Kegairahan pada hal yang baru saja dimiliki, adalah sebuah kewajaran. Sebuah motor baru, tak lelah dipandang, sebentar-sebentar ditengok, kain lap tak jauh dari jangkauan, sekadar berjaga-jaga bila ada setitik debu yang menempel. Seorang sahabat, memiliki kebiasaan unik. Dia akan memakai baju atau celana yang baru saja dibeli pada waktu tidur, alih-alih menggunakan baju tidur, dia memakai pakaian baru ini.

Waktu berselang, dan barang yang tadinya baru kemudian akan usang. Seiring berjalannya waktu, perhatian pun akan memudar, seperti pudarnya warna-warna pada sebuah baju baru. Tidak ada yang aneh, karena memang demikian yang biasa terjadi.

Apakah kemudian nilai sebuah barang akan berkurang?

Mengingat pada fungsi, sebuah pakaian tentu fungsinya untuk menutup bagian-bagian tubuh yang selayaknya tertutup. Sepeda motor, tentu sebagai salah satu alat transportasi yang akan mendukung mobilitas sehari-hari. Biarpun baru atau tidak sebuah benda, fungsinya akan sama saja. Tetapi, kenapa kemudian sebuah baju yang usang jarang-jarang dipakai? Sebuah motor yang lama dimiliki, jarang-jarang mendapat sentuhan kain lap dan busa sabun waktu mencuci?

Perhatian, rasa-rasanya berbanding terbalik dengan gairah. Saat gairah di awan-awan, begitu besar dan sedalam lautan perhatian yang diberikan. Pun sebaliknya, bila gairah berada di titik terendah, maka perhatian juga tidak lagi mendapat porsi yang besar. Keseimbangan di antara keduanya tentu tidak mudah dicapai, butuh usaha, kerja keras dan pengorbanan.

Bagaimana dengan pacar, istri, juga selingkuhan?

Blog ini beberapa waktu lalu baru saja diumumkan ke khalayak—haha, maaf sekarang sudah setahun lebih sedikit. Tidak ada yang baru sebenarnya, yah sekadar pengumuman terselubung di gubug lama. Itu saja. Postingan perdana di blog ini—setelah ‘Hello World’—justru bukan sebuah woro-woro tentang blog baru dan sejenisnya, saya malah sibuk membicarakan sebuah ruang.

Tulisan sebuah ruang, adalah pengingat, khususnya untuk saya pribadi. Tulisan itu, diilhami dari Leo Tolstoy pada buku ‘Tuhan Maha Tahu tapi Dia Menunggu’. Sebuah ruang, adalah hasil akhir yang didapatkan tuan tanah tamak, yang berkeinginan untuk mencari sebanyak mungkin lahan. Pada akhir perjalanannya, lahan istimewa dia temukan, bila saya tidak lupa, lahan tersebut bisa didapatkan secara gratis. Kepala suku pemilik lahan, membebaskan berapa pun luas lahan yang ingin dibeli. Waktunya satu hari dimulai saat matahari terbit sampai dengan terbenam. Tuan tanah itu, harus membentuk sebuah bidang. Bebas bentuknya, asal bisa membentuk sebuah polygon tertutup. Syarat yang lain, dalam melaksanakan tugasnya tuan tanah harus berjalan kaki.

Keinginan akan sejengkal tanah yang lebih luas, melebarkan sayap sampai pada jangkauan terjauh. Ternyata di lain pihak, lupa! Lupa pada kemampuan diri sendiri. Beberapa saat lagi matahari terbenam, bidang hampir terbentuk dan polygon akan segera menutup. Seribu sayang, nafas sudah tidak setia lagi pada tubuh, ditinggalkannya tubuh. Udara berhenti dihembus dan dihisap, telah bercampur dengan semesta udara. Nyawa lepas, dan tinggallah sebuah ruang yang akan ditempati selamanya. Tuan tanah meninggal, pada lahan idamannya, dipeluk tapi hanya dalam sebuah ruang. Tidak lebih lebar dari sebuah meja makan. Ironi.

Sebuah ruang, itulah yang mungkin juga saya butuhkan dalam ranah blogosphere ini. Sekadar menjadi media pembelajaran untuk setia. Terlalu banyak ketidaksetiaan saya pada segala sesuatu. Seorang penulis satu waktu dapat membuat saya mabuk kepayang. Di saat lain, ada penulis baru dan saya akan mudah berpaling ke lain hati. Hanyalah sebuah contoh kecil ketidaksetiaan saya.

Pada hari-hari tertentu, bersamaan dengan saya membuat sebuah tulisan dan memajangnya di blog ini, saya telah menyita beberapa saat waktu anda, sobat. Saat yang lain, ada pejalan yang tersesat dan singgah sebentar di sini. Sebisa mungkin, akan dijaga agar sebuah hidangan lezat dinikmati. Tentu dalam standar saya, koki yang masih belajar, dan maaf bila masih saja tidak membuat anda puas. Barangkali kita berbeda standar, hanyalah hal kecil, bukan?

Akhirnya, ternyata saya masih saja tidak setia. Ketidaksetiaan saya, berupa eksperimen cerita, gaya penulisan, dan tata bahasa. Sepertinya masih akan terus berubah seiring berjalannya waktu. Saya sedikit merindukan saat-saat awal penulisan, di mana bisa begitu detil menggambarkan sesuatu. Sekali waktu saya ingin kembali ke saat itu, tapi barangkali tidak pernah bisa, siapa yang tahu?

Marilah bersama belajar, sobat. Melewatkan waktu yang menua pada ruang-ruang yang menjaraki kita. Menjadi dewasa melalui kata-kata, cerita dan komentar.

Oya, ijinkan saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beberapa nama berikut :

  1. Baginda Caplang, sang penunggang badai. Beliau adalah marketing manager self hosted blog, rayuannya begitu jitu, sehingga saya terpikat untuk memiliki sebuah gubug kecil di pinggir dan tidak menumpang lagi. Jangan kaget bila satu ketika, beliau bertanya kepada Anda, “Kapan bikin domain pribadi?” :D
  2. Mas Iyan, tuan tanah di mana saya menyewa sekelumit lahannya untuk domain dan hosting blog ini.
  3. Tentu saja, sekali lagi Goenawan Rudy yang sudah membuat tampilan sederhana namun apik—menurut saya—di sini. Nah, Goen, kapan akan dibenahi itu genteng-genteng bocor dan pipa yang pecah? :D
  4. Yang lain-lain, akan saya sebut dalam hati.*

Demikianlah—halah—sekelumit harapan, keinginan dari blog ini. Semoga gairah dan perhatian selalu berada pada posisi yang seimbang.

*) ucapan terima kasih Goenawan Muhammad dalam buku ‘Setelah Revolusi Tak Ada Lagi’

Tags: , ,

13 Responses to “Tentang Baru (Sebuah Posting Tertunda)”

  1. qzink666 says:

    Tadinya pengen ngucapin selamat untuk setaunannya, tapi karena nama saya tak tertulis di situ, maka ucapan itu kutarik kembali..
    *ngambek*

    idihhh, udah punya orok kok masih ngambek, yee ngga maloee….wooooo :D

  2. *hari says:

    selamat siang paman,
    Saya juga sering tidak setia berkunjung dan sekadar nyampah lagi.. :lol:

    hihihi, tidak masalah, mas :D kan bukan sebuah kewajiban :D terima kasih sudah mampir-mampir di sini :D

  3. BobEcaEco says:

    Kesetiaan bisa satu atau bisa saja lebih dari satu, bisa juga buanyaaaakkk, Om. Mungkin yang terpenting adalah konsistensi pada masing-masing kesetiaan. Sometime, somewhere, some peoples gonna be like that.. *haiyah!*

    betul sekali, nah, masalahnya ketidakkesetiaan kan ketidakkonsistenan itu, ya? :roll:

  4. -tikabanget- says:

    aih, jadi sayah disebut sebut di hati paman goop?

    wohahaha tentu, bersama dengan yang lain-lain juga :D

  5. hedi says:

    ruang akan selalu ada maka tulisan di sini juga akan terus mengalir ;)

    sebentuk doa, maka saya akan mengaminkan, semoga memang begitu adanya, terima kasih, mas

  6. pandu says:

    berarti udah tua dong….
    hihihihihi

    maksudnya? apa yang sudah tua? :D

  7. Wah sudah lama tak berkunjung ke sini :D
    eh iya , teringat masa2 awal ngeblog, Paman Goop termasuk pengunjung awal blog saya yang lama , terimakasih paman :D

    sama-sama, dhiel :D btw, aku mencoba membuka blog yang baru ko susah, ya? :(

  8. Goen says:

    *tertrekbek*

    Jiahhh…..

    hehehe, :D

  9. Nazieb says:

    Ini ultah blog ya? Selamat kalau begitu Pakde..

    Semoga lekas bayar perpanjangan domain..
    *ngikik*

    bukan, ultahnya sudah lewat beberapa waktu yang lalu :D … eh, kok bisa tahu kalau masih hutang

  10. haris says:

    selamat ulang tahun, uncle goop. blog sederhana ini bagus sekali.

    terima kasih banyak :D

  11. edy says:

    jadi, kapan pindahan ke domain yg baru? :mrgreen:

    hayah, mesti…mesti….:P

  12. Adis says:

    Selamat….
    Makan-makan….
    haha..

    eh, terima kasih :D

  13. Dana Telco says:

    Selamat paman, saya belakangan ini juga tidak bisa setia karena lagi senang-sengangnya bereksperimen, sekalian nginglish.

    mumpung tidak haram ya, bang :D

Leave a Reply

hide totop