untuk membersihkannya sangat sukar nampaknya dan mahal pastinya. Bagaimana tidak bila—saya pernah melihat—para tukang bersih-bersih keramik itu harus bergelantungan lengkap dengan tali-temali dan peralatan yang tak kalah lengkapnya dengan pemanjat tebing.
Lantas, bagaimana dengan penutup lantai di rumah Anda, apakah sekarang ini telah bisa digunakan untuk bercermin?
–Keterbatasan pengetahuan membuat saya hanya tahu keramik, padahal barangkali banyak jenis yang lain, maka mohon tambahan informasinya, ya.–
Sridewanto Edi/060609